Kampanye "Work from Bali" Ditengah Pandemi COVID-19

Sabtu, 27 Juni 2020 : 08.22
Denpasar
- Dampak pandemi virus corona COVID-19 menghasilkan kampanye ‘work from home’ yang bisa dielaborasi-kan menjadi ‘work from Bali’ , karena sebagai destinasi wisata Bali punya potensi untuk itu.

CEO Indonesia Bali Chapter Paulus Herry Arianto, mengatakan dampak pandemi covid-19 yang menghasilkan kampanye ‘work from home’ bisa dielaborasi-kan menjadi ‘work from Bali’ , karena nama Bali sebagai destinasi wisata dan Bali punya segala potensi untuk itu.

“Kenapa memilih Bali, para ‘Digital nomad’ sebenarnya sudah sejak lama memasukkan Bali sebagai salah satu pilihan utama untuk working space, karena cuacanya bagus, living cost terjangkau, kaya sejarah dan tradisi serta dianggap punya aspek keamanan yang cukup,” ujar Paulus dalam Webinar series #5 dengan tajuk ‘Road Map to Bali Next Normal : Imagine Working From bali, Why Not?’ Jumat (26/6/2020).

Webinar dibuka Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) diikuti peserta dari berbagai stakeholder pariwisata dari berbagai negara. Webinar yang sudah memasuki edisi kelima ini secara umum bertujuan untuk mencari solusi kesiapan dan Langkah-langkah strategis Bali sebagai destinasi wisata pasca pandemi covid-19.

Bali juga punya keunggulan dengan kebijakan-kebijakan pemerintahnya yang sangat mendukung sektor pariwisata.

"Terlebih dalam visi Gubernur dan Wakil Gubernur saat ini, melihat sektor pertanian dan industry 4.0 sebagai pilar penting mendukung pariwisata," tandasnya.

Salah satu Survey kepada para pekerja dunia saat ini menunjukkan 78 persen ingin lebih fleksibel dalam tempat dan waktu kerja, 82 persen ingin kehidupan kerja yang lebih seimbang (less stress) dan 54 persen pekerja akan meninggalkan pekerjaannya saat ini jika memperoleh pekerjaan yang lebih fleksibel.

Kemudahan dalam pemberian visa atau kebijakan khusus visa untuk digital nomad ini juga sangat penting untuk menunjang era ‘working from Bali’ ini.

Setiap banjar adat harus dapat manfaat dari jenis wisata baru ini dan tiap kabupaten juga hendaknya menyediakan working space khusus.

“Berdasarkan pengamatan dan perhitungan saya, rata-rata para ‘digital nomad’ ini minimal menghabiskan 1300 US Dollar per bulan per orang, dan jika dihitung per tahun sama dengan 15.600 US Dollar per tahun. Jika angka ini dikalikan 100 ribu orang saja, maka potensinya mencapai 1,56 Milyar US Dollar atau sebanding 21,4 triliun rupiah,” tutupnya. (rhm)




Bagikan Artikel

Rekomendasi