Bali Masih Menjadi Pusat Perdagangan Produk Mengandung Penyu Sisik

Kamis, 16 April 2020 : 18.52
Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Balai Pengelola Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar dan koalisi organisasi lingkungan termasuk PROFAUNA memasang papan informasi terkait pelarangan perdagangan produk yang mengandung penyu sisik/ist.
Denpasar - Bali masih menjadi incaran para pelaku perdagangan produk mengandung penyu sisik sebagai satwa yang dilindungi. Hasil investigasi PROFAUNA menunjukkan, Bali masih menjadi salah satu pusat perdagangan produk mengandung penyu sisik.

Dari survey tim pada bulan Juni-September 2019 di Bali, dari 353 toko yang dikunjungi, ada 25 toko yang menjual produk mengandung penyu sisik.

"Lokasi utama di Bali yang banyak menjual produk mengandung penyu sisik berada di Sukawati," sebut Muhhamad Jayuli, juru bicara koalisi perlindungan penyu di sela pemasangan papan informasi terkait pelarangan perdagangan produk yang mengandung penyu sisik di Denpasar, Bali (14/4/2020).

Ia melanjutkan, dari 22 toko yang dikunjungi, tercatat ada 13 toko yang menjual produk penyu sisik. Selain Sukawati, produk mengandung karapas penyu sisik juga dijual di Denpasar, Dalung dan Ubud.

Harga produk mengandung penyu sisik itu ditawarkan dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 15.000 untuk cincin yang sederhana, hingga jutaan rupiah untuk kipas tangan.

Karena itulah, tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Balai Pengelola Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar dan koalisi organisasi lingkungan termasuk PROFAUNA memasang papan informasi terkait pelarangan perdagangan produk yang mengandung penyu sisik.

Papan informasi dipasang di area Pasar Seni Kumbasari dan Pasar Badung. Pemasangan ini sebagai kerjasama antara BKSDA, BPSPL, Polairud Bali dan organisasi lingkungan yang bergerak dalam perlindungan penyu yakni Yayasan Penyu Indonesia (YPI), PROFAUNA Indonesia, Turtle Foundation, dan Too RareToWear.

Pemasangan papan informasi tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak membeli ataupun memakai produk mengandung penyu. "Khususnya penyu sisik yang biasanya diambil karapasnya untuk dijadikan souvenir ataupun perhiasan,” imbuh Jayuli.

Dipasangnya papan infomasi tersebut juga dilatarbelakangi hasil investigasi PROFAUNA yangmenunjukan salah satu pusat perdagangan produk mengandung penyu sisik adalah diBali.

Rosek Nursahid, Ketua PROFAUNA Indonesia menyambut baik kolaborasi yang positif antara pemerintah dan organisasi lingkungan untuk bersama-sama memerangi perdagangan penyu di Bali ini.

"Saya berharap kedepannya juga ada upaya penegakan hukum,” harap Nursahid. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi