Ribuan Warga Geriana Kangin Jalani Ritual Mengambil Daun Beringin Suci

Minggu, 01 Maret 2020 : 16.54
Ritual nunas don bingin dalam rangka karya di Desa Adat Geriana Kangin, Duda Utara, Selat, Karangasem
Amlapura - Ribuan warga nunas Desa adat Geriana Kangin, Duda Utara, Selat, Karangasem menjalani ritual nunas (mengambi) don bingin (daun beringin), Sabtu (29/2/2020).

Ritual dilakukan berjalan kaki atau mepeed menuju Desa adat Karangsari, Dusun Perangsari Kelod, Duda Utara, Selat, sejauh 1 km menuju pohon berigin yang berada di sebeleh selatan Pura Puseh, Karangsari.

Jro Mangku Desa adat Karangsari memuput ritual yang selanjutnya daun bingin diambil dengan menggunakan taah atau sabit sudamala. Sabit khusus yang memang disucikan untuk mengambil daun bingin.

Pengambilan dilakukan mulai dari pojok barat laut ke timur laut, tenggara, lalu barat daya secara murwa daksina (perputaran berlawanan arah dengan jarum jam).

"Daun beringin yang diambil tidak boleh jatuh menyentuh tanah. Untuk itu, pengayah langsung menangkap daun bingin yang jatuh," ujar Jro Mangku. Kemudian, daun beringin tersebut diambil ditaruh diatas kain putih panjang yang diusung secara bersama sama oleh kerama istri (wanita) Desa adat.

Setelah penuh, kain putih tersebut diusung dan menuju pura puseh dengan mepeed atau berjalan kaki kembali sejauh 1 km. sampai di Pura Puseh dilakukan pemendak. Selama perjalanan diiringi dengan gambelan bale ganjur di depan dan paling belakang.

Jro Mangku Gede Nuragia, Kubayan Desa adat Geriana Kangin yang juga Pemangku Pura Dalem mengakui kalau ritual tersebut wajib dilakukan kalau karya besar.

"Don bingin tersebut sangat disucikan dan akan dijadikan peralatan piranti upacara utamanya di Catur dan di suci," jelasnya. Upacara Ngersi Gana, Nubung Daging, Pedudusan Agung lan Mepeselang puncaknya dilakukan 7 April mendatang.

Karya kali ini sudah dilaksanakan sejak 32 tahun lalu, seteleh Gunung Agung meletus. Kali ini Karya digelar kembali. “Kalau don bingin di pergunakan untuk Dewa Dewi (perujudan Dwsa dan Dewi red) untuk di letakan di panggungan,” ujar Jro Mangku Gede.

Ngelungsur daun bingin itu kayu artinya kayun atau pikiran. Jadi untuk menyatukan pikiran agar karya agung yang dilakukan bisa berjalan dengan baik. Yakni dilakukan secara iklas.

Agar Karya betul betul dari pikiran suci sehingga dilenkapi dengan ritual. Ngelungsir dari manic bingin sebagai yang utama. Bingin merupaan salah satu pohon sakral sebagai lambang perusa predana. Daun beringin diolah menjadi lambang lambang Tuhan juga lambang Ongkara.

Kali ini, karya digelar warga termasuk tingkatan utama dan mepeselang. Karya juga menggunakan tiga ekor kerbau. Tiga kerbau tersebut kerbau biasa, Jos Merana dan anggrek ulan, induk yang putih anak hitam dan Jos merana sebaliknya induk hitam anak putih, Jos merana saat Ide Petara tedun ke peselang.

Sementara yang anggrek ulan saat neudang ide betara tirta. Sementara kerbau biasa dipakai di Catur. (nik)
Bagikan Artikel

Rekomendasi