KKP Kembangkan Teknologi Pembenihan Rajungan yang Aplikatif Bagi Masyarakat

Selasa, 01 September 2020 : 11.55

Perekayasa Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Eddy Nurcahyono , teknologi pembenihan rajungan ini telah dikembangkan melalui diseminasi dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat sehingga akan ada efek ekonominya bagi masyarakat yang tinggal disekitar pesisir./ist

Jakarta
-  Perekayasa Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Eddy Nurcahyono berhasil mengembangkan teknologi pembenihan rajungan yang aplikatif bagi masyarakat.

Dia  berharap kedepannya satu per satu tantangan pengembangan budidaya rajungan dapat diselesaikan, seperti belum adanya penetapan kawasan budidaya rajungan, sistem penyediaan benih dari unit perbenihan belum memadai, adanya keterbatasan informasi dan pencatatan pada perikanan skala kecil.

“Strategi kami dalam pengembangan budidaya rajungan, pertama sosialisasi dan adopsi teknologi budidaya. Kedua, kita akan lakukan stock assesment, stock enhancement dan Pengelolaan Perikanan Berbasis Budidaya”, jelas Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto.

Selain itu, ketiga penetapan kawasan kluser budidaya rajungan dan kawasan suaka induk rajungan melalui restocking. Keempat, revitalisasi dan model perbenihan rajungan, model pengembangan budidaya, selanjutnya kelima melalui diseminasi budidaya oleh UPT sekaligus kontroling, monev dan evaluasi.

“Untuk itu, kita akan terus bekerjasama dengan Badan Riset dan SDM KKP, perguruan tinggi, asosiasi dan swasta untuk benar-benar mewujudkan budidaya rajungan yang berkelanjutan”, tutup Slamet.

Eddy memamparkan tahapan pembenihan rajungan yang diawali dengan persiapan sarana dan prasarana serta sterilisasi sumber air.

Dilanjutkan dengan tahap pemilihan induk, pemeliharaan larva, setelah itu pemeliharaan Zoea dan Megalopa, kemudian pemeliharaan Crablet serta pendederan.

“Untuk tahap pembesaran masih ketergantungan ketersediaan pakan segar karena pabrik pakan skala rumah tangga masih belum berkembangan dengan baik”, sebut Eddy.

Lanjut Eddy, teknologi pembenihan rajungan ini telah dikembangkan melalui diseminasi dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat sehingga akan ada efek ekonominya bagi masyarakat yang tinggal disekitar pesisir.

“Saat ini pengembangan skala industri masih diperlukan kajian lanjutan untuk memperoleh teknologi pendederan skala industri yang efektif, efisien dan profitable”, tambah Eddy.

Hawis Madduppa, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI) juga mengatakan rangkaian pelaksanaan program perbaikan perikanan dalam mendukung program pengembangan perikanan (FIP) rajungan berkelanjutan salah satunya dengan pengembalian stok di alam (restocking).

Selain itu, dalam rangka mendukung pengembalian rajungan kecil dan/atau rajungan bertelur ke laut setelah tertangkap, APRI melakukan suatu gerakan yang dinamakan Gerakan Tangkap Kembalikan Sebelum 5 Menit (GTK5).

Gerakan ini dimaksudkan agar nelayan dapat menerapkan pengembalian rajungan kecil dan/atau bertelur dengan jangka waktu kurang dari 5 menit setelah penangkapan.

Hal ini untuk mengurangi resiko kematian rajungan dan untuk perikanan rajungan berkelanjutan dalam rangka upaya untuk kelestarian dan keberlanjutan perikanan rajungan di Indonesia.

Untuk diketahui, lokasi percontohan dan diseminasi pembenihan rajungan oleh UPT Ditjen Perikanan Budidaya, diantaranya di Takalar, Maros, Pangkep, Barru serta UPTD milik pemerintah daerah dan diseminasi budidaya di sentra-sentra penghasil rajungan seperti di Kalimantan Timur.(lif)


Bagikan Artikel

Rekomendasi