Koalisi untuk Masyarakat Adat dan Kebebasan Pers Galang Donasi Bagi Diananta

Senin, 01 Juni 2020 : 09.08
ilustrasi/net
Jakarta - Sebagai bentuk kepedulian dan dukungan terhadap Eks Pemimpin Redaksi Banjarhits, Diananta Putra Sumedi yang kini ditahan Polres Kotabaru, gara-gara disangka melanggar UU ITE terkait pemberitaan Gerakan kolektif Koalisi untuk Masyarakat Adat dan Kebebasan Pers terus menggalang dana untuk kebutuhan keluarga .

Tim Logistik Koalisi untuk Masyarakat Adat dan Kebebasan Pers menggagas donansi dipimpin Ika Ningtyas, sahabat istri Diananta sekaligus anggota Aliansi Jurnalis Independen Jember.

Hingga saat ini, sudah terkumpul dana sebesar Rp. 10.700.000 dari berbagai kalangan.

"Ini dialokasikan untuk kebutuhan hidup keluarga per bulan Juni dan Juli. Diananta adalah penafkah tunggal untuk anak dan istrinya yang tinggal di Banyuwangi," ujar Ika dalam wawancara media, Minggu (31/5/2020).

Istri Diananta, Wahyu Widyaningsih, berencana bertolak ke Kotabaru untuk menemani Diananta saat persidangan Juni nanti. Alhasil, alokasi juga akan diserahkan ke Wahyu saat berada di Kotabaru.

Dalam rilis beredar diterima Kabarnusa.com, aksi penggalangan dana ini penting untuk merajut solidaritas bersama, khususnya kalangan jurnalis.

Bukan hanya meringankan beban ekonomi keluarga, tapi juga sebagai bentuk dukungan semua pihak atas kebebasan pers dan protes atas kriminialisasi yang dilakukan terhadap Diananta.

Kerja-kerja jurnalisme itu untuk kepentingan publik. Tanpa jurnalisme yang bebas dan independen, mustahil publik mendapatkan informasi yang kredibel.

"Oleh karena itu, kriminalisasi terhadap jurnalis Diananta dengan sendirinya mengancam hak publik mendapatkan informasi yang benar," ujarnya.

Penggalangan dana dibuka melalui rekening Ika Ningtyas (BNI 0863585113). Setelah ditransfer, donatur bisa mengonfirmasi melalui kontak Whatsapp 081353026387.

Kronologis Kasus

Diananta Putera Sumedi ditahan sejak 4 Mei oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kalsel terkait berita berjudul "Tanah Dirampas Jhonlin, Dayak Mengadu ke Polda Kalsel" pada alamat internet kumparan/banjarhits.id pada 9 November 2019 lampau.

Dalam berita, Diananta mengutip pernyataan orang bernama Sukirman yang menyebut dirinya mewakili Masyarakat Adat Kaharingan, bahwa penyerobotan lahan oleh perusahaan tersebut dapat memicuk konflik etnis.

Belakangan, Sukirman membantah pernyataannya yang tertulis dalam berita dan melaporkan Banjarhits.id ke Polda Kalsel. Pengaduan Sukirman diproses polisi. Polisi juga minta Sukirman mengadu ke Dewan Pers selaku yang berwenang menangani sengketa pers.

Alamat internet kumparan/banjarhits.id tempat Nanta mempubliksikan berita tersebut adalah saluran yang didapat Banjarhits dengan bekerja sama dengan Kumparan.com melalui Program 1001 Startup Media.

Meski sedang ditangani Dewan Pers, Polda Kalsel tetap melanjutkan proses penyelidikan. Penyidik memanggil Diananta melalui surat dengan Nomor B/SA-2/XI/2019/Ditreskrimsus untuk dimintai keterangan oleh penyidik pada Rabu, 26 September 2019.

Pada 5 Februari 2020, Dewan Pers memutuskan redaksi kumparan.com menjadi penanggung jawab atas berita yang dimuat itu, bukan banjarhits.id selaku mitra Kumparan.

Dewan Pers kemudian merekomendasikan agar Banjarhits.id selaku teradu melayani hak jawab dari pengadu dan menjelaskan persoalan pencabutan berita yang dimaksud.

Rekomendasi itu diteken melalui lembar pernyataan penilaian dan rekomendasi (PPR) Dewan Pers. Sengketa pers inipun dinyatakan selesai. Kumparan menghapus berita yang dipermasalahkan dan banjarhits.id sudah memuat hak jawab dari teradu.

Meski begitu, proses hukum di Polda Kalsel terus berlanjut hingga dilakukan penahanan terhadap Diananta Putra Sumedi di Rutan Polda Kalsel mulai 4 Mei 2020. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi