Sosok Sastrawan Ajip Rosidi di Mata TM Luthi Yazid

Jumat, 31 Juli 2020 : 08.44
Foto kenangan ini menjadi saksi jamuan Kang Ajip dan isteri alm Hj Patimah saat Luthfi Yazid menginap dua malam di apartemennya/ist.
Jakarta - Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Kepergian sastrawan, budayawan dan dosen kenamaan Ajip Rosisi meninggalkan rasa duka cita mendalam bagi jagat satra Tanah Air. Pesan-pesan penting dan mendasar dalam memaknai hidup diperjuangkan Kang Ajip (sapaannya) selama ini, sebagaimana disampaikan sahabat almarhum TM Luthi Yazid.

"Jadi teringat kenangan tak terlupakan dengan Ajip Rosidi. Saat itu Juli 1997 musim hujan," kenang Wakil Presiden Kongres Advokat Indonesia (KAI) TM Luthfi Yazid dalam keterangannya, Jumat (31/7/2020).

Dari Suzuka, Mie Pref saya menuju ke apato Ajip Rosidi di pinggiran kota Osaka didorong keinginan kuat untuk belajar dari beliau yang saat itu telah lebih dari 30 tahun tinggal di negeri Sakira.

"Almarhum banyak bercerita tentang politik di tanah air dan pergaulan luasnya; tentang siapas-siapa tokoh dari Indonesia yang suka mampir menemuinya," katanya.

Para tokoh yang menemui Satrawan besar itu antara lain Gus Dur, WS Rendra, Kang Atun/ Ramadhan KH, Buyung Nasution, YB Mangun Wijaya, Bang Ali Sadikin.

Juga bercerita bagaimana ia bisa menjadi seorang professor di Jepang dan  mengundang ke Jepang Abdurahman Soerjomihardjo, yang saat Kang Ajip mengembalikan ijazah SMAnya ( krn Ajip merasa tdk perlu ijazah) mengatakan, ‘Kamu akan jadi orang’.

"Dan fakta sejarah membenarkan itu," cerita alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini

Ajip juga bercerita tentang buku yang ditulisnya  : Biografi M Natsir jilid 1 ( jilid 2 tak selesai); Biografi Syafruddin Prawira Negara yg berjudul “ Agama dan Bangsa”; tentang hubungannya dg Goenawan Muhammad dsb. 

Bertepatan hari Jumat, sebelum dirinya kembali ke Suzuka, pergi bersama dari Osaka menuju Kobe untuk sholat Jumat.

Dalam perjalanan, denga JR Train, keduanya mampir di Kinokuniya book store.

"Disitulah almarhum menunjukkan buku-buku, dan kata almarhum orang Indonesia yang menulis buku yang diterjemahkan dalam bahasa Jepang ( saat itu) hanya Pramoedya dan dia sendiri, sambil beliau menunjukkan bukunya di rak buku," ucapnya. 

"Kang Ajip selamat jalan... terimakasih untuk petuah-petuah dan kenangan indahnya, Alfatihah untuk almarhum" ucap Yazid. (rhm)


Bagikan Artikel

Rekomendasi