KKP Optimis Manfaatkan Sains dan Inovasi MInimalkan Dampak Covid-19

Kamis, 27 Agustus 2020 : 13.05

Di tengah kondisi Pandemi, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) optimistis pemanfaatan sains dan inovasi bisa meminimalisir dampak yang diakibatkan oleh pandemi. Terlebih sektor perikanan merupakan sektor yang sedikit terdampak Covid-19.

 

Jakarta - Pandemi Covid-19 menyebabkan persoalan serius di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tak hanya pada sisi kesehatan, tapi juga ekonomi dan sosial.

Di tengah kondisi tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) optimistis pemanfaatan sains dan inovasi bisa meminimalisir dampak yang diakibatkan oleh pandemi. Terlebih sektor perikanan merupakan sektor yang sedikit terdampak Covid-19.

"Sektor ini merupakan sektor yang dapat menjadi andalan dan penggerak utama pemulihan ekonomi di Indonesia, menjamin ketahanan pangan, mendorong perekonomian serta pengembangan ekosistem digital berbasis sains dan inovasi”, kata Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL), Aryo Hanggono saat didaulat menjadi panelis dalam webinar dengan topik Science, Innovation and The Blue Recovery Virtual Event mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan di Jakarta, Rabu (26/8).

Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh The World Ocean Initiative bekerja sama dengan Sasakawa Peace Foundation, ini,  Aryo menekankan pentingnya membangun komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Tujuannya untuk memperkuat sektor perikanan dan mencapai pembangunan ekonomi kelautan berkelanjutan sejalan dengan mandat yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo.

“Saya sungguh percaya bahwa menjaga komunikasi yang berkelanjutan dengan semua pemangku kepentingan adalah kunci dalam mewujudkan tujuan ekonomi kelautan yang berkelanjutan,” sambungnya.

Indonesia melalui KKP pun terus aktif menyuarakan ekonomi kelautan berkelanjutan di forum internasional seperti menjadi inisiator the Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI CFF). Bahkan Indonesia menjadi ketua bersama  di forum International Coral Reefs Initiative (ICRI) dengan  Australia dan Monaco, dan baru-baru ini Indonesia juga telah memprakarsai resolusi yang diadopsi pada sesi ke-76 Komisi Ekonomi dan Sosial untuk Asia dan Pasifik guna memperkuat kerja sama, mempromosikan konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya laut melalui riset dan pengembangan; kerja sama Selatan-Selatan, dan kemitraan sektor publik dan swasta.

“Indonesia konsisten mempromosikan pembangunan ekonomi kelautan berkelanjutan untuk kesejahteraan. Bagi Indonesia, ini adalah salah satu tugas penting dan peluang terbesar, “ tegas Aryo.

Selama masa pandemi Covid-19, KKP tetap berkomitmen untuk memberantas praktik illegal, unreported, unregulated (IUU) Fishing. Sebagai tindakan preventif penyebaran virus, aparat di lapangan dibekali dengan perlengkapan seperti masker, sarung tangan serta rutin melakukan pemeriksaan suhu.

“Yang KKP lakukan dalam menangani kapal ikan yang melakukan IUU Fishing adalah melengkapi petugas inspeksi dengan masker, sarung tangan, pengecekan suhu badan, karantina selama 14 hari di detention center dan juga mengaplikasikan physical distancing, ” tandasnya.

Menutup sesi panel yang dimoderatori Charles Goddard (the Economist) tersebut, Aryo juga membagikan tantangan yang dihadapi KKP dalam penanggulangan IUU Fishing pasca pandemi COVID-19 sekaligus strategi Indonesia menjaga kelestarian lingkungan laut dan sumberdaya termasuk perluasan kawasan konservasi perairan, termasuk rehabilitasi  melalui transplantasi terumbu karang dan penanaman mangrove.

Sebagai informasi, Webinar Science, innovation and the blue recovery ini bertujuan untuk mengeksplorasi relasi antara science, inovasi dan investasi dalam rangka mencapai pembangunan kelautan yang berkelanjutan. Bahkan panelis lain pada forum ini adalah Shinjiro Koizumi, Menteri Lingkungan Jepang; Jamie McMichael-Phillips, Director Seabed 2030 Project; Nina Jensen, CEO Rev Ocean dan Charles Goddard sebagai moderator.  ( imh )

Bagikan Artikel

Rekomendasi