Kucurkan Pendanaan Hingga Rp137 Triliun, Investor Lirik Sektor Ekonomi Digital RI

Rabu, 29 April 2020 : 22.02
Co-founder & Managing Partner, East Ventures Willson Cuaca/Foto:Katadata
Jakarta - Sektor Ekonomi Digital Indonesia memiliki peluang menjanjikan dan menjadi daya tarik para pemilik dana besar asing sebagaimana terihat dari nilai investasi yang ditanamnkan untuk sektor ini sejak 2016 sampai semester I-2019 mencapai US$9,8 miliar atau setara Rp137 triliun dari total 820 kesepakatan.

Pesatnya perkembangan dunia digital di Indonesia, salah satunya tercermin dalam pertumbuhan pengguna internet yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasakan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia mencapai 64,8% pada 2018 atau naik 10,1% dari tahun sebelumnya dengan penetrasi sebesar 54,7%.

Meningkatnya penetrasi internet ditopang oleh membaiknya infrastruktur digital yang tersedia di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Hal ini tergambar juga dalam East Ventures - Digital Competitiveness Index (EV-DCI) yang memperlihatkan bahwa dua pilar utama yang unggul adalah infrastruktur digital dan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Kedua pilar ini mendapat skor tertinggi dan memberikan kontribusi positif pada skor daya saing digital Indonesia secara umum. Selain itu, dua pilar ini menjadi potensi dan modal besar bagi Indonesia untuk dapat lebih bersaing secara global di bidang digital.

Selain penetrasi internet, penggunaan media sosial juga menjadi temuan yang cukup menarik. Merujuk riset We Are Social pada 2019, 56% penduduk Indonesia tercatat mempunyai media sosial dan aktif menggunakannya untuk aktivitas harian mereka.

Dengan adanya kesiapan dari sisi infrastruktur digital dan tingginya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi seperti terungkap dalam East Ventures - Digital Competitiveness Index 2020, Indonesia menjadi pasar yang potensial untuk pengembangan ekonomi digital.

Tumbuhnya berbagai platform jual-beli online (e-commerce), transportasi online (ride hailling), jasa keuangan online (financial technology), hingga digitalisasi pariwisata (online travelling) membuat ekosistem ekonomi digital Indonesia semakin beragam.

Co-founder & Managing Partner, East Ventures Willson Cuaca mengungkapkan, munculnya berbagai macam e-commerce mencerminkan dampak nyata digitalisasi pada sektor perdagangan dan retail.

Hal ini. telah mengubah pola belanja masyarakat Indonesia. Kemudahan berbelanja dengan sistem onlineturut membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk dapat melakukan ekspansi pasar yang lebih luas.

Lima tahun terakhir, dunia digital mengalami pertumbuhan pesat. Ekosistem digital sedikit banyak memberikan perubahan bagi aktivitas sehari-sehari sekaligus berdampak pada sistem perekonomian termasuk di dalamnya soal tenaga kerja.

Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi terbesar keempat di dunia, merupakan pasar yang sangat atraktif tak terkecuali untuk ekosistem digital.

Terus meningkatnya penetrasi internet serta didukung oleh infrastruktur yang memadai, tak pelak membuat daya tarik pasar digital Indonesia semakin besar.

Secara struktur ekonomi pada 2018, porsi sektor yang terkait ekonomi digital masih terbilang kecil. Sektor Informasi dan Komunikasi dan Jasa Keuangan masing-masing berkontribusi sebesar 3,77 % dan 4,15 % terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

"Rata-rata pertumbuhan sektor terkait ekonomi digital ini selalu berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional setidaknya terlihat dalam lima tahun terakhir," tuturnya dalam paparan tertulisnya awal April 2020.

Ke depan, ekonomi digital diperkirakan akan tumbuh semakin pesat. Berdasarkan kajian Google, Temasek, dan Bain Company bertajuk “e-Conomy SEA 2019”, nilai ekonomi digital ASEAN-6 pada 2015 mencapai US$ 32 miliar atau setara dengan 1,7 persen PDB kawasan.

Pada 2019, nilainya meningkat menjadi US$ 100 miliar atau sekitar 3,7 persen PDB kawasan dan diperkirakan akan meningkat menjadi US$ 300 miliar atau 8,5 persen PDB pada 2025.

Indonesia merupakan negara dengan nilai ekonomi digital terbesar di kawasan ASEAN dan tumbuh paling cepat.

Pada 2015, nilai ekonomi digital Indonesia baru sekitar Secara regional, rata-rata daya saing digital provinsi yang terletak di pulau Jawa merupakan yang terbaik, jauh melampaui wilayah lainnya.

Posisi terendah di Jawa, yakni Jawa Tengah hanya kalah dari Kalimantan Timur dan Bali. Sisanya, wilayah lain di luar Jawa memiliki daya saing lebih rendah dibandingkan daerah-daerah di pulau Jawa.

Hal ini juga mengindikasikan bahwa sebaran ketimpangan daya saing digital bukan terjadi antara wilayah Barat dan Timur Indonesia, atau antara kota besar dan kota kecil Namun, ketimpangan lebih terjadi antara wilayah Jawa dan non-Jawa.

Pasalnya, wilayah selain Jawa memiliki sebaran yang cukup merata untuk daya saing digital.

Melalui investasinya di 170 startup digital di Asia Tenggara yang 130 di antaranya lahir dan beroperasi di Indonesia East Ventures adalah salah satu modal ventura berkinerja terbaik di dunia dan konsisten memberikan IRR (Internal Rate of Return) yang tinggi.

Dengan wilayah yang terdiri dari 17.000 pulau dan jumlah penduduk melampaui 264 juta jiwa, Indonesia adalah salah satu perekonomian terbesar di dunia.

Salah satu pendorong utama pertumbuhan perekonomian Indonesia adalah jumlah penduduk usia muda dan kelas ekonomi menengah. Penduduk usia produktif (usia 15 hingga 64 tahun) di Indonesia diprediksi mencapai 179,1 juta pada 2020 atau setara tiga kali lipat populasi Inggris.

East Ventures bekerja bersama para pendiri startup untuk membangun ekosistem digital Indonesia dari nol sejak hari-hari pertama, seperti Tokopedia dan Traveloka.

Perusahaan kemudian mengembangkan aktivitas investasinya dengan mendukung startup dari beragam industri seperti industri penunjang e-commerce Waresix (logistik), Xendit (pembayaran), Kudo (offline to online), Sirclo dan Shopback (pendukung e-commerce), dan Sociolla (new retail produk kecantikan).

Perusahaan juga berinvestasi di startup media dengan beragam sasaran pembaca seperti IDN Media (milenial dan gen-Z), Tech in Asia (industri teknologi) dan Katadata (bisnis dan ekonomi).

Portofolio lain East Ventures adalah startup yang menyediakan platform teknologi bagi UKM seperti Mekari (akuntansi, pajak, dan payroll), Moka (point of-sale), CoHive (co-working), new retail seperti Warung Pintar (FMCG) dan Fore Coffee (on-demand Coffee chain), serta sektor transformasi digital seperti Advotics (analisis rantai pasok) dan Nodeflux (computer vision dan AI).

Dana kelolaan East Ventures, yang terdiri dari early stage fund dan growth fund, kini telah tumbuh menjadi aset senilai US$1,2 miliar.

Perusahaan turut berpartisipasi dalam 20 exit, termasuk diantaranya, akuisisi Kudo oleh Grab, akuisisi Loket oleh Gojek, akuisisi Bridestory oleh Tokopedia, dan proses akuisisi-akuisisi lain yang melibatkan kelompok bisnis lokal dan regional.

Secara total, portofolio East Ventures telah berhasil menarik investasi bernilai US$4 miliar dalam bentuk pendanaan lanjutan yang turut mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Tepat satu dekade yang lalu, pada 2009, baru ada 30 juta pengguna internet di Indonesia dengan komputer sebagai perangkat utama. Penggunaa smartphone baru saja dimulai dan aplikasi-aplikasi sosial yang disebut sebagai web 2.0 mulai banyak digunakan.

East Ventures berdiri pada tahun yang sama dengan misi menjadi platform wirausaha teknologi (technology startup) Indonesia berbekal tiga hipotesis yaitu potensi pengguna internet di Indonesia, tingkat adopsi digital, dan perkembangan smartphone.

East Ventures kini telah berinvestasi di lebih dari 170 perusahaan startup termasuk sebagai investor pertama yaitu Tokopedia dan Traveloka. Kami juga menjadi pemodal pertama di Kudo, Warung Pintar, IDN Media, Sociolla, Waresix, dan Ruangguru.

Hampir semua dari 170 startup tersebut memiliki founder lokal yang belum pernah mengelola perusahaan. Investasi East Ventures adalah leap of faith atas potensi pemuda-pemudi Indonesia karena di dunia baru industri digital, pengalaman tidak selalu relevan.

Dalam 4 tahun terakhir, terjadi ledakan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Google, Temasek, dan Bain Company memperkirakan GMV ekonomi berbasis internet Tanah Air telah menembus US$40 miliar pada 2019 dan bakal menyentuh US$133 miliar pada 2025.

Indonesia adalah pasar digital terbesar di Asia Tenggara, berkontribusi terhadap 40% dari ekonomi internet di regional. Dalam menarik uang investor, Indonesia menempati peringkat kedua setelah Singapura.

Industri digital Indonesia juga melahirkan lebih banyak unikorn dibanding negara lain di Asia Tenggara. Perusahaan dari negara lain sulit meraih status unikorn tanpa hadir di Indonesia.

Industri digital adalah perekonomian yang berbasis penguasaan teknologi dan pengetahuan (knowledge based economy), bukan bertumpu pada penguasaan aset.

Ini membuka kesempatan yang sama bagi perusahaan-perusahaan rintisan untuk mengambil peran sentral dalam membangun ekonomi digital Indonesia bersama korporasi raksasa dan perusahaan multinasional.

Para founder lokal membangun perusahaannya di atas fondasi ekonomi digital Indonesia, yaitu kecepatan adaptasi penduduk Tanah Air dengan aplikasi mobile. Ada sekitar 140 juta penambahan pengguna Internet di Indonesia di tahun 2009-2019.

"Namun, kami memahami bahwa Indonesia tidak hanya Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Indonesia adalah perkebunan di Sumatra, perkampungan nelayan di kepulauan Maluku, dataran tinggi Papua, hutan di Kalimantan," sambung Wilson.

Masih banyak penduduk Indonesia yang belum merasakan sentuhan teknologi digital di kehidupan sehari-harinya.

"Jangan sampai kita yang hidup di kota melupakan itu. Oleh karena itu, ekonomi digital Indonesia harus hadir dengan semangat inklusif. Para pengguna baru internet di Tanah Air tidak hanya merasakan perubahan gaya hidup, tetapi juga menikmati manfaat ekonominya," katanya mengingatkan.

Pedagang kecil yang membuka lapak di e-commerce, mitra pengemudi layanan on-demand, hingga pemilik warung yang menerima pembayaran listrik kini ikut berkontribusi menggerakan ekonomi Indonesia.

"East Ventures Digital Competitiveness Index (EVDCI) adalah upaya kami untuk memetakan dampak perkembangan ekonomi digital di seluruh Nusantara," imbuhnya.

Ekonomi digital menjanjikan inklusivitas, pemerataan peluang ekonomi bagi seluruh penduduk Indonesia. Indeks ini adalah indikator dari keberhasilan industri digital dalam mewujudkan janjinya.

Data yang dikumpulkan dalam EV-DCI bukan ditujukansebagai sebuah kesimpulan. Indeks ini adalah titik awal yang memulai fase berikut dari transformasi digital Indonesia.

"Kami ingin mendorong semua pemangku kepentingan untuk ikut terlibat dan turut menikmati dampak positif ekonomi digital," demikian Wilson. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi