Tagihan Melonjak Saat WFH, PLN Kurang Edukasi Masyarakat

Kamis, 07 Mei 2020 : 06.41
Jakarta - Saat awal pemberlakukan Work from Home (WfH) managemen PT PLN kurang melakukan edukasi kepada konsumennya bahwa salah satu efek WfH adalah naiknya konsumsi listrik.

Banyak konsumen rumah tangga berteriak, tagihan listriknya melonjak antara 50-100 persen bahkan bisa lebih. Sementara konsumen mengaku pemakaian normal.

Managemen PT PLN pun mengaku tidak ada kenaikan tarif listrik. Hal yang sama juga diaminkan oleh regulator, Ditjen Ketenagalistrikan.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengungkapkan, menuturkan,jika konsumsi energi listrik, klimaksnya tagihan akan naik. Seharusnya PT PLN memberikan edukasi dan informasi bahwa selama WfH konsumen seharusnya berhemat listrik;

"Efek WfH, petugas pencatat meter PT PLN tidak datang ke rumah konsumen, dan konsumen diminta untuk mengirimkan data posisi stand meter terakhir via photo," ungkapnya, Rabu 5 April 2020.

Jika tidak dikirimkan PLN akan menggunakan formulasi 3 bulan terakhir untuk menentukan pemakaian listrik konsumen. Hanya saja informasi ini tidak 100 persen sampai ke konsumen, sehingga konsumen tidak mengerti himbauan dan formulasi tsb.

Kesimpulannya, komunikasi publik PT PLN kepada konsumen selama pandemi terlihat kurang maksimal (minim) sehinggai informasi penting tidak sampai pada konsumen. Sehingga menimbulkan shock pada konsumen;

"Kita minta agar terhadap keluhan keluhan itu managemen PT PLN responsif dan bahkan bersifat masif dalam menangani keluhan dan pengaduan konsumen terkait lonjakan tagihan. Bahkan seharusnya PT PLN membuat posko pengaduan di masing masing area pelayanan," sambung Tulus.

Jika tagihan melonjak, misalnya 75-100 persen, sebaiknya konsumen langsung lapor ke PLN untuk minta klarifikasi.

"PT PLN harus responsif terhadap pengaduan pengaduan tersebut. Sebelum mengadu ke PLN, sebaikya konsuen mengecek dahulu posisi pemakaian kWh bulan terakhir dengan pemakaian kWh bulan sebelumnya," imbuhnya. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi