Industri Pariwisata Bali Mati Suri, Pemerintah Didesak Berikan Kelonggaran Mulai 1 Juli

Selasa, 26 Mei 2020 : 00.12
Wakil Ketua IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association) I Made Ramia Adnyana?kabarnusa
Mangupura - Kalangan industri pariwisata Bali meminta pemerintah pusat untuk memberikan kelonggaran dalam penerapan berbagai kebijakan dan aturan saat pandemi Covid-19 menjelang "New Normal".

Wakil Ketua IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association) I Made Ramia Adnyana, menyampaikan hal itu di sela-sela pemberian bantuan paket bahan pangan oleh hotelier kepada jurnalis di lobi Hotel Sovereign Tuban, Senin (25/5/2020).

Menurutnya, penerapan new normal di industri pariwisata, sejatinya telah dipersiapkan kalangan pariwisata di Bali. Beberapa SOP telah disiapkan dengan mengikuti protokol kesehatan dalam pencegahan penyebaran Covid-19.

"Termasuk mentraining tim kami, sehingga kami berharap kepada pemerintah, ada pelonggaran-pelonggaran mulai bulan Juli mendatang," harapnya. Dengan kelonggaran yang diberikan pemerintah maka pariwisata di Tanah Air dan Bali khususnya bisa bergerak kembali.

Meskipun tidak seperti normal sedia kala namun setidaknya dengan pelonggaran ini, mereka bisa mempersiapkan diri, beradaptasi dengan new normal yang akan terjadi.

Pemberian bantuan paket bahan pangan oleh hotelier kepada jurnalis di lobi Hotel Sovereign Tuban,
"Karena itu, kami berharap protokol kesehatan di bandara sangat memegang peranan penting dalam bagaimana menyaring wisatawan yang akan datang ke Bali," tandasnya.

Dengan begitu, pihaknya tinggal meneruskan, menyiapkan produk-produk yang sesuai dengan konsep new normal yang disampaikan pemerintah.

Di pihak lain, Ramia menyatakan, meski tidak beroperasi akibat wabah Covid-19, pengeluaran hotel masih cukup tinggi yakni sekitar 45 persen dari kondisi normal. Kata dia, pengeluaran sebesar itu untuk listrik, air dan maintenance lainnya termasuk salary karyawan yang dirumahkan,” ujarnya

Bila kondisi ini berlangsung lama, maka hotel tidak kuat lagi membiayai operasional. Menurut Ramia yang juga GM Hotel Sovereign ini, kondisi ini sudah berat sejak tiga bulan lalu dimana hotel sudah tak lagi beroperasi.

Hotel kini sudah megap-megap. Bahkan dia menyebut, sejak pandemi corona, dalam dua bulan terakhir ini, praktis industri pariwisata Bali, telah mati suri.

“Kekuatan kami di jajaran hotel hanya sampai Juni. Kalau tak bisa beroperasi awal Juli, kami sudah tak mampu lagi bertahan,” tambah Ramia didampingi K. Swabawa dan sejumlah pengurus IHGMA lainnya.

Karena itu para pelaku di industri pariwisata yang tergabung di IHGMA berharap ada kebijakan (pelonggaran) agar hotel bisa beroperasi meski secara bertahap dan terbatas.

Ramia juga mengaku khawatir bila kondisi sekarang terus berlanjut tanpa ada dukungan dari pemerintah terhadap industri pariwisata (hotel) berupa bailout (dana talangan), mengingat dana hotel sudah hampir habis.

Apalagi kalau ini berlanjut sampai Oktober sebagaimana yang disampaikan dari Kemenparekraf. “Bila kondisi seperti ini dibiarkan sampai Oktober dan tak ada talangan dari pemerintah, giliran hotel yang akan mati,” tutupnya. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi