Tak Terganggu Isu Corona, Sertifikasi Ekspor Perikanan Sejumlah Negara Meningkat

Selasa, 24 Maret 2020 : 07.06
Jakarta - Isu virus corona Covid-19 tidak terlalu mengganggu layanan sertifikasi ekspor perikanan dan kelautan untuk sejumlah negara yang terus mengalami kenaikan.

Sebagaimana telihat dari tumbuhnya ekspor di beberapa negara selama periode Januari - 12 Maret 2020 dibanding periode yang sama pada 2019.

Beberapa negara diantaranya, Amerika Serikat sebesar 44.748,98 ton dibanding 36.686,99 ton. Kemudian ke Thailand yang meningkat dengan total 27.264,73 ton dibanding 11.372,78 ton.

Lalu ekspor ke Malaysia yang sudah mencapai 15.883,49 ton dibanding 13.008,65 ton dan Taiwan sebesar 7.823,77 ton dibanding 7.173,04 ton.

Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendaian Mutu, dan Kemanan Hasil Perikanan (BKIPM), Rina mengakui, ekspor ke Tiongkok mengalami penururan di periode yang sama tahun lalu.

"Tapi di sejumlah negara, ekspor kita meningkat,” sebut Rina di Jakarta, Senin (23/3/2020).

Negara lain yang juga menjadi tujuan ekspor Vietnam sebesar 8.105,75 ton dibanding 7.955,40 ton, Singapura sebesar 6.820,87 ton dibanding 5.883,99 ton dan Korea Selatan sebesar 5.964,08 ton dibanding 4.320,34 ton serta Arab Saudi sebesar 3.908,85 ton dibanding 3.358,19 ton.

Dia memastikan, jajarannya tetap memaksimalkan layanan meski terdapat pendemi Covid-19.

Saat ini, BKIPM berpedoman pada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 27/Kepmen-KP/2020, terkait pegawai yang bertugas langsung di bidang pelayanan, diberlakukan sistem rotasi guna mencegah penyebaran Covid-19.

Pihaknya bertugas demi pelayanan negara tetap maksimal, terutama dalam hal layanan sertifikat ekspor.

Komoditas yang diekspor di antaranya udang vaname 36 ribu ton, lebih tinggi dibanding periode yang sama pada 2019 dengan jumlah sekira 28 ribu ton. Selanjutnya tuna sebesar 19 ribu ton, melebihi periode yang sama di tahun 2019, sebesar 16 ribu ton.

Ekspor ikan cakalang juga sudah menyentuh 19 ribu ton, lebih tinggi dibanding periode yang sama sebesar 18 ribu ton.

Kemudian ikan layur, dengan volume ekspor sebesar 9 ribu ton, dibanding 5 ribu ton di periode Januari-12 Maret 2019, serta makarel sebesar 9 ribu ton dibanding 1 ribu di periode yang sama.

“Tentu ini suatu kabar gembira, optimistis dan suatu peluang ditengah bencana pandemi Covid-19 yang melanda sejumlah negara,”tutupnya. (rhm)

Rekomendasi