Menyampaikan Informasi Melalui Bahasa Isyarat Saat Pandemi COVID-19

Sabtu, 08 Agustus 2020 : 19.53

Menyampaikan Informasi Penyandang Disabilitas Dengan Melalui Bahasa Isyarat./ist
 Jakarta- Pada masa pandemi ini,seluruh masyarakat mengakses informasi dari berbagai platform akan tetapi penyandang disabilitas sering kurang mendapatkan informasi soal namun juru bahasa isyarat, Laura Lesmana Wijaya selaku Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia mengatakan pemerintah mulai sadar akan perlunya pemenuhan informasi terhadap penyandang tuli.

“Saya berpikir sebenarnya kendala yang dihadapi orang dengar dan tuli itu sama, yang membedakan adalah masalah pada pemberian akses komunikasi itu sendiri,” tambah Laura saat berdialog melalui ruang digital di Media Center Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Jakarta, Sabtu, (8/8/2020).

Untuk membantu penyandang tuli di masa pandemi COVID-19 ini,pertama yang perlu dilakukan adalah seluruh masyarakat harus memiliki kemauan untuk mempelajari bahasa isyarat.

Hal ini dikarenakan penyandang tuli hanya akan mendapatkan informasi apabila terdapat akses komunikasi berupa juru bahasa isyarat.

Pada kasus pemberian bantuan sosial, sebagian penyandang tuli telah mendaftarkan dirinya ke Kementerian Sosial dan mendapatkan bantuan tersebut,namun sebagiannya lagi tidak memberikan data yang lengkap, sehingga bantuan tidak dapat diberikan.

“Sebelum mendaftar, tentu (penyandang) tuli itu perlu mendapatkan informasinya dulu, bagaimana caranya mendaftar. Supaya dia tahu caranya mendaftar ke kementerian terkait, tentu harus ada akses informasi yang diberikan yang sesuai dengan kebutuhan,” jelas Laura.

Selanjutnya dari pandemi COVID-19 mempunyai dampak positifnya adalah pemerintah dan masyarakat kini mulai memberikan perhatian lebih kepada penyandang tuli dengan menyediakan layanan juru bahasa isyarat, seperti yang dilakukan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 dalam konferensi pers.

namun ada dampak negatifnya bagi anak-anak penyandang tuli yang masih bersekolah,kemudian anak-anak penyandang tuli pun diarahkan untuk tetap berada di rumah.

“Sedangkan komunikasi dengan orang tua mereka tidak bisa dilakukan secara maksimal. Karena biasanya orang tua mereka adalah orang tua yang bisa mendengar dan belum sepenuhnya tahu cara berkomunikasi dengan anak mereka, sehingga anak (penyandang) tuli pun tidak merasakan adanya kenyamanan,” imbuhnya mengenai dampak negatif bagi anak penyandang tuli.

Laura menerangkan bahwa proses mempelajari bahasa isyarat harus dilakukan secara terus-menerus,maka orang tua penyangdang tuli dapat mempelajari bahasa isyarat dengan mengikuti kelas bahasa isyarat dan mempraktekkan di rumah dengan anak secara rutin.

Laura berharap penyediaan layanan juru bahasa isyarat tidak hanya diberikan di masa pandemi COVID-19 saja, melainkan dilakukan secara berkelanjutan untuk ke depannya.(lif)

Link Video “Pandemi: Bagaimana Dengan Teman Tuli?” : https://youtu.be/KKJlpFxpD18

Bagikan Artikel

Rekomendasi