Pentingnya Membangun Ekosistem Bisnis Bagi Pelaku Startup Saat Pandemi

Kamis, 15 Oktober 2020 : 23.48
CEO PT Ultra Indoenesia Yustinus Agung Nugroho saat memberikan materi di FoodStarupIndonesia (FSI) di Nusa Dua,Badung/foto:Kabarnusa

Mangupura - CEO PT Ultra Indoenesia Yustinus Agung Nugroho mengingatkan para pelaku startup atau usaha rintisan untuk membangun ekosistem guna pengembangan bisnis ke depan.

Agung menyampaikan itu di hadapan 100 peserta terdiri dari para startup di Tanah Air dalam acara FoodStarupIndonesia (FSI) yang digelar Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif di Sofitel Nusa Dua Badung, Kamis 15 Oktober 2020.

Para peserta merupakan startup kuliner ini terpilih setelah melalui berbagai penilaian dan kali ini kegiatan dihelat di Bali setelah sebelumnya di Yogyarakta.

Agung, memaparkan data, akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini, telah membawa dampak serius terhadap kelangsungan usaha sekira 5,9 juta pengusaha kuliner di Tanah Air.

Jumlah itu, bisa lebih karena banyak juga pengusaha kuliner yang tidak terdata.

Artinya, jika pelaku Startup merasa tidak bisa berkembang bisnisnya, tidak masalah karena bukan hanya mereka saja yang mengalami namun cukup banyak pengusaha lainnya yang ditimpa masalah yang sama.

"Yang kedua, ekosistem, kalau pelaku startup merasa kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar, itu benar, tetapi ingat sejak duduk di bangku TK diajari, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, sehingga sesama pengusaha startup agar bersatu berkolaborasi," serunya.

Karena itu, ekosistem harus dikenali lebih dahulu. Setiap usaha apapun jenisnya, butuh apa yang dinamakan ekosistem. Untuk itu, pelaku startup jangan terlalu terjebak hanya duduk di belakang kompor atau produksi. Tetapi bagaimana memikirkan ekosistem.

Manager yang suskes itu, kata Agung adalah yang nganggur demikian juga owner yang sukses adalah yang nganggur. "Tetapi nganggurnya untuk memikirkan, jangan lupa bahwa kita punya bisnis, punya PR untuk membangun ekosistem," katanya menegaskan.

Jika terlalu sibuk hanya berkutat pada aspek produksi, distribusi hingga marketing lantas siapa yang akan mengurus ekosistem.

Dia melanjutkan, setelah memiliki jaringan, kenalan dan ekosistem lantas apa yang mesti disiapkan startup. Tak lain, memiliki mainset, sebagai orang yang terbuka dan selalu ingin maju.

"Intinya, kita punya niat tulus untuk bisa memberi impact atau dampak bagi orang lain," Agung menandaskan.

Agar bisa membangun ekosistem, kolaborasi dan melakukan impact sekecil apapun atau seluas apapun maka bisnis startup itu tidak bisa meninggalkan data driven atau menjadikan data sebagai referensi.

Dalam kesempatan sama, pembicara lainnya Direktur PT MBrio Tekindo Wida Winarno lebih banyak memotivasi peserta dan berbagi pengalaman bisnis seperti membangun usaha kuliner produk tempe.

Dalam startup diperlukan usaha terus menerus, berinovasi tak kenal lelah. Bagaimana produk yang dijual konsumen, benar-benar memberikan jaminan bagi pelanggan.

Wida mencontohkan produk tempe yang diolah secara hygienes dengan berbagai macam kreativtas olahan bisa memberikan nilai tambah. Dia juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi dengan startup lainnya sehingga memiki kekuatan lebih.

Diketahui, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggelar puncak Food Startup Indonesia (FSI) MMXX bagi 100 finalis.

Semua finalis FSI hadir pada acara puncak Demoday FSI di Bali, 12-15 Oktober 2020. Kegiatan puncak dilaksanakan Deputi Bidang Industri dan Investasi melalui Direktorat Akses Pembiayaan bekerjasama dengan Ultra Indonesia.

Pelaksanaan Demoday saat pandemi, merupakan tahapan yang dinantikan setelah berjuang sejak bulan April 2020. Pada tahap ini seluruh finalis mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Demoday seperti direct mentoring, business coaching, akses permodalan dan pemasaran.

Saat mentoring, FSI menghadirkan puluhan narasumber yang mempunyai expertise di bidang kuliner, bisnis serta ekosistemnya.

Beberapa mentor sebelumnya pelaku UMKM yang sudah sukses, seperti Sano Superfood (Eka Seafood Indonesia), Donny Wangke (Sano Superfood) dan Nilamsari (Sari Kreasi Boga). (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi