Keterbatasan Tempat, Masjid Nurul At Qiya Laksanakan Salat Jumat dengan Prokes Ketat

Jumat, 30 Oktober 2020 : 19.14
Himbauan prokes di pintu serambi Masjid Nurul At Qiya di Plosokuning, Minomartani, Kecamatan. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, wajib memakai masker saat memasuki masjid/ Agus Nugroho Purwanto.

Yogyakarta - Pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Nurul At Qiya menjadi contoh dalam penerapan 3M untuk pencegahan penyebaran virus corona atau Covid-19.

Sebagaimana dapat dilihat di pintu serambi masjid beralamat di Plosokuning, Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, adanya himbauan wajib memakai masker saat memasuki masjid. Hal ini terbukti dengan banyaknya jamaah yang memakai masker pada saat sholat Jumat.

Tidak hanya itu, handsanitizer juga disediakan pengurus Masjid Nurul At Qiya untuk dapat digunakan para jamaah. Kemudian, adanya tanda yang terdapat di lantai masjid berfungsi untuk menjaga jarak atau shaff antar jamaah.

Meskipun dengan kondisi jamaah yang ramai dan kapasitas ruangan masjid penuh, para jamaah yang berada diluar masjid pun tetap menjalankan prokes ini dengan baik. Sehingga terdapat jarak antar jamaah satu dengan yang lain dalam menunaikan sholat Jumat.

"Untuk jamaah kami sediakan sabun cuci tangan cair yang dapat digunakan sebelum berwudhu," ungkap Takmir Masjid Nurul At Qiya , Abdullah, Jumat (30/10/2020).

Hal ini tentu saja sesuai dengan prokes 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir dan menjaga jarak dari kerumunan. Melihat suasana solat Jumat di Masjid Nurul At Qiya ini, mengurangi rasa kekhawatiran untuk tetap melakukan ibadah di masa pandemi covid 19.

Adanya protokol kesehatan yang baik dan kesadaran para jamaah dalam rangka memutus rantai virus corona, layak diapresiasi. Sudah menjadi kebiasaan bagi jamaah atau individu yang bersedia menyediakan takjil berupa makanan dan minuman, ditempat serambi dan tangga masjid.

Dari pantauan, meskipun antusias para jamaah tinggi, namun prokes tetap terjaga dengan adanya jarak antrian, sehingga tidak terjadi kerumunan dalam pengambilan takjil.

"Semoga kondisi seperti ini dapat selalu terjaga dan dapat diterapkan oleh masjid di wilayah kita masing masing," imbuh Abdullah. Hal positif ini dapat dimulai dari kesadaran diri dan dapat dibuat contoh baik kepada masyarakat luas.

Meski virus corona masih mengintai di sekitar kita, tak menjadi halangan untuk kita dalam menunaikan ibadah, namun tetap dengan menerapkan protokol kesehatan (3M) yang telah berlaku. (anp)

Bagikan Artikel

Rekomendasi