Dua Pelaku Penganiayaan Anak dengan Kekerasan di Labuhanbatu Terancam 15 Tahun Penjara

Selasa, 05 Mei 2020 : 19.29
Jakarta - Penganiayaan dengan kekerasan dan diikuti penyiksaan dengan cara membuang korban pada posisi pingsan di tepi jalan merupakan tindak pidana kekerasan dan percobaan pembunuhan.

Komisi Nasional Perlindungan anak Indonesia meminta Polres Labuhanbatu, Sumatera Utara, demi keadilan bagi korban menjerat pelaku dengan UU RI Z Nomor : 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor : 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, junto UU RI Nomor : 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Tindak Pidana Anak (SPPA) dengan ancaman kurungan Pidana penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

Mengingat kasus penganiayaan dengan kekerasan, penyiksaan dan diikuti percobaan pembunuhan terhadap 2 orang anak masing-masing berinisial A (14) dan AP (16) dengan cara membuang korban di tepi jalan dalam kondisi pingsan merupakan tindak pidana yang ancamannya minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

"Untuk itu, kami mendesak Polres Labuhanbatu menggunakan hak diskresinya sebagai penegak hukum untuk segera menindaklanjuti perkara ini dan mencabut status penangguhan penahanan terhadap dua pelaku," ujar Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia Arist Merdeka Sirait melalui rilisnya kepada sejumlah media di Jakarta, Senin 4 Mei 2020.

Arits percaya bahwa Polres Labuhanbatu AKBP Agus Djarot berkomitmen akan segera melimpahkan kasus ini dengan menyerahkan barang bukti yang cukup diikuti menyerahkan kedua tersangka kepada Jaksa.

Sementara, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Labuhan Batu Muhammad Azhar Harahap menjelaskan bahwa Kasus ini berawal ketika korban A (14) dan AP (16) kedapatan mengambil BBM jenis solar di rumah tersangka sebanyak 5 liter.

Kemudian tersangka masing-masing AC dan DY warga Lingkungan VI, Kelurahan Sei Berombang, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, melakukan pemukulan terhadap korban hingga ditemukan warga dalam keadaan pingsan dan babak belur di pinggir jalan, lalu warga membawa korban ke Puskesmas terdekat.

Mendengar cerita korban, warga mengamuk dan merusak rumah toko milik tersangka dan tetangganya.

Demi penegakan dan keadilan hukum bagi korban Komnas Perlindungan Anak dan LPA Labuhanbatu akan memberikan pendampingan dan terus mengawal kasus ini sampai ke putusan Pengadilan, jelas Ashar kepada sejumlah media di Labuhan Batu. (ahs)

Rekomendasi