BI Bali Prediksi Inflasi Mei 2020 Masih Terkendali

Selasa, 05 Mei 2020 : 19.47
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho/ist
Denpasar - Bank Indonesia memperkirakan inflasi pada Mei 2020 di Provinsi Bali akan tetap terkendali dan berada pada kisaran sasaran 3,0±1%.

Karena itu, Bank Indonesia Provinsi Bali akan tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna memastikan inflasi terjaga dalam kisaran sasaran nasional.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengutip perhitungan BPS, pada April 2020, Provinsi Bali mengalami deflasi sebesar -0,33% (mtm), melandai dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,12% (mtm).

Sementara itu pencapaian inflasi Nasional tercatat sebesar 0,08% (mtm). Secara tahunan, inflasi Bali tercatat sebesar 2,55% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan Nasional yang sebesar 2,67% (yoy).

"Dengan demikian, inflasi Bali pada April 2020 masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 3,0%±1% (yoy)," sebut Trisno dalam keterangan tertulisnya, Selasa (5/4/2020).

Deflasi terjadi pada kedua kota sampel IHK yaitu kota Denpasar yang tercatat sebesar -0,32% (mtm) dan kota Singaraja mencatat inflasi sebesar -0,36% (mtm).

Dikatakan, TPID Kabupaten dan Provinsi terus berupaya untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga di masyarakat. TPID rutin melakukan sidak dan operasi pasar, utamanya dalam menghadapi penyebaran Covid-19 di Provinsi Bali.

Selain itu, TPID juga akan melakukan gerakan Lumbung Pangan untuk memastikan distribusi kepada seluruh lapisan masyarakat di Bali. Tekanan harga bulan April ini, menurun dibandingkan bulan sebelumnya.

Menurunnya tekanan harga (deflasi) terutama terlihat pada komoditas daging ayam ras, harga tiket angkutan udara, cabai merah, dan telur ayam ras. Turunnya tekanan harga disebabkan oleh lesunya permintaan, terutama dari industri pariwisata akibat penyebaran Covid-19.

Di sisi lain, tidak terdapat permasalahan baik dari sisi pasokan dan distribusi menyebabkan turunnya harga komoditas. Deflasi inti (Core Inflation) pada bulan April tercatat sebesar 0,02% (mtm), turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,44% (mtm).

Kemudian. penurunan ini terjadi akibat turunnya harga sebagian besar komoditas di dalam kelompok ini, terutama untuk canang sari, toiletries, dan makanan. Namun demikian, harga emas perhiasan masih meningkat seiring dengan naiknya harga emas dunia.

Sejalan dengan hal tersebut, pada bulan ini komoditas Volatile Food juga mengalami deflasi sebesar 1,41% (mtm), lebih dalam jika dibandingkan dengan Maret 2020 (-0,54%, mtm).

Penurunan terdalam terlihat untuk daging ayam, cabai merah, telur ayam, bawang putih, dan minyak goreng. Turunnya harga komoditas VF disebabkan oleh lesunya permintaan secara signikan di tengah pasokan yang memadai.

Selanjutnya, tekanan harga untuk komoditas Administered Price juga terus menurun menjadi -0,53% (mtm). Penurunan ini bersumber dari turunnya harga tarif angkutan udara, seiring dengan penutupan bandara selama bulan Ramadan hingga Lebaran untuk mengantisipasi arus mudik. (rhm)

Rekomendasi