Dampak Covid-19, BI Bali Minta Daerah Waspadai Tekanan Inflasi

Kamis, 02 April 2020 : 07.26
Denpasar - Bank Indonesia akan terus mengawal laju inflasi di Bali pada level yang rendah dan stabil dengan membangun sinergi kerja sama bersama seluruh pemerintah daerah di Pulau Dewata.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengungkapkan, hal itu saat paparan inflasi pada bulan Maret 2020.

Trisno menyatakan, meskipun saat ini wabah Covid-19 menuntut adanya pembatasan sosial yang berkonsekuensi terhadap perlambatan beberapa kegiatan produksi dan distribusi, namun mengharuskan semua pihak untuk lebih waspada terhadap tekanan inflasi ke depan.

Untuk itu, menghadapi potensi tantangan tersebut, Bank Indonesia Provinsi Bali bersama dengan Pemerintah Daerah baik di tingkat Provinsi maupun tingkat Kabupaten/Kota melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus mengawal inflasi Bali agar tetap dalam level yang rendah dan stabil.

"Dalam upaya menjamin ketersediaan pasokan bahan kebutuhan pokok, Bank Indonesia senantiasa mendorong Pemerintah Daerah untuk melakukan kerjasama antar daerah," tandasnya dalam keterangan tertulis, Kamis (2/4/2020).

Diketahui, selama bulan Maret terjadi penurunan harga tanaman hortikultura dan angkutan udara sehingga. mengakibatkan tekanan inflasi Provinsi Bali pada bulan Maret 2020 melandai

Trisno menjelaskan, inflasi melandai itu terjadi karena adanya penurunan harga tanaman hortikultura tercermin dari turunnya harga bawang putih dan cabai.

"Kondisi ini terjadi sebagai hasil dari telah tibanya kiriman bawang putih dari Tiongkok dan India," tuturnya. Sedangkan pasokan cabai terpantau masuk dari provinsi tetangga NTB dan dari Jawa Timur.

Trisno menambahkan, turunnya harga angkutan udara disebabkan penurunan harga tiket sebagai hasil dari koordinasi antara pemerintah dan industri penerbangan dengan penurunan harga tiket sampai dengan 50%.

Program ini diadakan dalam rangka menggalakkan pariwisata khususnya bagi wisatawan domestik untuk mengkompensasi turunnya arus wisatawan mancanegara.

"Namun, sebelum program ini berjalan secara efektif, perkembangan dunia pariwisata dan penerbangan terkendala karena penyebaran Covid-19 ke Indonesia meluas," tandasnya. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi