Sekolah di Bali Kembangkan Pengelolaan Sampah Organik dan Anorganik

Kamis, 02 Juli 2020 : 06.02
Sepuluh Sekolah Dasar (SD) di Kota Denpasar mengikuti program Sekolah Duta Lingkungan Hidup   role model dalam pengelolaan sampah organik dan anorganik./ist

Denpasar
-Sepuluh Sekolah Dasar (SD) di Kota Denpasar mengikuti program Sekolah Duta Lingkungan Hidup   role model dalam pengelolaan sampah organik dan anorganik.

yang merupakan kegiatan kerjasama antara Yayasan Danamon Peduli, PPLH Bali dan Bali Wastu Lestari. Meskipun kegiatan harus terhenti karena pandemi Covid-19, secara umum kegiatan berlangsung dengan baik.

Program Sekolah Duta Lingkungan Hidup bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian warga sekolah terhadap lingkungan menuju sekolah bebas sampah. 

Menjadikan sekolah role model dalam pengelolaan sampah organik dan anorganik. Meningkatkan metode pengelolaan sampah organik menjadi kompos dan anorganik masuk bank sampah. Menurunkan angka pembuangan sampah plastik ke laut.

“Program ini adalah bentuk nyata kepedulian Bank Danamon terhadap masalah lingkungan. Kami berharap dengan adanya kegiatan ini sekolah dapat membekali siswanya kepedulian terhadap lingkungan. Warga sekolah juga harus mampu mengolah sampah yang dihasilkannya secara mandiri”, jelas Sony dari Yayasan Danamon Peduli.

Sepuluh SD di Denpasar yang telah melewati tahap seleksi, tanda tangan kesepakatan kerjasama an mendapatkan pendampingan rutin selama tiga bulan. Pendampingan pengelolaan sampah organik dari PPLH Bali, sedangkan untuk sampah anorganik kerjasama dengan Bali Wastu Lestari.

PPLH Bali memberikan pelatihan pembuatan kompos, pelatihan pembuatan mikroorganisme lokal (MOL), pelatihan pembuatan biopori dan pelatihan berkebun sehat. Sekolah menghasilkan sampah organik dari kebun dan kantin sekolah. Selama kegiatan berjalan sampah organik yang berhasil dikompos dari masing-masing sekolah berkisar dari 5Kg-76,11 Kg. 

Jadi rata-rata sampah yang dikompos adalah 31,689 Kg selama 3 bulan untuk sepuluh sekolah. Artinya sudah 316,890 Kg tidak terbuang lagi ke TPA. Jika diikuti oleh semua sekolah di Denpasar maka ber ton-ton beban TPA berkurang.

Direktur PPLH Bali, Catur Yudha Hariani menjelaskan, “seharusnya sampah organik STOP keluar dari sekolah dan diolah di sekolah menjadi kompos. Kompos tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk kebun sehat. Mengingat 70% sampah organik selama ini dibuang begitu saja sehingga mencemari tanah, air, laut dan telah terbentuk gunung di TPA”. 

Pendampingan sampah anorganik oleh Bali Wastu Lestari mengajak warga sekolah untuk menabungkan sampah anorganik untuk didaur ulang. Nasabah bank sampah pada 10 sekolah telah dilink-kan juga dengan Sistem Informasi Sadar Lingkungan (SiDarling) yang dikelola oleh DLHK Denpasar. 

Guru sekolah yang dilibatkan dalam program sangat mengapresiasi kegiatan ini. Salah satunya adalah I Gusti Ngurah Made Wira Dharma Putra, S.Pd H. “Program ini sangat menarik karena ada kegiatan berkebun dan siswa dilibatkan untuk melakukan pemilahan sampah. Luar biasa. Terima kasih”, kata Wira yang ditemui di SDN 22 Dauh Puri.

Kesepuluh sekolah yang mendapat pendampingan adalah SDN 22 Dauh Puri, SDN 26 Dangin Puri, SDN 33 Dangin Puri, SD Saraswati 5, SDN 6 Sumerta, SDN 13 Kesiman, SDN 17 Dauh Puri, SDN 11 Sumerta dan SDN 7 Dauh Puri. Masing-masing sekolah kemudian menunjuk 20-32 siswa sebagai kader sekolah Duta Lingkungan Hidup. Kader ini dilatih oleh PPLH Bali untuk menjadi tutor sebaya yang diharapkan dapat mengajak siswa lainnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan. 

“Saya sangat senang dapat mengikuti program ini karena saya diajarkan untuk mengolah sampah dan mengurangi penggunaan sampah plastik, membuat pupuk kompos dan pembuatan mol” ungkap I Putu Gede Diva Arya Wibawa kader Sekolah Duta Lingkungan Hidup dari SDN 6 Sumerta ketika ditanya tanggapannya terhadap program Sekolah Duta Lingkungan Hidup.

 Hal senada juga diungkapkan oleh Made Kirana Purnama Sari Bukian, kader Sekolah Duta Lingkungan Hidup dari SDN 3 Kesiman. “Saya senang karena saya diajarkan untuk menyelamatkan alam dan semoga banyak orang bisa mengurangi plastik dari hal-hal yang kecil.” jelas Kirana.

Kegiatan di 10 sekolah akhirnya terhenti sejak sekolah ditutup guna mencegah penyebaran Covid-19. Penutupan program akhirnya dilakukan dengan memberikan penghargaan dengan mengunjungi sekolah satu-persatu. Meski begitu, Yayasan Danamon Peduli, PPLH Bali, Bali Wastu Lestari berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan secara mandiri saat sekolah sudah kembali dibuka .(lif
Bagikan Artikel

Rekomendasi