Jadi Pusat Bisnis, Denpasar Perlu Ditopang Input Digital yang Memadai

Rabu, 29 April 2020 : 17.06
Willson Cuaca Co-founder & Managing Partner, East Ventures/foto: merdeka.com
Jakarta - Denpasar sebagai Ibu Kota Provinsi Bali terus tumbuh menjadi salah satu pusat bisnis di Tanah Air bahkan skor EV-DCI peringkat ketujuh yaitu 43,0. Guna mengimbangi laju ekonomi bisnisnya Denpasar masih perlu ditopang infrastruktur teknologi atau input digital yang memadai.

Kota Denpasar menjadi kota di wilayah Bali-Nusra dengan skor EV-DCI tertinggi, yaitu 43,0. Kota ini juga menjadi pusat bisnis provinsi Bali dan masuk ke dalam rencana pemerintah sebagai kota metropolitan baru.

Hanya saja, rencana tersebut belum didukung dengan input digital yang memadai sebagaimana hasi East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) di level kota dan kabupaten yang menghitung daya saing digital di 157 kota dan kabupaten.

Dalam laporan itu, pilar penggunaan ICT di Kota Denpasar yang masih rendah, sebesar 38,4. Demikian juga, Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada belum berkemampuan digital seperti terlihat dari skor pilar ini sebesar 7,8.

Karenanya, input yang tergolong rendah itu jelas berdampak pada perekonomian bidang digital yang masih rendah, yaitu 53,4. Selain itu, kewirausahaan bidang digital juga masih minim dengan skor 33,2.

Kendati demikian, infrastruktur di kota ini sebenarnya sudah cukup baik dengan skor 76,3. Jika melihat pilar keuangan di Denpasar sejatinya cukup besar mencapai 46,5 merupakan yang tertinggi ke-4 di tingkat nasional.

Wali Kota Denpasar IB Rai Dhamawijaya Mantra dalam sebuah kesempatan setelah meraih predikat Golden Champion pada The 2nd Indonesia Smart Nation Awards Smart City Kategori Kota Besar, akan lebih terpacu di dalam penggunaan Infomasi Teknologi di dalam memberikan pelayanaan ke pada masyrakat kedepannya.

Dengan kemajuan teknologi masyarakat akan sangat terbantu didalam bidang pelayanan, dikarenakan kemajuan teknologi masyarakat bisa mengakses semua informasi dengan cepat, mudah dan transparan.

Denpasar juga menjadi kota yang mendapatkan modernisasi jaringan melalui penyediaan jaringan 100% berbasis fiber optic dengan diresmikannya Denpasar Modern Broadband City dilakukan oleh Wakil Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, Kamis (19/12/2019).

Wali Kota Rai Mantra mengapresiasi dengan terhubungnya Denpasar dengan jaringan 100% fiber optic. Dia mengharapkan kehadiran konektivitas fiber optic ini dapat mendukung peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sejalan dengan visi dan misi Kota Denpasar.

“Infrastruktur ICT berbasis fiber optic diharapkan membantu meningkatkan layanan kepada masyarakat, meningkatkan kualitas Indeks Pembangunan Manusia di Kota Denpasar serta mendukung Kota Denpasar menjadi Smart City terbaik,” ujar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra akhr tahun 2019.

Di pihak lain, Indonesia terus tumbuh dan berkembang menjadi negara urban, yakni negara dengan populasi yang lebih banyak tinggal di perkotaan. Menurut laporan Bank Dunia pada 2019, sebanyak 57% penduduk Indonesia tinggal di daerah perkotaan.

Dalam kontek itulah, Co-founder & Managing Partner, East Ventures Willson Cuaca memaparkan, di era digital sekarang ini, daerah perkotaan menjadi gerbang awal masuknya digitalisasi, sekaligus mengalami transformasi bahkan disrupsi digital, sebelum nantinya akan menyebar ke daerah pedesaan.

"Dengan tren dan kondisi seperti ini, selain meneliti dan memetakan daya saing digital di tingkat provinsi, perlu uga mengetahui kondisi daya saing digital pada tingkat kota dan kabupaten," kata Wilson dalam paparan tertulisnya awal April 2020.

East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) di level kota dan kabupaten ini menghitung daya saing digital di 157 kota dan kabupaten. Jumlah kota dan kabupaten ini dipilih berdasarkan laporan Bank Dunia bertajuk “Time to ACT: Realizing Indonesia’s Urban Potential” pada 2019.

Merujuk laporan tersebut, terdapat 28 kawasan metropolitan yang terdiri dari 80 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia. Selain itu, terdapat 82 kota dan kabupaten lain yang mempunyai karakter urban dengan proporsi populasi urban lebih dari 50% penduduk.

Total sebanyak 162 kota dan kabupaten yang masuk kategori metropolitan dan daerah urban. Khusus untuk DKI Jakarta, kota dan kabupaten di dalamnya bersifat tidak otonom, maka digabung dalam satu kesatuan DKI Jakarta.

Dengan demikian, daerah urban yang diteliti berjumlah 157 kota dan kabupaten di Indonesia.

Sektor Informasi dan Komunikasi yang menjadi tulang punggung ekonomi digital mencatatkan peningkatan tertinggi dengan 15,8%. Pada 2018, 77% pekerja di sektor ini mempunyai kualifikasi sebagai tenaga terampil.

Pengadaan Listrik dan Gas serta Jasa Keuangan menempati posisi kedua dan ketiga dengan masing-masing peningkatan sebesar 15,4% dan 14,1%.

Meningkatnya porsi tenaga terampil terlihat di semua provinsi. Menariknya, daerah-daerah dengan EV-DCI tinggi menunjukkan peningkatan porsi tenaga terampil yang juga tinggi.

Hal ini mengindikasikan bahwa daerah dengan daya saing digital tinggi, cenderung menyerap tenaga-tenaga profesional dan terampil di daerahnya. Tingginya permintaan untuk profesi seperti Data Scientist, Data Analyst, dan Data Engineer menjadi contoh adanya perubahan tenaga kerja dalam era digital.

Di tengah keterbatasan kapasitas institusi pendidikan formal, perusahaan seperti Hacktiv8 berusaha menyediakan platform alternatif untuk pelatihan keterampilan coding guna merespons perubahan permintaan pasar.

Merujuk riset Katadata Insight Center pada tahun 2018, hampir 22% permintaan lowongan kerja di DKI Jakarta didominasi oleh sektor Informasi dan Komunikasi dengan jenis pekerjaan berkutat di bagian Data dan Teknologi.

Daerah dengan indeks daya saing digital paling tinggi ini banyak membutuhkan tenaga-tenaga dengan keterampilan digital yang mumpuni. Di wilayah dengan daya saing digital tinggi, perusahaan rintisan memberikan beragam perangkat untuk meningkatkan produktivitas.

Contohnya, Advotics yang membantu ribuan agen sales merencanakan rute penjualan, Mekari yang menyediakan software akuntansi, pajak dan payroll, serta Nodeflux yang membantu Ditjen Dukcapil mengadaptasi teknologi pengenalan visual dalam proses administrasi kependudukan. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi