Kesiapan Individu dan Komunitas Terhadap Multibahaya di Tengah Pandemi Covid-19

Rabu, 14 Oktober 2020 : 11.59
Diskusi internasional menjadi bagian dari rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang diselenggarakan pada tahun 2020 ini.

Jakarta - Manajer Program WHO South East Asia Regional Office Nilesh Buddha menyampaikan peningkatan kapasitas individu dan komunitas melalui pemberdayaan masyarakat serta pendidikan tentang bahaya, seperti informasi mengenai Covid-19 pada diskusi internasional secara virtual, Senin (12/10/2020).

Diskusi internasional menjadi bagian dari rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang diselenggarakan pada tahun 2020 ini. Topik yang diangkat mengenai pendekatan terhadap potensi multibahaya di tengah pandemi Covid-19.

Topik tersebut menjadi isu bersama tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia karena penyebaran virus SARS-CoV-2 masih terus menginfeksi sejumlah populasi di dunia.

Di saat yang sama potensi bahaya geologi dan hidrometeorologi dapat saja terjadi sehingga masyarakat menjadi lebih rentan terhadap ancaman bahaya tersebut.

Penyebaran Covid-19 dengan sangat mudah dapat menjadikan kerentanan yang lebih tinggi pada saat suatu populasi terdampak bencana.

Oleh karena itu, protokol untuk manajemen krisis Covid-19 dan bencana alam menjadi upaya yang harus dipastikan, seperti menjaga jarak, pemeriksaan suhu tubuh, pembuatan database pelacakan penyintas atau pengujian setelah evakuasi.

Belajar dari pengalaman Filipina, Peneliti dari Universitas De La Salle Marlon de Luna Era mengatakan bahwa konteks di negaranya, kurangnya tempat evakuasi akan berdampak pada kesiapsiagaandan dan response di masa depan.

Di sisi lain, peringatan dini sangat dibutuhkan dalam menyikapi kondisi yang dapat menuju kerentanan tinggi, khususnya dengan adanya Covid-19. Peringatan dini tersebut dibutuhkan untuk masyarakat dalam mempersiapkan diri dalam melakukan evakuasi.

Terkait dengan isu global pandemi Covid-19, pendekatan holistik dibutuhkan yang terintegrasi dalam siklus dan setiap fase penangulangan bencana.

Sedangkan perwakilan dari Badan PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana wilayah Asia-Pasifik Animesh Kumar, risiko dapat terjadi secara simultan atau saling berkaitan.

Sementara itu, beberapa narasumber menekankan pada tata kelola pengurangan risiko bencana dengan pelibatan berbagai pihak, seperti berkoordinasi dan dukungan ilmu pengetahuan.

Pelibatan pihak tersebut baik dilakukan di tingkat lokal, nasional, regional hingga internasional.

Dalam konteks Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selalu mendorong keterlibatan dan sinergi pentaheliks dalam menghadapi bencana.

Pentaheliks tersebut terdiri atas pemerintah, akademisi atau pakar, lembaga usaha, masyarakat dan media massa. (lif)

Bagikan Artikel

Rekomendasi