RUU Provinsi Bali Jangan Lupakan Semangat Pembentukan Tiga Provinsi

Rabu, 04 Maret 2020 : 19.38
Rapat Koordinasi (Rakor) diselenggarakan Gubernur Bali Wayan Koster menghadirkan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Anggota DPR RI, DPD RI Dapil Bali, Pimpinan DPRD Provinsi Bali, NTB, dan NTT di Gedung Kerta Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Denpasar/ist
Denpasar - Dukungan terhadap rancangan undang undang (RUU) tentang Provinsi Bali, Gubernur NTB dan NTT terus mengalir namun tetap diingatkan agar tetap tidak melupakan sejarah dan semangat pembentukan tiga provinsi tersebut.

Rapat Koordinasi (Rakor) diselenggarakan Gubernur Bali Wayan Koster menghadirkan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Anggota DPR RI, DPD RI Dapil Bali, Pimpinan DPRD Provinsi Bali, NTB, dan NTT di Gedung Kerta Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Denpasar, Selasa (3/3/2020) malam.

Pada Rakor rancangan undang undang (RUU) tentang Provinsi Bali, Gubernur NTB dan NTT, semua peserta setuju namun jangan sampai menghilangkan sejarah berdirinya 3 provinsi tersebut.

Gubernur Koster menyampaikan Provinsi Bali dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur; yang masih berdasarkan pada Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 (UUDS 1950) dan dalam bentuk Negara Republik Indonesia Serikat (RIS).

Menurutnya, undang-undang ini sudah kurang sesuai kondisi saat ini. Karena yang berlaku Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam undang-undang ini, Bali, NTB, dan NTT merupakan negara bagian bernama Sunda Kecil sebagai bagian dari Negara Republik Indonesia Serikat.

Dan undang-undang ini hanya bersifat administratif, tidak memberi kerangka hukum pembangunan Bali secara utuh sesuai potensi dan karakteristik, sehingga kurang mampu mengakomodasi kebutuhan perkembangan zaman dalam pembangunan daerah Bali.

“Tujuan dari RUU ini agar pembangunan di Provinsi Bali dapat diselenggarakan secara menyeluruh, terencana, terarah dan terintegrasi,” tandasnya.

Jadi harus dilakukan penyesuaian dan kami ingin pembangunan di Bali ini bisa di jalankan dengan manajemen satu kesatuan wilayah yaitu Satu Pulau Satu Pola dan Satu Tata Kelola.

Karena Bali ini sangat kecil 5.646 km2 dengan jumlah penduduk nya cuma 4,2 juta jiwa, kabupatennya cuma 8 dan 1 kota, 57 Kecamatan dan 636 desa dan 80 Kelurahan. Namun Bali memiliki kelebihan yakni ada 1493 desa adat.

Ia menyampaikan Undang-Undang Provinsi Bali ini penting, untuk menata pembangunan di Bali yang berkaitan dengan alam, manusia dan kebudayaannya. Karena Bali memiliki kekuatan di bidang budaya, tidak memiliki kekuatan dari sumber daya alam seperti dengan daerah-daerah lainnya.

Bali kaya dengan adat istiadatnya, tradisi, seni dan budaya serta kearifan lokal yang menjadi modal dasar dari kehidupan masyarakat di Bali yang harus dipelihara dengan baik.

“Bali sebagai destinasi wisata terbaik di dunia sangat sensitif dengan berbagai isu seperti sekarang ini, yang tengah diganggu oleh isu virus corona sehingga mengakibatkan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali sudah mengalami gangguan,” terang Gubernur kelahiran Desa Sembiran Bulelemg ini.

Gubernur mengatakan ke depan memandang perlu untuk menata pembangunan Bali secara fundamental dan komprehensif, tentu harus dengan payung hukum yang memadai.

Materi dan sistematika RUU Provinsi Bali terdiri dari 12 Bab dan 39 Pasal yaitu : Bab I Ketentuan Umum, Bab II Asas Dan Tujuan, Bab III Posisi, Batas, dan Pembagian Wilayah, Bab IV Pola Dan Haluan Pembangunan Bali, Bab V Pendekatan Pembangunan Bali; Bab VI Bidang Prioritas Pembangunan Bali, Bab VII Pembangunan Bali Secara Tematik, Bab VIII Pembangunan Perekonomian dan Industri, Bab IX Kewenangan Pemerintahan Provinsi Bali, Bab X Pedoman Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan Bali, Bab XI Pendanaan, dan Bab XII Ketentuan Penutup.

Sebenarnya RUU ini hanya mengatur bagaimana membangun Bali dengan potensi yang dimiliki agar bisa dijalankan secara optimal sesuai dengan potensi dan kondisi yang ada di Provinsi Bali, bukan undang-undang untuk menjadikan Bali sebagai otonomi khusus, tapi otonomi sebagaimana yang berjalan dan telah diatur dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

“Harus diberikan, agar daerah itu bisa maju dan bergerak dan memberdayakan potensi secara baik,” tegas Koster sembari menambahkan, RUU ini mempertegas undang-undang ini harus berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Saya kira ini memang sesuatu yang sangat mendesak untuk dilakukan penyesuaian. Undang-undang ini sudah kami ajukan di Komisi II DPR RI, DPD RI, Badan Legislasi DPR RI, kepada Mendagri, Menkumham. Semuanya beliau setuju untuk melakukan penyesuaian dan mendukung rancangan undang-undang tentang Provinsi Bali ini,” paparnya.

RUU yang diajukan, sudah direvisi kemudian juga sudah di tindaklanjuti dalam raker Komisi II DPR RI dengan Mendagri tanggal 26 Februari lalu, sepakat untuk membahas rancangan undang-undang mengenai penyusunan undang-undang Nomor 4 tahun 1958 ini agar sesuai dengan ketatanegaraan yang ada sekarang ini.

“Kami mempertegas bahwa Bali memiliki kearifan lokal yang dinamakan dengan Sat Kerthi yaitu 6 (enam) sumber utama kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat Bali. Kearifan lokal yang kami miliki merupakan warisan dari leluhur yang nilainya luar biasa dari zaman dahulu,” papar Koster.

Kelebihan alam Bali adalah dibangun dengan kekuatan alam sekala-niskala yang harus dipelihara agar Bali ini memiliki taksu agar kesucian alam Bali beserta isinya ini dapat dipelihara dengan baik sebagai sumberdaya kehidupan masyarakat Bali yang mengatur pembangunan sumber daya manusia Bali unggul sejalan dengan kebijakan pemerintah sekarang SDM Indonesia unggul.

Ia menambahkan juga mengembangkan tata kehidupan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal. Dan mengarusutamakan kebudayaan bali, karena ini satu-satunya kekayaan yang kami punya, kami harus hidup dan survive dengan kebudayaan yang ada di Bali.

“Mengembangkan suatu tatanan baru dalam pembangunan Bali yaitu secara tematik yang meliputi pembangunan yang berbasis pada spiritual, wilayah konservasi dan juga wilayah pertanian.

Ia berharap agar Bali dibangun dengan satu tatanan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki, lebih alami dengan budayanya tetapi bisa survive ke depan, tentu sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Harus ditata dalam satu kesatuan wilayah agar tidak terjadi ketimpangan terlalu jauh antara kabupaten yang satu dengan yang lain di Provinsi Bali.

“Rancangan undang-undang ini tentu kita harapkan bisa menjadi pedoman di dalam menyusun rencana pembangunan jangka menengah daerah, juga rencana kerja pembangunan daerah serta regulasi kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan Bali baik di provinsi maupun kabupaten/kota se Bali.

Pemerintah Provinsi Bali memperoleh sumber pendanaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku sekarang yakni undang-undang Nomor 33 tahun 2004.

Sesuai dengan potensi diantaranya itu adalah dari retribusi wisatawan dan pelaku industri pariwisata dan dalam pemajuan kebudayaan dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan juga dana desa adat dari anggaran pendapatan dan belanja negara.

Semua peraturan perundang-undangan baik Undang-undang Nomor 4 tahun 1958, Undang-undang Nomor 6 tahun 2014, Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang yang kami susun ini.

"Kita masih mempertahankan undang-undang ini, hanya penyesuaian dari sisi konstitusi maupun juga bentuk negaranya sebagai pembentukan. Itu mungkin bisa kita pertahankan, tapi untuk mengisi pembangunannya dibentuk dengan undang-undang tersendiri sehingga dengan demikian aspek historis nya bisa kita jaga tapi dengan potensi yang ada di berikan ruang untuk membangun diperkuat dengan undang-undang,” ungkap Koster.

Harusnya diberikan ruang kepada semua daerah di Indonesia sesuai dengan potensinya untuk membangun dengan pendekatan yang dilakukan sesuai dengan kondisi yang ada daerah semasih berlandaskan ideologi Pancasila.

“Saya kira, Bali, NTB, NTT masing-masing punya keunikan masing-masing. Punya potensi yang harus diberikan ruang dengan kuat agar masing-masing daerah ini bisa maju dengan potensi yang dimilikinya. Saya mohon dukungan dari bapak Gubernur NTB dan Gubernur NTT,” tutup Koster.

Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Laiskodat mengatakan sangat mendukung berdirinya undang-undang tentang provinsi Bali. Tapi tentunya tidak boleh menghilangkan undang-undang yang telah ada terkait terbentuknya 3 (tiga) provinsi.

Ada sejarah terbentuknya 3 (tiga) provinsi yang harus kita jaga agar sejarah para senior-senior yang telah bersama-sama membangun 3 (tiga) provinsi.

“Dalam semangat inklusif itu juga menurut saya apapun undang-undangnya, apapun bentuknya tetapi dunia akan maju dalam sebuah peradaban yang maju dengan borderless.

Jangan sampai ada batas-batas administratif dan batas-batas pelayanan yang sangat kaku yang membuat kita sangat tidak bisa berhubungan satu sama lain,” terang Viktor seraya menambahkan.

Dalam semangat ini Saya dengan Pak Zulkieflimansyah (Gubernur NTB) bersama dengan pak Wayan Koster (Gubernur Bali) sangat setuju dan mendorong percepatan agar bisa cepat selesai, kalau bisa dalam 3 (tiga) bulan sudah jadi undang-undang.

“Kami senang, tapi tolong sejarah terbentuknya tiga provinsi ini tetap dicantumkan sebagai dasar terbentuknya undang-undang itu, urusan nanti didalamnya macam apa tetapi kita terikat di dalam sebuah semangat yang dibangun pada masa itu,” harapnya.

Hadir pada kesempatan ini, Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra, Anggota DPR RI Dapil Bali, Anggota DPD RI Dapil Bali, Pimpinan DPRD Provinsi Bali, Pimpinan DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB), Pimpinan DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT), serta Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dilingkungan Pemprov Bali. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi