45 Perupa Muda Ramaikan Pameran Bali Megarupa di Museum Arma

Selasa, 27 Oktober 2020 : 09.04
Salah satu karya peserta yang dipamerkan di Museum Arma Ubud/ist

Denpasar - 45 perupa muda akan meramaikan pameran Bali Megarupa II 2020, 28 Oktober-10 November 2020 di Museum Arma Ubud Gianyar. Kegiatan digelar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali juga 1 komunitas mural, menampilkan 43 karya seni rupa.

Gubernur Bali Wayan Koster dijadwalkan membuka pameran pada Rabu 28 Oktober 2020. Pembukaan diisi performing art Candika Jiwa: Melampaui Warna dan Rupa, sebuah kolaborasi gerak, suara, rupa, warna dan multimedia dari Sanggar Bumi Bajra Sandhi dengan koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Kun Adnyana mengatakan Bali Megarupa merupakan rangkaian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) II 2020.

“Pameran kali ini dikuti perupa muda usia maksimal 30 tahun yang cukup menjanjikan dari segi kualitas kekaryaan, berpijak pada konsep eksplorasi, eksperimentasi, lintas batas, kontekstual, dan kolaborasi,” katanya, Senin (26/10/2020).

Para para perupa yang berpameran diantaranya: Anak Agung Istri Ratih Aptiwidyari; Vania Evangeline Wibawa;Ni Kadek Novi Sumariani; Ni Luh Gede Widiyani dan Ni Wayan Penawati.

Menurut Adnyana pameran ini menyuguhkan kreativitas seni inovatif, modern, dan kontemporer untuk mendorong kegairahan generasi penerus dalam berkesenian.

"Program kali ini menghadirkan perupa muda dengan harapan menjadi ladang persemaian untuk menumbuhkan para kreator hebat di bidang seni rupa modern dan kontemporer," jelasnya.

Bali Megarupa 2020 merujuk tematik Candika Jiwa: Melampaui Medium, Ruang, dan Waktu.

Tema ini mengedepankan kesadaran bahwa pandemi adalah momentum bagi para seniman untuk menggali berbagai kemungkinan penciptaan yang lintas batas, melampaui medium, ruang, dan waktu, sebagaimana keniscayaan era digitalisasi.

Adnyana menjelaskan festival dan pameran disajikan secara luring (offline) dan daring (online) yang dimaksudkan sebagai transformasi sosial bagi masyarakat Bali.

“Alih pengetahuan dan keterampilan yakni terkait proses persiapan dan produksi suatu sajian karya secara virtual, termasuk bagaimana cara publik menikmati melalui dunia maya,” ujarnya.

Ketua panitia Bali Megarupa Made Kaek Dharma Susila mengatakan kegiatan ini merupakan bukti bahwa pemerintah hadir, bukan hanya memenuhi panggilan mengayomi masyarakat, akan tetapi berketetapan dan berupaya menjaga elan kreatif serta optimisme di tengah rundungan pandemi yang menyebarkan kecemasan ke segenap lapisan sosial.

“Bali Megarupa 2020 bukan pameran seni rupa semata, tetapi juga sebuah ikhtiar meneguhkan temali batin persaudaraan dan semangat kebersamaan untuk menghadapi dan melampaui pandemi,” katanya.

Karya yang ditampilkan berupa lukisan dua dimensi, tiga dimensi (patung, instalasi), serta video art dan seni mural, ditampilkan secara luring, juga melalui daring (galeri virtual).

Seluruh karya peserta, baik melalui usulan maupun open call yang kemudian ditetapkan oleh kurator dengan mempertimbangkan capaian stilistik, estetik, serta khususnya kreativitas dalam merespons tematik. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi