Tuberkulosis, Covid-19 dan Stigmatisasi

Senin, 23 Maret 2020 : 10.55
Tuberkulosis atau Tuberculosis (TBC) dan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), dua penyakit saluran pernafasan dengan cara penularan dan prinsip pencegahan yang tidak berbeda.

Orang yang sakit sebagai sumber penularan harus ditemukan sedini mungkin kemudian diobati sampai sembuh untuk mencegah penularan lebih lanjut.

Perbedaan utama keduanya terletak pada waktu perjalanan penyakit, TBC adalah penyakit menular kronis sedangkan Covid-19 tergolong akut dengan daya dan kecepatan yang lebih tinggi.

Setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari TBC Sedunia mengenang secara resmi penemuan bakteri Mycobacterium tuberculosis oleh Dr. Robert Koch pada tahun 1882 dan untuk meningkatkan kesdaran masyrakat terhadap bahaya TBC.

Sudah 138 tahun sejak ditemukan, TBC masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di dunia termasuk Indonesia. Bahkan Indonesia menempati urutan ketiga jumlah kasus TB di dunia setelah India dan China.

Indonesia menyumbang 8% kasus TBC dunia dengan jumlah kasus baru per tahun sebanyak 845 ribu orang dan jumlah kematian karena TBC per tahun lebih dari 98 ribu orang.

“The biggest disease today is not leprosy or tuberculosis, but rather the feeling of being unwanted” Sebuah quote dari Bunda Teresa mempunyai arti penting dalam program penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di dunia termasuk Indonesia.

Beliau memang menyampaikan TBC bukan penyakit terbesar di dunia tetapi lebih pada perasaan tidak diinginkan, tidak dipedulikan tetapi bagaimana jika seorang dengan TBC mengalami perasaan tersebut?

Perasaan tidak diinginkan, tidak dipedulikan merupakan salah satu bentuk keyakinan stigma terintenalisasi yang berdampak sangat tidak baik terhadap perilaku kesehatan.

Pada orang dengan TBC perasaan ini menyebabkan beban ganda secara fisik, psikologis dan sangat menghambat perilaku mereka untuk mencari layanan pengobatan.

Stigma adalah pelabelan, stereotip, keadaan dijauhi, dibedakan, tidak diinginkan, tidak dipedulikan dan atau mendapat status yang lebih rendah dalam interaksi sosial karena kondisi sosial tertentu, mengalami kecacatan, penyakit atau masalah kesehatan tertentu.

Masalah stigma tidak hanya terjadi pada orang dengan TBC tetapi juga pada pasien Covid-19 yang sekarang telah menjadi pandemi di dunia. Penanggulangan stigma pada Covid-19 dapat belajar dari TBC.

Stigma terhadap TBC berdampak pada setiap tahap perjalanan penyakit, mulai pada orang yang terpajan, terduga, baru terdiagnosis, pada yang sedang menjalani pengobatan bahkan pada yang sudah sembuh.

Pada orang yang terpajan dan terduga TBC, keyakinan stigma berdampak menghambat keinginan dan tindakan mereka mengikuti pemeriksaan. Keterlambatan diagnosis dan mulai pengobatan adalah salah satu dampak yang ditimbulkan.

Pada orang dengan TBC keyakinan stigma menyebabkan ketakutan sehingga mengurangi tindakan penggunaan masker dan berisiko terjadi penularan.

Pelaksanaan investigasi kontak juga terhambat akibat orang dengan TB tidak menyampaikan secara terbuka siapa saja yang menjadi kontak eratnya dan kunjungan rumah dapat terjadi penolakan karena orang dengan TB dan keluarganya tidak mau penyakitnya diketahui oleh tetangga sekitar.

Pada yang sedang dan sudah menjalani pengobatan dapat menghambat pemulihan terutama pemulihan secara psikologis dan sosial. Mereka dapat mengalami rasa kurang percaya diri yang bertahan dalam jangka waktu lama jika tidak ditangani.

Upaya untuk mengurangi dan menghilangkan stigma harus dilakukan secara menyeluruh mulai tingkat individu (intrapersonal), lingkungan dekat (interpersonal), program TB (organizational), masyarakat, pemerintah (kebijakan).

Pada tingkat individu penanganan dan perawatan dilaksanakan berpusat pada kebutuhan dan kondisi pasien.

Konseling, edukasi dan informasi kepada orang dengan TBC harus diberikan secara komprehensif yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tetapi juga menyentuh aspek psikologis untuk meperbaiki keyakinan mereka tentang TBC.

Dukungan sosial dari keluarga, teman, mantan orang dengan TBC dalam bentuk support groups harus ditingkatkan.

Penyampaian pengalaman beberapa orang terkenal yang telah secara terbuka menyampaikan pernah mengalami dan sembuh dari TBC, seperti Bapak BJ Habibie, Duta Sheila on 7 dan Fitri Tropica, sangat penting untuk memotivasi dan membangkitkan kepercayaan diri mereka.

Program TB agar senantiasa meningkatkan kinerja dalam memberikan pelayanan berpusat pada pasien dengan meningkatkan kapasitas petugas dan dokter yang menangani TBC.

Pelatihan petugas untuk edukasi, penyediaan media edukasi dan penggunaan istilah yang bebas stigma harus terus dilakukan.

Pada tingkat masyarakat, kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang TBC sebagai masalah bersama harus dilaksanakan secara berkelanjutan. Kebijakan-kebijakan pada sektor terkait harus terus didorong agar sejalan dengan program penanggulangan TBC.

Pandemik Covid-19 saat ini telah menyita sebagian besar perhatian, upaya dan sumber daya kesehatan termasuk dalam program penanggulangan TBC.

Kedepan, upaya penanggulangan keduanya harus berjalan selaras. Dalam mengatasi masalah stigma pada Covid-19 dapat belajar dari upaya mengatasi stigma pada TBC.

Erving Goffman dalam bukunya berjudul “Stigma: Notes on the management of spoiled Identity” menuliskan “The normal and the stigmatized are not persons, but perspectives”.

Maka hal mendasar yang harus diperbaiki untuk menghilangkan stigma terhadap penyakit adalah memperbaiki cara pandang.

Tidak hanya cara pandang terduga, pasien dan keluarganya tetapi yang lebih penting cara pandang masyarakat dan semua stakeholder yang terlibat dalam penanggulangan penyakit.

TBC bukan hukuman untuk orang tertentu tetapi dapat terjadi pada setiap orang. Orang dengan TBC tidak boleh dijauhi, dikucilkan dan diabaikan tetapi harus senantiasa didukung untuk sembuh.

TBC bukan masalah orang yang sakit dan keluarganya saja tetapi urusan semua orang. Semasih menghirup udara yang sama, hidup di atas bumi yang sama maka siapapun bisa mengalami dan wajib berperan dalam penanggulangannya. (*)

* I Wayan Gede Artawan Eka Putra, Dr., dr., M.Epid, Staf pengajar di Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana dan anggota Komisi Ahli Penanggulangan TBC Nasional.
Bagikan Artikel

Rekomendasi