Industri Keuangan Non-Bank di Bali Alami Perlambatan Pertumbuhan

Minggu, 04 Oktober 2020 : 22.50
Plh Kepala OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara Ananda R. Mooy/ist

Denpasar - Industri Keuangan Non Bank di Bali terjadi perlambatan pertumbuhan piutang pembiayaan baik di Perusahaan Pembiayaan dan Modal Ventura berturut-turut yakni sebesar -6,45% dan -10,69%.

Plh Kepala OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara Ananda R. Mooy menegaskan, saat pandemi Covid-19, stabilitas Sektor keuangan masih terjaga.

Disebutkan, intermediasi industri perbankan nasional pada Agustus 2020 tercatat masih mampu tumbuh positif sebesar 1,04% yoy untuk Bank Umum dan 16,38% untuk BPR. Tentu capaian ini merupakan hal yang cukup mengesankan di tengah pandemi Covid-19 yang masih menggelayuti perekonomian nasional.

Sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) mampu tumbuh di level tinggi sebesar 11,64% yoy untuk Bank Umum dan 14,76% yoy untuk BPR. Profil risiko lembaga jasa keuangan nasional pada Agustus 2020 masih terjaga pada level yang manageable dengan rasio NPL gross tercatat stabil sebesar 3,22% pada Bank Umum dan 8,36% pada BPR.

"Untuk Provinsi Bali sendiri, di tengah situasi pandemi ini, kinerja perbankan baik Bank Umum maupun BPR periode Agustus 2020 masih dalam kondisi yang sehat dan kondusif," ungkapnya dalam siaran pers Minggu (4/10/2020).

Penghimpunan DPK seperti giro, tabungan dan deposito meningkat selama 3 bulan terakhir ini yaitu menjadi sebesar Rp110,48 triliun walaupun mengalami perlambatan pertumbuhan dibanding Agustus 2019 yaitu -2,12% yoy.

Adapun penyaluran kredit kepada masyarakat tumbuh 1,52% yoy menjadi Rp92,36 triliun. Untuk industri BPR sendiri mengalami pertumbuhan kredit sebesar 1,44% yoy.

Secara umum, kredit konsumsi masih mendominasi penyaluran kredit di Bali dengan share sebesar 38,41% disusul dengan kredit kepada sektor perdagangan besar dan eceran dengan share sebesar 28,73%.

Untuk Loan to Deposit Ratio (LDR) Provinsi Bali masih dalam batas wajar yaitu sebesar 83,60%. Hal yang patut disyukuri juga yaitu angka kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) terus mengalami penurunan sejak posisi puncaknya pada bulan April tahun ini.

NPL Perbankan di Bali periode Agustus 2020 sebesar 3,55%, dengan NPL Bank Umum sebesar 2,89% dan BPR sebesar 8,22%. Diharapkan kinerja perbankan Provinsi Bali baik Bank Umum maupun BPR periode selanjutnya juga tetap sehat dan kondusif.

Selanjutnya, untuk Industri Pasar Modal di Bali periode Agustus 2020 juga cukup menggembirakan dengan pertumbuhan investor saham dan investor reksa dana berturut-turut sebesar 41,30% yoy dan 83,34% yoy.

Namun demikian, dari sisi Industri Keuangan Non Bank di Bali terjadi perlambatan pertumbuhan piutang pembiayaan di Perusahaan Pembiayaan dan Modal Ventura berturut-turut sebesar -6,45% dan -10,69%.

"Sedangkan untuk investasi di Dana Pensiun mengalami pertumbuhan sebesar 3,44% yoy," sebutnya.

Dalam upaya memitigasi dampak pelemahan ekonomi dan menjaga ruang untuk peran intermediasi sektor jasa keuangan, OJK kembali mengeluarkan kebijakan lanjutan dengan merelaksasi ketentuan di sektor perbankan untuk lebih memberikan ruang likuditas.

Juga, permodalan perbankan sehingga stabilitas sektor keuangan tetap terjaga di tengah pelemahan ekonomi sebagai dampak pandemi Covid–19. OJK senantiasa memantau perkembangan pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian global dan domestik.

OJK juga akan terus menyiapkan berbagai kebijakan sesuai kewenangannya menjaga stabilitas industri jasa keuangan, melindungi konsumen sektor jasa keuangan serta mendorong pembangunan ekonomi nasional. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi