Dampak Corona Pukul Industri MICE, Banyak Event Dunia di Bali Dibatalkan

Selasa, 19 Mei 2020 : 10.48
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho menyampaikan hal itu, saat desiminasi hasil survei KPw Bali di Kantor BI Bali, Denpasar Selasa (19/5/2020)
Denpasar - Industri MICE di Bali merasakan dampak langsung dari pandemi virus corona Covid-19 di mana banyak event nasional dan dunia dibatalkan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho menyampaikan hal itu, saat desiminasi hasil survei KPw Bali melalui zoom meeting di Kantor BI Bali Denpasar, Selasa (19/5/2020).

Desiminasi mengusung topik SURIA (Survei Bicara), menghadirkan beberapa narasumber yakni Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda, Mira Triscahyani dari Nielson Indonesia, dan Agus Ganesha Rahyuda (Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Unud).

Trisno memaparkan, dalam survei kepada responden yang dilakukan BI menggandeng kalangan perguruan tinggi seperti Unud dan Undiksha, diketahui bagaimana dampak Covid-19 terhadap sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Bali

"Pada awal Januari sampai Februari kita optimis kunjungan wisman sampai 500 ribu," tutur mantan Kepala KPw BI DKI Jakarta ini. Namun kemudian ketika pandemi Covid-19 mulai melanda Indonesia termasuk Bali, langsung berdampak terhadap penurunan kunjungan wisatawan.

Wisman Cina yang mendominasi kunjungan ke Pulau Dewata, tercatat sampai 360 ribu terus melorot sampai bulan Maret lalu, tinggal 165 ribu dan terus merosot tajam hingga bulan April dan Mei.

Akibat turunnya kunjungan wisman itulah berdampak langsung terhadap ekonomi Bali. "Perlambatan ekonomi Bali sampai minus cukup dalam -1,14, termasuk yang paling dalam di Indonesia, bersama Yogyakarta," ungkap Trisno.

Dampak paling terasa seperti dialami industri Meeting Incentive Convention, Exhibition (MICE). Selama ini, Bali juga mengandalkan pariwisata MICE baik skala nasional maupun internasional.

Dijelaskan Trisno, sejak Februari banyak event nasional dan dunia di Bali yang dibatalkan. Padahal, dari sisi spending atau pengeluaran belanja MICE di daerah pariwisata, cukup besar, bisa 7 kali spending pariwisata leissure.

"Ini harus menjadi bahan evaluasi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dan stakeholder lainnya," imbuhnya.

Ditegaskan Trisno, survei BI Bali terhadap responden dari para pelaku usaha, pariwisata dan kelompok masyarakat lainnya, dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran, bagaimana kondisi ekonomi Bali yang terdampak pandemi corona.

Data-data hasil survei yang dipaparkan, tentunya memiliki akurasi dan mencerminkan kondisi dialami masyarakat yang terdampak Covid-19.

Nantinya, data hasil survei rutin dan berkala itu akan disampaikan ke pihak pusat yang nantinya bisa menjadi bahan atau dasar dalam pengambilan keputusan dan kebijakan.

Sementara Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda memaparkan, semua sektor di Bali, terdampak Covid19. Kontribusi pariwisata bagi ekonomi Bali kisaran antara 55 sampai 58 persen mengalami pukulan hebat dengan turunnya kunjungan wisatawan.

"Dampak pandemi Covid-19 di daerah tujuan pariwisata di Bali ini, sudah ada PHK 1.321 orang dan 55.409 pegawai yang dirumahkan," sambungnya.

Selain sektor pariwisata, sektor lain juga terdampak besar seperti perdagangan makanan dan minuman yang mengalami minus - 9,11 serta industri lain hingga minus - 8.

Selain internal BI, acara mendapat antusias kalangan akademisi, praktis, pejabat pemerintahan hingga media yang berjumlah sekitar 55 partisipan. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi