Bupati Suwirta Rancang Pengembangan Pariwisata Penggaraman Tradisional di Kusumba

Jumat, 17 Juli 2020 : 17.46
Bupati Klungkung Nyoman Suwirta mengumpulkan petani garam di Banjar Batur Desa Kusamba/ist
Semarapura- Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta merancang kawasan penggaraman tradisional di Desa Kusumba Kecamatan Dawan yang akan diintegrasikan menjadi objek wisata.

Untuk itu, dia mengumpulkan sejumlah petani garam di Banjar Batur Desa Kusamba guna memastikan status lahan pembuatan garam tradisional Kusamba,

Pertemuan dihadiri pejabat Badan Pertanahan Kabupaten Klungkung, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klungkung, Wayan Durma dan instansi terkait, Jumat (17/7/2020).

Suwirta mengaku upaya ini merupakan sebagai bentuk keseriusannya sejak dulu untuk membangkitkan kembali produksi garam di Kusamba dan memberi kepastian para petani garam terkait status lahan yang ditempati sebagai  tempat produksi garam tradisional.

Sedangkan untuk kepastian launching garam beryodium "Uyah Kusamba" pada 22 Juli mendatang.

Proses ini sudah tiga tahun dilakukan dengan menempuh berbagai upaya diantaranya dari izin geografis, izin Standar Nasional Indonesia (SNI) sampai izin edar.

 "Sebagai kawasan pariwisata penggaraman tradisional tersebut juga akan diintegrasikan menjadi objek wisata," ujar Bupati Suwirta.

Pihaknya mengajak generasi muda di Desa Kusamba dapat melanjutkan dan meneruskan produksi Garam Tradisional agar kedepannya bisa terus berkelanjutan.

Selain itu, untuk memastikan akan menjaga keberadaan pengaraman tradisional ini sehingga diolas kembali menjadi garam beryodium pihaknya menjamin tidak ada yang mengklaim produksi garam tradisional Kusamba.

Kadis KPP Wayan Durma mengatakan pertemuan ini sebagai tindaklanjut pertemuan sebelumnya terkait kejelasan status lahan penggaraman yang selama ini digunakan atau ditempati oleh sejumlah petani garam tersebut.

Pemkab Klungkung ingin kembali memberdayakan petani garam untuk berproduksi, mengingat dalam waktu dekat juga akan dilakukan launching produksi garam beryodium hasil dari para petani garam tradisional ini.

Intinya agar bisa memberdayakan kembali petani garam tradisional dan ada kejelasan status lahan berupa hak guna pakai tanah negara.

Kepala Seksi Infrastruktur Badan Pertanahan Klungkung, I Gede Kurnia Nuharta menyebutkan jenis-jenis hak yang ada di Badan Pertanahan diantaranya hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, hak sewa, hak membuka tanah, hak memungut hasil hutan dan hak-hak lainnya yang bersifat sementara.

"Skema mana yang akan ditempuh silakan nanti kita koordinasi lebih lanjut," ujar I Gede Kurnia Nuharta.

Pihaknya juga menambahkan skema untuk pemberian status guna pakai atas pemerintah atau perorangan tapi dengan syarat 3 ribu meter persegi atau atas nama Desa Adat karena Desa Adat bisa menjadi subjek hukum. "Hal teknis dan persyaratan lebih lanjut bisa dibicarakan lebih lanjut," tutupnya. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi