Deflasi Bali Didorong Volatile Food, Ini Penjelasan Bank Indonesia

Selasa, 04 Agustus 2020 : 18.38
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho/dok.
Denpasar - Kelompok Volatile Food atau komponen bergejolak terutama di kelompok bahan makanan menjadi penyumbang terjadinya deflasi sebesar -1,37% (mtm) di Denpasar Bali.

"Tekanan deflasi ini, lebih dalam dibandingkan dengan Juni 2020 (-0,25%, mtm)," ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho melansir data BPS Bali dalam siaran pers, Selasa (4/8/2020).

Trisno menjelaskan, secara umum harga-harga yang dikonsumsi masyarakat Bali di bulan Juli mengalami penurunan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Penurunan terjadi pada seluruh kelompok barang, yaitu kelompok makanan bergejolak (volatile food), inflasi inti (core inflation) dan harga barang yang diatur pemerintah (administered price).

Menurut catatan BPS, Provinsi Bali pada bulan Juli 2020 mengalami deflasi sebesar 0,39% (mtm) dimana lebih dalam dibandingkan dengan deflasi Nasional tercatat sebesar 0,10% (mtm).

Kota Denpasar mengalami deflasi sebesar -0,46% (mtm), sedangkan kota Singaraja mencatat inflasi sebesar 0,11% (mtm).

Secara tahunan, inflasi Bali tercatat sebesar 1,06% (yoy) dimana lebih rendah dibandingkan dengan inflasi Nasional (1,54%, yoy).
 
Penurunan terdalam berlanjut untuk komoditas bawang merah, daging ayam ras, dan cabai rawit. Turunnya harga bawang merah terjadi karena masih berlangsungnya panen bawang merah di sentra produksi.

"Selain itu, pasokan cabai rawit melimpah cukup seiring dengan hasil panen yang tinggi," sambung mantan Kepala Perwakilan BI DKI Jakarta ini.

Kelompok barang Core Inflation juga mencatat deflasi sebesar -0,11% (mtm). Penurunan ini terjadi terutama didorong penurunan harga canang sari dan beberapa komoditas lain seperti air kemasan dan sabun mandi cair.

Di sisi lain, harga emas perhiasan masih meningkat sejalan dengan peningkatan harga emas dunia akibat ketidakpastian ekonomi global.

Selain itu, seiring dengan dimulainya tahun ajaran baru pada bulan Juli, peningkatan biaya pendidikan terutama SD dan SMA turut menyumbang inflasi pada kelompok barang core inflation.

Selanjutnya, kelompok barang Administered Price mencatat deflasi sebesar -0,63% (mtm). Penurunan tekanan harga pada kelompok ini terutama disebabkan oleh turunnya tarif angkutan udara.

Namun penurunan ini tertahan karena adanya kenaikan tarif angkutan antar kota yang meningkat seiring dimulainya normalisasi kegiatan ekonomi.

Bank Indonesia memperkirakan inflasi sampai dengan akhir tahun 2020 akan tetap terkendali dan berada pada kisaran sasaran 3,0±1%.

Trisno menambahkan, dimulainya kegiatan ekonomi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi pada Agustus 2020.

Menghadapi potensi tantangan tersebut, Bank Indonesia Provinsi Bali akan tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna memastikan inflasi terjaga dalam kisaran sasaran nasional.

"TPID Kabupaten/Kota dan Provinsi Bali senantiasa akan terus menjalankan program 4 K, yaitu kestabilan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif," demikian Trisno.  (rhm)



Bagikan Artikel

Rekomendasi