KKP Kenalkan Diversifikasi Olahan Lele dan Alat Pancing Cumi

Jumat, 02 Oktober 2020 : 21.55

Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengenalkan diversifikasi olahan ikan lele dan alat pancing cumi guna mendorong produksi komoditas kelautan dan perikanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Tegal menyelenggarakan pelatihan diversifikasi olahan ikan lele bagi 50 pengolah ikan di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 1-2 Oktober 2020.

Pada saat bersamaan, BPPP Banyuwangi turut menyelenggarakan pelatihan membuat alat pancing cumi secara daring yang diikuti oleh 175 masyarakat dari 26 provinsi di seluruh Indonesia.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja menyebutkam, konsumsi ikan Indonesia mencapai 51 kg/orang/tahun.

Artinya, diperlukan sekitar 13 juta ton ikan/tahun untuk memenuhi asupan protein sekitar 260 juta masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, berbagai pelatihan ini diharapkan dapat membantu membangun ketahanan pangan dari unit-unit terkecil di tengah masyarakat.

“Kita mulai dari diri sendiri, kita mulai dari keluarga. Apa yang kita lakukan hari ini sebenarnya adalah membangun ketahanan pangan,” ujarnya dalam rilis Jumat (2/10/2020).

Dalam pelatihan diversifikasi olahan ikan lele, para peserta dilatih untuk membuat beragam olahan menarik. Beberapa di antaranya keripik rambak kulit ikan lele, kerupuk tulang ikan lele, nugget, dan abon.

Sjarief mengungkapkan, olahan menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperpanjang masa penyimpanan ikan. Jika ikan segar hanya tahan disimpan selama sekitar 6 jam, produk olahan ikan bisa tahan hingga beberapa bulan.

Meskipun begitu, ia mengingatkan para peserta untuk tetap memastikan kesegaran dan kebersihan ikan dalam proses produksi. Ia juga mendorong agar para peserta mengembangkan produksinya untuk dipasarkan ke tetangga. Bahkan, produk-produk ini dapat dijadikan souvenir bagi tamu-tamu Blora.

Dengan begitu, desa-desa setempat bisa menjadi penghasil kerupuk rambak lele yang khas. Selain itu juga memberikan tambahan ekonomi untuk masyarakat.

“Ini kesempatan yang baik. Di era pandemi ini, hampir semua berhenti memproduksi sehingga kita kekurangan barang sehingga kalau produk kita masuk pasti dicari. Saya harap pelatihan ini bisa memunculkan jawara-jawara baru,” pungkasnya.

Sejalan dengan itu, ia memastikan bahwa para peserta turut dibekali dengan pengetahuan untuk melakukan pengemasan dan pemasaran dalam pelatihan ini.

Sjarief menyatakan bahwa pihaknya akan memberikan pelatihan lanjutan tentang budidaya lele kepada masyarakat untuk memastikan keberlanjutan produksi olahannya.

Disebutkan, lele merupakan salah satu ikan yang memiliki ketahanan tinggi terhadap berbagai cuaca dan kondisi sehingga akan mudah dibudidayakan oleh masyarakat Blora.

Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut, Pamuji Lestari, berharap agar pelatihan ini membantu meningkatkan budaya makan ikan di tengah masyarakat.

Pasalnya, ia menilai bahwa saat ini makan ikan belum menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka stunting di Indonesia.

“KKP sedang giat-giatnya mengampanyekan makan ikan. Gizinya luar biasa, omega 3-nya juga luar biasa. Kami berharap, olahan ikan ini bisa meningkatkan angka konsumsi ikan di Blora,” ucapnya.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blora, Gundala menyebut bahwa angka konsumsi ikan di Blora masih cukup rendah yaitu sekitar 27,8 kg/kapita/tahun, sangat jauh dari konsumsi ikan nasional.

Hal ini dikarenakan posisi Blora yang jauh dari laut sehingga masyarakatnya pun jauh dari ikan.

“Kadang yang paling bagus adalah ikan ayam karena Blora ini paling terkenal dengan sate Blora-nya. Dengan pelatihan ini, semoga nanti akan berkembang sate ikan. Dengan demikian, konsumsi ikan itu sendiri akan meningkat,” pungkasnya. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi