Nasib Pedagang Asongan Saat Pandemi, Seharian Berjualan Dapat Rp 5 Ribu

Jumat, 02 Oktober 2020 : 07.17
Nenek yang tinggal seorang diri ini, hanya bisa menghidupi dirinya sendiri dengan berjualan air minum dalam kemasan/foto: Veronica Octaviana.

Denpasar - Siap tak siap Sumarni nenek usia 65 tahun ini harus bisa menghadapi dampak pandemi COVID-19. Tak ada lagi yang bisa diperjuangkan selain menjual air minum dari pukul 06.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA di lapangan Renon, Denpasar, Bali.

Dia harus berjalan kaki lumayan jauh dari tempat tinggalnya Jl. Drupadi, ke Lapangan Renon untuk mencari penghidupan dengan berjualan ala kadarnya.

Sementara, keluarganya berada di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Karena terekendala biaya, dia tidak bisa pulang seperti saat keluarganya sedang sakitpun, terpaksa tidak bisa menemui.

Pedagang asongan ini mengaku hanya mendapatkan untung 5 ribu rupiah sehari. Dampak ekonomi yang dialaminya, memaksanya harus terusir, berpindah tempat tinggal dari satu kosan ke kosan lainnya lantaran Bu Mar tidak sanggup membayar sewa..

Nenek yang tinggal seorang diri ini, hanya bisa menghidupi dirinya sendiri dengan berjualan air minum dalam kemasan.

Kata dia, sebelum pandemi virus corona, masih lumayan enak. Dia masih bisa jualan di dalem lapangan dapetnya bisa sampai 60 ribu. Ya, lumayan masih banyak anak-anak main bola biasanya yang mau beli.

"Sekarang, saya duduk-duduk bareng dagang lumpia aja masih susah sekali. Orang tetep gamau beli. Lebih milih minum di rumah aja. Dari pagi sampe sore ini aja  saya cuman dapet 5 ribu”, katanya ditemui Kabarnusa, Kamis (1/10/2020).

Tak heran, dengan pendapatannya yang minim ini, terkadang ia hanya bisa makan sehari sekali. Lapangan Renon yang biasa dikunjungi masyarakat untuk beraktivitas, berolahraga, kini sepi sebab setelah dipasang garis polisi, saat merebaknya pandemi Covid-19.

Kondisi itu, tentu saja membuat Bu Mar, sapaannya dan pedagang asongan lainnya keluar dari lapangan dan hanya mendapatkan sedikit pembeli.

Pedagang asongan yang biasanya berjualan di dalam pun tak mendapatkan izin berjualan di dalam lapangan, sehingga terpaksa berjualan di pinggiran jalan lapangan Renon.

Nenek ini mengaku, hanya bisa bersyukur dan menjalani apa adanya untuk bertahan hidup seorang diri jauh dari keluarga di tanah rantau. (ver)

Bagikan Artikel

Rekomendasi