Tinggalkan Stigma, Penanggulangan Covid-19 Bisa Belajar dari TBC

Senin, 23 Maret 2020 : 09.55
Staf pengajar Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana Dr I Wayan Gede Artawan Eka Putra/ist
Denpasar - Penanggulangan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang kini telah menjadi pandemi bisa belajar dari pengalaman penanganan Tuberkulosis atau Tuberculosis (TBC).

Baik Covid-19 maupun TBC, sejatinya adalah dua penyakit saluran pernafasan dengan cara penularan dan prinsip pencegahan yang tidak berbeda.

Staf pengajar Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana Dr I Wayan Gede Artawan Eka Putra, menuturkan, hal yang penting dalam penanganan penyakit tersebut, adalah masih adanya stigma negatif di masyarakat.

Stigma adalah pelabelan, stereotip, keadaan dijauhi, dibedakan, tidak diinginkan, tidak dipedulikan dan atau mendapat status yang lebih rendah dalam interaksi sosial karena kondisi sosial tertentu, mengalami kecacatan, penyakit atau masalah kesehatan tertentu.

"Masalah stigma tidak hanya terjadi pada orang dengan TBC tetapi juga pada pasien Covid-19 yang sekarang telah menjadi pandemi di dunia," tutur Artawan dalam keterangan tertulisnya, Senin (23/3/2020).

Karenanya, lanjut Artawan, penanggulangan stigma pada Covid-19 dapat belajar dari TBC.

"Stigma terhadap TBC berdampak pada setiap tahap perjalanan penyakit, mulai pada orang yang terpajan, terduga, baru terdiagnosis, pada yang sedang menjalani pengobatan bahkan pada yang sudah sembuh," tukas anggota Komisi Ahli Penanggulangan TBC Nasional ini.

Orang yang sakit sebagai sumber penularan harus ditemukan sedini mungkin kemudian diobati sampai sembuh untuk mencegah penularan lebih lanjut.

Perbedaan utama keduanya, terletak pada waktu perjalanan penyakit. TBC adalah penyakit menular kronis sedangkan Covid-19 tergolong akut dengan daya dan kecepatan yang lebih tinggi.

Keterlambatan diagnosis dan mulai pengobatan adalah salah satu dampak yang ditimbulkan. Pada orang dengan TBC, keyakinan stigma menyebabkan ketakutan sehingga mengurangi tindakan penggunaan masker dan berisiko terjadi penularan.

Pelaksanaan investigasi kontak juga terhambat akibat orang dengan TB tidak menyampaikan secara terbuka siapa saja yang menjadi kontak eratnya. Demikan juga, kunjungan rumah dapat terjadi penolakan karena orang dengan TB dan keluarganya tidak mau penyakitnya diketahui oleh tetangga sekitar.

Pada yang sedang dan sudah menjalani pengobatan dapat menghambat pemulihan terutama pemulihan secara psikologis dan sosial. "Mereka dapat mengalami rasa kurang percaya diri yang bertahan dalam jangka waktu lama jika tidak ditangani," sambungnya.

Upaya untuk mengurangi dan menghilangkan stigma harus dilakukan secara menyeluruh mulai tingkat individu (intrapersonal), lingkungan dekat (interpersonal), program TB (organizational), masyarakat, pemerintah (kebijakan).

Artawan melanjutkan, pada tingkat individu penanganan dan perawatan dilaksanakan berpusat pada kebutuhan dan kondisi pasien.

Konseling, edukasi dan informasi kepada orang dengan TBC harus diberikan secara komprehensif yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tetapi juga menyentuh aspek psikologis untuk meperbaiki keyakinan mereka tentang TBC.

"Dukungan sosial dari keluarga, teman, mantan orang dengan TBC dalam bentuk support groups harus ditingkatkan," sarannya. Pandemik Covid-19 saat ini telah menyita sebagian besar perhatian, upaya dan sumber daya kesehatan termasuk dalam program penanggulangan TBC.

"Kedepan, upaya penanggulangan keduanya harus berjalan selaras. Dalam mengatasi masalah stigma pada Covid-19 dapat belajar dari upaya mengatasi stigma pada TBC," katanya menegaskan.

Hal mendasar yang harus diperbaiki untuk menghilangkan stigma terhadap penyakit adalah memperbaiki cara pandang.

Tidak hanya cara pandang terduga, pasien dan keluarganya tetapi yang lebih penting cara pandang masyarakat dan semua stakeholder yang terlibat dalam penanggulangan penyakit.

TBC bukan hukuman untuk orang tertentu tetapi dapat terjadi pada setiap orang. Orang dengan TBC tidak boleh dijauhi, dikucilkan dan diabaikan tetapi harus senantiasa didukung untuk sembuh.

"TBC bukan masalah orang yang sakit dan keluarganya saja tetapi urusan semua orang. Semasih menghirup udara yang sama, hidup di atas bumi yang sama maka siapapun bisa mengalami dan wajib berperan dalam penanggulangannya," demikian Artawan. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi