Jejak Budayawan Suteja Neka dalam "Museum, Keris dan Persahabatan"

Kamis, 25 Juni 2020 : 07.42
Budayawan sekaligus pendiri Museum Seni Neka, Pande Wayan Suteja Neka/ist
Denpasar
- Dalam sebuah dialog virtual budayawan Pande Wayan Suteja Neka bertutur tentang perjalanan hidupnya bergelut di dunia seni budaya hingga interaksinya dengan seniman dunia luar yang tetap terjaga hingga saat ini.

Budayawan sekaligus pendiri Museum Seni Neka, Pande Wayan Suteja Neka berbicara panjang lebar tentang museum yang didirikannya hingga keris dan persahabatan.

Kisah itu diungkapkan dalam program virtual Bentara Budaya, yakni Teras Bentara, pada seri kali ini mengetengahkan perbincangan bersama Suteja Neka. Rabu 24 Juni 2020

Dialog virtual mengetengahkan tajuk “Museum, Keris dan Persahabatan “ menampilkan Pande Wayan Suteja Neka, yang juga berpredikat sebagai Jejeneng Mpu Keris .

Ia berbagi kisahnya mendirikan museum, kecintaan pada keris hingga cerita persahabatan dengan sejumlah maestro seni Indonesia dan dunia.

Gelar Jejeneng Mpu Keris (JMK) sempat disandangnya karena koleksi, pengetahuan, dan kemampuannya tentang perkerisan.

Pemberian gelar itu diterimanya tahun 2010 lalu dalam perhelatan Keris for the World di Galeri Nasional Indonesia. Ia juga dinobatkan sebagai pelestari budaya keris sekaligus sebagai dewan pakar atas jasa-jasa sebagai pelestari budaya keris di Bali oleh Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI).

Keris telah memperoleh pengakuan dari UNESCO sebagai karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia pada 25 November 2005.

"Ini sekaligus momentum penghargaan dan pengakuan dari dunia terhadap kebudayaan Indonesia," katanya.

Suteja Neka, lahir tahun 1939 di Desa Peliatan di Ubud, Gianyar. Kecintaan Suteja Neka pada Keris juga dapat dirunut pada sejarah leluhurnya, Pande Pan Nedeng, yang merupakan empu keris dari masa Kerajaan Peliatan, Ubud. Setelah Pan Nedeng meninggal, keahlian membuat keris diwariskan kepada anaknya, Pande Made Sedeng, yang tak lain adalah kakek buyut dari Suteja Neka.

Tahun 1982 Suteja Neka mendirikan Museum NEKA di Ubud, didedikasikan bagi sang ayah Pande Wayan Neka (1917-1980), yang merupakan pemahat terkenal. Wayan Neka tak lain adalah seniman yang memahat patung garuda setinggi tiga meter untuk New York Fair di Amerika Serikat tahun 1964 dan Expo’70 Osaka di Osaka, Jepang.

Hingga saat ini Museum NEKA telah memiliki lebih dari 300 koleksi keris yang pembuatannya berkisar dari abad XIII sampai masa kontemporer saat ini, yang dikumpulkan oleh Suteja Neka sejak tahun 1970-an silam.

Selain itu, museum ini juga menyimpan karya-karya lukisan buah cipta para maestro seni rupa Indonesia dan dunia, mulai dari Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Sobrat, Kobot, Affandi, Srihadi Soedarsono, S. Sudjojono, Dullah, hingga pelukis Arie Smit, Bonnet,  Miguel Covarrubias, Antonio Maria Blanco, dan masih banyak lagi.

Bukan tanpa alasan Suteja Neka menggabungkan koleksi keris dan lukisan dalam museumnya. Ia memiliki visi bahwa keris juga menyimpan kekayaan seni rupa yang luar biasa, bukan semata untuk kebertuahan serta sebagai sarana ritual.

Suteja Neka juga dikenal bersahabat dengan seniman Rudolf Bonnet (Belanda) dan Walter Spies (Jerman), dua tokoh  yang menjadi cikal-bakal pendirian kelompok Pita Maha, sebuah wadah yang menebarkan semangat modernisme di dalam seni rupa Bali. Berkat itu pulalah ia akhirnya mulai  mengumpulkan lukisan-lukisan berkualitas tinggi sebagai bagian dari koleksi Museum Neka.

Ia juga bersahabat erat dengan pelukis berdarah Belanda, Arie Smit, yang mengajari anak-anak di daerah Penestanan, Ubud, melukis dengan gaya Young Artist pada tahun 1960-an. Juga dengan maestro Affandi, yang pada masa-masa krisis keuangan, Neka selalu bersedia menjadi pembeli pertama karya-karyanya.

Atas dedikasinya, Suteja Neka menerima Penghargaan Lempad Prize (1993); Penghargaan Seni dari East-weast Center Honolulu, Hawai (1988); Anugerah Adikarya Pariwisata dari Presiden RI (1997); serta pada tahun 2018 menerima Penghargaan dari Konsul Jendral Jepang di Bali atas kontribusinya dalam meningkatkan pengertian dan hubungan persahabatan Indonesia dengan Jepang.

Dia juga menerima penghargaan ‘Joko Supo Award 2015’ selaku ‘Inspirator Pemuda dalam Pelestarian Keris Indonesia’dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI.

Manajer Bentara Budaya, Paulina Dinartisti, mengungkapkan bahwa dengan adanya program daring dari Bentara Budaya ini, diharapkan bisa mengobati kerinduan Sahabat Bentara yang terbiasa hadir dalam pertunjukan maupun pameran yang diselenggarakan Bentara Budaya di setiap lokasinya.

"Menjangkau masyarakat lebih luas tanpa batasan jarak spasial, waktu, dan generasi dalam eksistensi khasanah seni dan budaya di masa pandemik menjadi tujuan mumpuni program Teras Bentara," tutupnya. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi