Masjid Sudirman Tunda Pengajian dan Terapkan Prokes Ketat Saat Pandemi

Selasa, 27 Oktober 2020 : 11.54
Jamaah melaksanakan ibadah salat di Masjid Agung Sudirman, Denpasar/Kabarnusa

Denpasar - Masa pandemi Covid-19 belum juga berlalu namun aktivitas masyarakat seperti beribadah juga tidak boleh berhenti karena virus ini. Disiplin protokol kesehatan adalah kunci dalam pengendalian Covid-19 sebagaimana secara konsisten diterapkan pengurus Masjid Agung Sudirman, Denpasar.

Berada di kawasan perkotaan yang masyarakatnya heterogen, tentu aktivitas jamaah Masjid Sudirman, senantiasa mematuhi semua aturan dan ketentuan yang ditetapkan.

Dalam menyikapi pandemi, langkah-langkah pengurus berusaha memenuhi protokol kesehatan yang ditetetapkan pemerintah maupun Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali dan Kodam IX/Udayana.

"Mengingat masjid ini, miliknya Kodam, tentunya, kami sebagai pengurus harus taat dan patuh terhadap aturan yang ditetapkan," tegas Letnan Satu Purnomo, pengurus Masjid Agung Sudirman ditemui awal pekan ini.

Sesuai arahan, pihaknya menyampaikan ketentuan yang harus dipatuhi jamah yang akan beribadah di masjid. Pihaknya terus mendisiplinkan jamaah dengan prokes dan disiplin 3M yakni memakai masker, mencuci tangan dengan air bersih dan menjaga jarak dari kerumunan.

"Saat masuk masjid, wajib mamakai masker, harus sudah membawa alas sajadah dari rumah, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer yang kami siapkan," ungkap pria dari kesatuan Detasemen Markas (Denma) ini.

Kemudian, jamaah mengatur jarak saat salat, tidak berjabat tangan usai melaksanakan ibadah salat.

Bagi jamaah salat fardhu dan jumat, tetap dilaksanakan prokes ketat. Mereka yang diperkenankan masuk yang sudah memenuhi syarat prokes yakni memakai masker, mencuci tangan yang disiapkan seperti hand sanitizer.

"Semua jamaah menjalani pengecekan suhu tubuh, jika memang suhu tubuhnya memenuhi standar yang ditetapkan Satgas Covid-19 tentunya diperkanankan masuk, demikian sebaliknya.

Jika ada yang tidak memenuhi standar yang ditetapkan maka diberikan arahan, agar menyadari bahwa saat ini sudah harus mematuhi prokses yang ditetapkan Kodam dan MUI.

"Itulah, beberapa kreteria yang harus dipatuhi seluruh jamaah demi terciptanya kenyamanan dan ketertiban bersama khususnya dalam pencegahan Covid-19," Purnomo menegaskan.

Demikian juga, usai melaksanakan salat lima waktu atau salat jumat, jamaah tidak diperkanankan berkumpul guna memutus mata rantai Covid-19.

Langkah lainnya, untuk sementara waktu, semua kegiatan keagamaan ditiadakan atau ditunda oleh pengurus masjid dalam menyikapi pandemik Covid-19.

Kemudian, apabila, kapasitas masjid sudah terpenuhi shaf jamaahnya, sekitar 1200 jamaah maka masjid akan ditutup.

Diketahui, masjid ini mampu menampung 1.100 jamaah terdiri jamaah yang berada di masjid sekira 800 orang ditambah tambahan di sekitar halaman masjid atau di bawah tenda sekitar 200-300 an jamaah.

Pengurus juga membatasi kendaraan yang boleh masuk di sekitar masjid khusus bagi yang akan melaksanakan salat lima waktu. Saat Salat Jumat, semua kendaraan diparkir di luar masjid.

Semua itu, lanjut Purnomo demi menjaga ketertiban dan kenyamanan bagi jamaah serta untuk mengurangi kerumunan jamaah lebih banyak sehingga bisa terhindar dari Covid-19.

Selama ini, respon masyarakat atas kebijakan dan aturan pengurus cukup positif. Mereka menyadari pentingnya mematuhi prokes karena saat ini masuk pandemi nasional.

Bersama pengurus lainnya, Purnomo terus mengajak masyarakat dan jamaah masjid untuk melaksanakan ketentuan pemerintah dan MUI sebab hal ini harus dipatuhi bersama.

Untuk sementara waktu, kegiatan keagamaan masih dibatasi, belum diizinkan karena untuk mengurangi wabah corona dan hal itu itu disampaikan dengan hati-hati kepada masyarakat.

Mengingat, Masjid Agung Sudirman menjadi tolak ukur bagi masjid lainnya di Bali sehingga semua harus tertib termasuk dalam menghadapi wabah corona. Harapannya agar pandemi ini bisa segera berlalu.

Himbauan itu juga disampaikan melalui media lain seperti poster, panflet untuk memakai masker yang benar sesuai ketentuan pemerintah. Apalagi, masjid sebagai tempat ibadah sebagai kawasan wajib masker.

Apa yang menjadi ketentuan itu disambut positif oleh jamaah seperti disampaikan Sulkan, yang sering melaksanakan Salat Zuhur dan Asar di Masjid Sudirman.

"Saya kira, himbauan dan penerapan prokes di Masjid Sudirman, cukup bagus memberikan kenyamanan dan kepastian bahwa yang masuk masjid dalam kondisi sehat," ujar pria asal Lamongan Jawa Timur.

Dengan mematuhi prokes dan disiplin 3M, tentunya bisa memutus mata rantai penyebaran Covid-19 sehingga tidak memunculkan klaster baru di tempat ibadah.

Sulkan yang biasanya saat kondisi normal, berkumpul dengan teman-temannya usai salat, kini menyadari dengan memilih tidak terlalu lama beristirahat dan meninggalkan masjid untuk kembali bekerja atau pulang setelah jam kantor. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi