Wagub Bali Ungkap Peluang "Working Space" Saat Pandemi COVID-19

Sabtu, 27 Juni 2020 : 07.27
Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati alias Cok Ace/ist
Denpasar
- Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) mengungkapkan ada peluang yang bisa diraih Bali dengan menjadikan "working space" bagi pekerja dari mancanegara.

Hal itu disampaikan Cok ACe saat membuka Webinar series #5 dengan tajuk ‘Road Map to Bali Next Normal : Imagine Working From bali, Why Not?’ Jumat (26/6/2020).

Webinar  diikuti peserta dari berbagai stakeholder pariwisata dari berbagai negara. Webinar yang sudah memasuki edisi kelima ini secara umum bertujuan untuk mencari solusi kesiapan dan Langkah-langkah strategis Bali sebagai destinasi wisata pasca pandemi covid-19.

Webinar yang didukung Bali Tourism Board (BTB) dan Gabungan Industri pariwisata (GIPI) Bali tersebut, Cok Ace menguraikan dan berbicara masalah ‘working from Bali’ atau bekerja dari Bali.

“Saya jadi teringat cerita seorang warga negara Prancis yang dalam jangka waktu setahun bisa dua kali berkunjung ke Bali dalam rentang waktu yang cukup lama, ” beber Cok Ace tentang warga asing tersebut.

“Ternyata dirinya memang sengaja bekerja dari Bali, tinggal di Bali untuk mengurus perusahaannya dengan modal laptop kecil, dan teras villa sederhana di Ubud. Dari cerita tersebut, saya pikir ‘working from Bali’ bisa dilakukan. Peluang ini bisa dikembangkan sebagai tujuan wisata baru di Bali, yakni dengan mengembangkan ‘working space’ yang memadai bagi para turis seperti ini,” imbuhnya.

Pandemi covid-19 ini adalah momentum yang tepat, karena pandemi ini di sisi lain menghasilkan kebiasaan-kebiasaan baru, bekerja tidak melulu dari kantor. Bekerja dengan lebih sehat, lebih fresh, tanpa perlu pusing sewa kantor atau berdesakan di lift.

“Sekali lagi, jika kita cerdas menciptakan Bali sebagai ‘working space’ untuk para pekerja dari mancanegara, mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar dunia, maka ini adalah peluang besar,” pungkasnya.

Dubes Indonesia Untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun, menyatakan, Bali punya modal besar untuk program ‘Working from Bali’ dengan paparan Wagub Bali itu. Bahkan, sebenarnya sudah sejak lama, banyak wisatawan yang datang untuk bekerja sekaligus berwisata ke Bali.

“Tentu saja, internet yang stabil dan cepat akan jadi modal dasar untuk itu dan akan sangat baik jika dijalankan dengan program ‘Bali Smart Island’ . ditambah modal alam dan fasilitas di bali, maka akan menjadi tempat kerja yang nyaman bagi ‘digital nomad’ sekaligus memberikan pengalaman wisata tersendiri,” ujarnya.

“Di China, sudah banyak perusahaan yang melihat Bali sebagai salah satu lokasi untuk ‘working space’, mulai dari perusahaan IT raksasa hingga e- commerce yang memang sudah memberikan keleluasaan bagi karyawannya untuk bekerja, dari manapun,” terangnya.

Terlebih para ‘digital nomad’ ini punya kecenderungan spend money yang tinggi.

“Kedepannya, perlu juga promosi yang signifikan di negara-negara dengan perusahaan raksasa, untuk para pekerja kreatif, desainer, dan mereka yang tidak memerlukan kantor formal. Jangan lupakan pula promosi lewat sosial media yang kini punya dampak sangat besar,” tutupnya.

Disisi lain menurut Paulus Herry Arianto, CEO Indonesia Bali Chapter mengatakan bahwa dampak pandemi covid-19 yang menghasilkan kampanye ‘work from home’ bisa dielaborasi-kan menjadi ‘work from Bali’ , karena nama Bali sebagai destinasi wisata dan Bali punya segala potensi untuk itu.

“Kenapa memilih Bali, para ‘Digital nomad’ sebenarnya sudah sejak lama memasukkan Bali sebagai salah satu pilihan utama untuk working space, karena cuacanya bagus, living cost terjangkau, kaya sejarah dan tradisi serta dianggap punya aspek keamanan yang cukup,” ujar Paulus.

Bali juga punya keunggulan dengan kebijakan-kebijakan pemerintahnya yang sangat mendukung sektor pariwisata. Terlebih dalam visi Gubernur dan Wakil Gubernur saat ini, melihat sektor pertanian dan industry 4.0 sebagai pilar penting mendukung pariwisata.

Sebuah survei kepada para pekerja dunia saat ini menunjukkan, 78 persen ingin lebih fleksibel dalam tempat dan waktu kerja, 82 persen ingin kehidupan kerja yang lebih seimbang (less stress) dan 54 persen pekerja akan meninggalkan pekerjaannya saat ini jika memperoleh pekerjaan yang lebih fleksibel.

Kemudahan dalam pemberian visa atau kebijakan khusus visa untuk digital nomad ini juga sangat penting untuk menunjang era ‘working from Bali’ ini.

Setiap banjar adat harus dapat manfaat dari jenis wisata baru ini dan tiap kabupaten juga hendaknya menyediakan working space khusus.

“Berdasarkan pengamatan dan perhitungan saya, rata-rata para ‘digital nomad’ ini minimal menghabiskan 1300 US Dollar per bulan per orang, dan jika dihitung per tahun sama dengan 15.600 US Dollar per tahun. Jika angka ini dikalikan 100 ribu orang saja, maka potensinya mencapai 1,56 Milyar US Dollar atau sebanding 21,4 triliun rupiah,” tutupnya. (rhm)




Bagikan Artikel

Rekomendasi