KKP Kembangkan Sentra Kawasan Budidaya dengan Sistem Logistik Benih Mandiri

Selasa, 22 September 2020 : 08.22

Jakarta - Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP) terus berinovasi salah satunya sosialisasi tematik melalui SMS Blast untuk informasi kegiatan prioritas BPBL Batam, Sistem Informasi Manajemen Pelayanan Robotik (SIMAPRO) untuk memberikan kemudahan akses pelayanan bantuan benih serta pengembangan sentra kawasan budidaya dengan sistem logistik benih yang mandiri (SEKAWAN LOGIK).

Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam merupakan salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang terus melaksanakan arahan Presiden melalui inovasi untuk peningkatan kualitas pelayanan publik dan kinerja instansi.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto mengatakan inovasi teknologi informasi merupakan suatu keharusan dalam meningkatkan produksi perikanan budidaya yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Inovasi teknologi informasi yang telah dibangun BPBL Batam tentu ini luar biasa. Karena dengan pemanfaatan teknologi informasi dalam pengembangan perikanan budidaya secara otomatis akan menarik minat lebih banyak pelaku usaha untuk bergelut dalam bidang usaha ini.

Slamet menambahkan saat ini ketersediaan benih unggul yang bermutu dengan harga yang terjangkau menjadi salah satu hambatan dalam pengembangan akuakultur di Indonesia.

Melalui SEKAWAN LOGIK yang dikembangkan BPBL Batam harapannya dapat terus terpenuhinya ketersediaan benih unggul dan bermutu bagi masyarakat pembudidaya ikan di sentra-sentra produksi dengan harga yang terjangkau serta dapat mengatasi masalah mahalnya transaction cost karena jauhnya lokasi sentra pembenihan dengan lokasi produksi pembesaran.

Kata dia, inovasi SEKAWAN LOGIK merupakan salah satu solusi dalam mengefisienkan rantai pasok ketersediaan benih ikan yang akan berimbas pada ketersediaan benih secara berkelanjutan, harga benih ikan yang lebih terjangkau serta terciptanya segmen usaha baru.

"Harapannya melalui inovasi ini, BPBL Batam mampu mendorong terciptanya sistem logistik benih yang efektif dan efisien”, tegas Slamet dalam keterangan tertulis, Senin (21/6/2020).

Pihaknya mengapreasiasi program inovasi layanan keterbukaan informasi publik BPBL Batam, seperti SIMAPRO yang diharapkan bisa terus berjalan memberikan kemudahan akses pelayanan bantuan benih.

Dikatakan, inovasi layanan publik ini mempermudah kelompok pembudidaya ikan yang ingin mengajukan permohonan bantuan hanya melalui aplikasi whatsapp yang saat ini merupakan aplikasi paling populer di kalangan masyarakat.

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai, BPBL Batam telah siap memberikan pelayanan publik kepada pembudidaya kecil dengan segala kemudahan informasinya, sehingga stimulus bantuan program prioritas dapat terus digulirkan dalam rangka menguatkan ekonomi pembudidaya ikan agar usaha budidayanya tetap berjalan dengan produktivitas yang baik.

Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Batam, Toha Tusihadi mengatakan dengan SEKAWAN LOGIK akan terbentuk pola segmentasi usaha untuk mendorong terbentuknya sentra kawasan budidaya laut yang mandiri.

“Mengapa dibangun SEKAWAN LOGIK? Karena wilayah kerja BPBL Batam yang luas tidak mungkin dijangkau dengan metode pelayanan yang konvensional. Selain itu, permasalahan utama pembudidaya ikan laut di daerah terpencil dan pinggiran adalah sulitnya mendapatkan benih serta disparitas harga benih ikan yang luar biasa besar”, jelas Toha.

Program SEKAWAN LOGIK pada Tahun 2020, pembudidaya di Kabupaten Kepulauan Meranti mendapatkan benih dari luar provinsi lain.

Sulitnya jalur transportasi sering menyebabkan kerugian besar akibat kematian massal benih selama transportasi, bahkan pada kondisi yang ekstrim kelulushidupannya hanya mencapai 2-5 % saja.

Konsep SEKAWAN LOGIK ini dilaksanakan untuk pertama kalinya pada Tahun 2017 di Aceh Utara sebagai sentra produksi benih yang mampu mensuplai kebutuhan benih ikan ke Sabang, Aceh Selatan, Aceh Tamiang dan Aceh Utara sendiri. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi