Selama Tiga Bulan, Panen Perikanan Budidaya Diproyeksikan Capai 450 Ribu Ton

Selasa, 07 April 2020 : 08.52
Kementerian Kelautan dan Perikanan memastikan pelaku usaha perikanan budidaya tanah air tetap berproduksi di tengah pandemi Coronavirus Diseases 2019 (Covid-19). Estimasi panen komoditas ini mencapai 450 ribu ton sepanjang April hingga Juni 2020/KKP.
Jakarta - Diperkirakan panen perikanan budaya di sejumlah wilayah selama tiga bulan ke depan mencapai 450 ribu ton.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan pelaku usaha perikanan budidaya tanah air tetap berproduksi di tengah pandemi Coronavirus Diseases 2019 (Covid-19). Estimasi panen komoditas sektor ini mencapai 450 ribu ton sepanjang April hingga Juni 2020.

Komoditas perikanan budidaya yang dimaksud meliputi ikan air tawar, ikan laut non-udang, dan udang. Rinciannya, estimasi panen ikan air tawar sebanyak 341.494 ton; budidaya ikan laut non-udang 4.400 ton; dan udang 104.941 ton.

Lokasi panen tersebar di wilayah seperti Aceh, Bengkulu, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Kepri, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Kalimantan hingga Maluku.

"Itu angka estimasi hasil panen tiga bulan, dari April sampai Juni 2020," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Edhy Prabowo di Jakarta, Senin (6/4/2020).

Guna mendukung perikanan budidaya terus berjalan di tengah pandemi corona, Edhy meminta Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) mempertimbangkan penundaan kenaikan harga pakan ikan dan udang.

Menurutnya, sinergi dan saling mendukung sangat dibutuhkan saat ini agar roda ekonomi tetap berjalan dan pembudidaya tetap sejahtera.

Selain sektor budidaya, Menteri Edhy memastikan usaha perikanan tangkap juga terus beraktivitas. Estimasi produksi perikanan laut sepanjang April hingga Juni 2020 mencapai 1,6 juta ton.

Lebih lanjut, sejak mewabahnya virus corona di Indonesia dan negara-negara lain di dunia, harga udang dan ikan air payau laut hasil budidaya mengalami penurunan 20 hingga 30 persen.

Dikatakan, penurunan harga ini sejalan dengan menurunnya permintaan imbas tutupnya banyak restoran di Indonesia dan dunia.

"Namun begitu, kebutuhan rumah tangga tidak pernah berhenti. Sehingga kami menghitung ini sementara (penurunannya). Begitu pandemi ini selesai, permintaan terhadap ikan dan kebutuhan pokok yang berbasis perikanan, akan meningkat," tandasnya.

Pihaknya mengupayakan hasil produksi pembudidaya maupun nelayan tetap terserap. Sejumlah strategi sudah disusun, salah satunya dengan mengajak Kementerian Sosial dan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk memasukkan produk perikanan dalam paket bantuan ke masyarakat.

Kemensos memiliki Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai. Jika dalam paket bantuan ada hasil perikanan, entah itu ikan segar atau ikan olahan, tentu produksi sektor perikanan bisa terserap.

Selain itu, KKP mempersiapkan gudang-gudang pendingin (cold storage) untuk menampung hasil produksi masyarakat perikanan. (riz)
Bagikan Artikel

Rekomendasi