KKP Cetak Wirausaha Mie Rumput Laut

Kamis, 23 Juli 2020 : 19.32
KKP Menyelengarakan Program Pelatihan Membuar Mie Rumput Laut./ist
Jakarta-
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyelenggarakan “Pelatihan Membuat Mie Rumput Laut” bagi masyarakat.

Selanjutnya pelatihan disambut antusiasi oleh masyarakat tercatat sebanyak 804 peserta dari beragam profesi di seluruh wilayah Indonesia mengikuti pelatihan.

Kepala BRSDM Sjarief Widjaja mengungkpakan, rumput laut (algae) merupakan salah satu produk perikanan unggulan Indonesia yang menjanjikan untuk dikembangkan sebagai peluang usaha.

Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen rumput laut nomor satu di dunia, khususnya untuk jenis Eucheuma cottoni.

“Produksi rumput laut nasional tahun 2019 mencapai 9,9 juta ton. KKP menargetkan produksi ini meningkat hingga 10,99 juta ton pada tahun 2020 dan 12,33 juta ton pada tahun 2024,” ujarnya.

Rumput laut Indonesia pun memiliki pasar yang besar. Berdasarkan data FAO (2019), Indonesia menguasai lebih dari 80% pangsa pasar ekspor.

“Meskipun begitu, patut disayangkan bahwa rumput laut yang kita ekspor saat ini umumnya masih berupa bahan baku mentah atau produk bernilai tambah rendah,” ungkap Sjarief.

“Untuk itu, pelatihan membuat mie rumput laut kali ini diharapkan dapat berkontribusi sebagai terobosan untuk meningkatkan nilai tambah rumput laut,” imbuhnya. 

Tak hanya itu, Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) Lilly Aprilya Pregiwati berharap agar pelatihan ini dapat menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

“Dengan pengetahuan dan keterampilan mengolah mie rumput laut, diharapkan pelatihan ini dapat mendijadikan peluang usaha baru bagi masyarakat Indonesia,” ucapnya.

Namun Ketua P2MKP Winner Perkasa Indonesia Unggul, Maria Gigih, selaku pelatih dalam pelatihan kali ini menyatakan bahwa rumput laut memiliki potensi pasar yang besar.

Dalam pengalamannya menekuni usaha rumput laut selama lebih dari dua puluh tahun, rumput laut selalu memiliki peminat yang tingg terutama untuk ekspor. Hal ini terbukti dari rata-rata volume ekspor usahanya yang mencapai 100 ton/bulan dengan omzet sekitar Rp3 miliar.

Kendati demikian, ia berharap agar rumput laut Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat luas karena selama ini pasar ekspor masih jauh lebih tinggi di banding serapan dalam negeri.

“Saya berharap supaya serapan rumput laut dalam negeri itu meningkat. Jadi tidak hanya besar di ekspor, tapi orang dalam negeri tidak kenal,” tutur Maria.

Untuk itu, ia berharap agar pelatihan mie rumput laut kali ini menumbuhkan wirausaha-wirausaha baru di tengah masyarakat. (lif)
Bagikan Artikel

Rekomendasi