Solidaritas Warga di Tengah Era Normal Baru : Kesadaran atau Keterpaksaan?

Selasa, 07 Juli 2020 : 14.09
Arya Gangga/Peguat Literasi Praga Pustaka Perpustakaan Pribadi/ist

Denpasar- Pandemi Corona Virus Disease 2019, merupakan cobaan terbesar pada awal tahun 2020 yang dunia rasakan hingga saat ini. Tentunya di tengah pandemi kali ini yang kurang lebih hampir kita lalui selama 4 Bulan belakangan dari pertama terkonfirmasi kasus pada awal maret 2020 di Indonesia hingga sekarang di awal Bulan Juli, cukup membuat berbagai aktivitas serta produktivitas kita terhambat.

Banyak hal-hal yang kita lewatlan, banyak agenda tertunda, banyak pertemuan terhambat, dari physical distancing, sosial distancing hingga karantina mandiri.

Pandemi Corona Virus Disease 2019 atau juga yang disebut Covid-19, telah banyak melumpuhkan berbagai sektor yang terdapat pada roda kehidupan manusia saat ini, dari ekonomi, sosial, pendidikan, pariwisata hingga kesehatan sebagai sektor yang sangat vital dalam hal penanganan Pandemi Covid-19 ini.

Saat ini, 4 Bulan sudah kita melalui hari-hari dimana saling berkunjung salam sapa hanya kita lakukan melalui jalur daring atau online. Merupakan sebuah kewajiban kita juga untuk saling menjaga sesama dengan cara memperhatikan protokol kesehatan.

Namun, ada beberapa hal yang mungkin membuat kita sama-sama bertanya-tanya, yaitu salah satunya tentang era normal baru? Apakah Indonesia sudah siap? Sudah memenuhi prasyarat yang ditetapkan WHO?

Sudah pasti kita sebagai masyarakat akan tetap optimis menempuh segala keputusan-keputusan duniawi yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tapi apakah itu akan menjamin dimana setelah semuanya memasuki era normal baru masyarakat akan dapat menjalankan aktivitas & produktivitas nya dengan baik? Tentu tidak, pasti semuanya butuh waktu, butuh kerja sama solidaritas masyarakat yang saling mensupport satu sama lain, tapi apakah itu didasari atas kesadaran atau malah sebaliknya? Keterpaksaan?

Pertama memang kita patut yakini mungkin sebagian masyarakat kecewa terhadap kebijakan dalam menangani pandemi covid-19 kali ini, namun kita patut perhatikan juga bahwa jika kita tidak bersama-sama berjuang meningkatkan taraf kehidupan kita pasca berperang habis-habisan dengan corona maka yang terjadi hanya kepunahan, kepunahan ide! Atau lebih tepatnya melahirkan generasi rebahan.

Banyak hal positif dan negatif di tengah pandemi kali ini. Sebagai manusia kita tentu perhatikan dalam dua sisi tersebut, tapi sebagai bentuk optimis saya, saya hanya ingin menjelaskan sisi positifnya bahwa menekan produtivitas kegiatan manusia memiliki sumbangsih besar terhadap kelestarian lingkungan. Bayangkan, berapa juta kendaraan yang tidak beroprasi karena kebijakan lockdown, karantina di berbagai belahan dunia? Berapa pabrik yang terhenti sementara karena negaranya memiliki kebijakan lock down?

Tentunya itu merupakan salah polusi bagi planet kita, dan juga berapa pohon yang tidak ditebang, berapa sampah yang tidak dihasilkan, karena mungkin kita hanya membeli hal-hal yang kita butuhkan di masa krisis dikarenakan pandemi covid-19.

Begitu banyak hal yang sudah dilalui peradaban manusia saat ini ketika berperang melawan pandemi namun tak kita sadari, entah di era normal baru ini banyak yang akan terpaksa akan melewatinya, atau bahkan lebih baik jika banyak yang akan sadar akan era normal baru ini. Tapi sebagai pemuda, sebagai generasi penerus bangsa tentunya kami adalah generasi yang sadar akan pentingnya solidaritas sebagai bentuk pertanggung jawaban kami meneruskan peradaban manusia hingga 1000,2000,5000 dan bahkan 10000 tahun ke depan.

Pastinya solidaritas kita lakukan dengan cara kita masing-masing yang positif, dari diri sendiri, mengedukasi masyarakat, hingga mengkritisi kebijakan pemerintah yang kurang baik demi masyarakat yang lebih luas.

Saya generasi penerus bangsa, sebagai pemuda tentunya menitipkan segalanya pada solidaritas kita melawan pandemi, bersama-sama kita bisa, bersama masyarakat, pekerja, mahasiswa, pedagang, petani, pejabat, segalanya, semuanya. Tentunya Indonesia pasti bisa melewati semua ini.

Tetap optimis! Pastikan tahun ini kita dapat menuntaskan perang kita terhadap Pandemi Covid-19. Jika Bung Karno butuh 10 Pemuda untuk mengguncangkan dunia, maka kita hanya butuh 1 solusi untuk mengguncangkan Corona Virus, yaitu : SOLIDARITAS!!! *

* Arya Gangga/Peguat Literasi Praga Pustaka Perpustakaan Pribadi

(lif
Bagikan Artikel

Rekomendasi