Penggunaan QRIS di Bali Capai 105.580 Merchant

Rabu, 22 Juli 2020 : 19.25
Peresmian Tatanan Kehidupan Era Baru dan Digitalisasi Desa Wisata Blimbingsari Berbasis QRIS, di Niti Graha Kantor Perbekel Desa Blimbingsari, Kecamatan Melaya, Jembrana, Rabu (22/7/2020)/ist.

Jembrana- Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho menyebutkan sampai saat ini transaksi pembayaran menggunakan QRIS di Provinsi Balu telah mencapai 105.580 merchant.

Desa Wisata Blimbingsari adalah salah satunya yang telah menerapkan metode transaksi pembayaran dengan berbasis digital menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

“Digitalisasi ini merupakan suatu keniscayaan dan wajib diimplementasikan di semua bidang kehidupan termasuk sektor pariwisata Bali,” jelas Trisno saat meresmikan Tatanan Kehidupan Era Baru dan Digitalisasi Desa Wisata Blimbingsari Berbasis QRIS, di Niti Graha Kantor Perbekel Desa Blimbingsari, Kecamatan Melaya, Jembrana, Rabu (22/7/2020).

Penggunaan QRIS di Bali saat ini telah mencapai 105.580 merchant dimana sebaran terbesar kedua berada di Kabupaten Badung sebanyak 27.675 atau 27% dari total merchant QRIS di Bali atau meningkat sebesar 314% dibandingkan dengan awal tahun 2020.

"Selain itu, selama pendemi covid-19 sejak 6 Maret hingga 10 Juli ini, penambahan jumlah merchant QRIS di Bali meningkat hingga 60%," sebutnya dalam acara yang diresmikan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati .

Digitalisasi berbasis QRIS di Desa Wisata Blimbingsari, telah diterapkan untuk pembayaran mulai dari bumdes, homestay, waterboom, panti asuhan sampai dengan donasi untuk persembahan di Gereja tertua di Bali.

Selain peresmian tersebut, Wagub Cok Ace juga turut panen buah bersama kakao Kelompok Tani Ternak (KTT) Mertha Abadi di Subak Abian Dana Amartha Sari yang berlokasi di Desa Ekasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.

KTT Mertha Abadi merupakan kumpulan petani yang memiliki komitmen mengembangkan kakao Jembrana dengan perlakuan organik.

Program pengembangan kakao organik yang dibina oleh Bank Indonesia tersebut dikuti oleh 30 petani kakao yang Program yang telah berjalan dalam 2 tahun terakhir.

Kakao yang dihasilkan kelompok tersebut sudah diakui pasar dunia dengan karakteristik yang unggul. Alhasil, komoditas yang bisa diolah menjadi berbagai hasil panganan tersebut telah menembus pasar ekspor.

Dalam acara tersebut juga diberikan bantuan berupa motor, sistem pengairan(sumur bor) dan renovasi rumah pengolahan kakao serta bantuan csr dari Bank BPD Bali.

Nampak pula dalam kesempatan itu, Bupati Jembrana Putu Artha, anggota Komisi XI DPR RI, I Gusti Agung Rai Wirajaya, bersama kalangan perbankan. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi