Perokok Makin Besar Risiko Terkena Covid-19

Jumat, 13 Maret 2020 : 23.00
Ilustrasi-wabah virus corona misterius dari Cina diklaim menyebabkan munculnya 17 kasus baru dan menyebar antar-manusia. (Istockphoto/wildpixel)
Jakarta - Tingginya perokok di Indonesia menjadi dasar bagi Komnas Pengendalian Tembakau bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman untuk menghimbau masyarakat dan pemerintah agar lebih waspada terhadap COVID-19.

Hal ini karena perilaku merokok merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko infeksi COVID-19 dan memperparah komplikasi penyakit yang diakibatkannya.

Dalam peta global kasus COVID-19 Johns Hopkins Center for Systems Science and Engineering sampai pagi ini menyebutkan kematian akibat virus corona telah mencapai 4.720 orang di seluruh dunia.

Kasusnya telah mencapai 128.343 kasus dengan 68.324 pasien berhasil sembuh. Hingga Selasa (10/3/2020), terdapat 103 negara di dunia yang mengonfirmasi terinfeksi virus corona. Sementara itu, di Indonesia, sampai 12 Maret 2020 pukul 09.00 WIB, 34 kasus konfirmasi positif COVID-19 yang kemudian 2 kasus berhasil sembuh, 1 kasus meninggal.

Berbagai peringatan dan panduan pencegahan dirilis pemerintah maupun lembaga-lembaga kesehatan, termasuk organisasi kesehatan dunia, WHO.

Pada 8 Maret 2020 lalu, WHO Indonesia mengeluarkan pernyataan yang secara lebih spesifik mengingatkan masyarakat Indonesia mengenai kaitan antara Covid-19 dengan perilaku merokok.

Dalam pernyataan resminya, Dr. N. Paranietharan, WHO Representative to Indonesia menyebutkan , perokok tinggi untuk penyakit jantung dan penyakit pernapasan, yang merupakan faktor risiko tinggi untuk mengembangkan penyakit parah atau kritis dengan COVID-19. Karena itu, perokok di Indonesia berisiko tinggi terkena COVID-19).

Pernyataan ini sejalan dengan hasil beberapa temuan yang terbit dalam berbagai literatur yang menyebutkan hubungan antara perokok dan karakteristik pasien terinfeksi Covid-19, di antaranya:

Dalam studinya menyebutkan, 78 pasien coronavirus dengan pneumonia selama 2 minggu perawatan ditemukan bahwa 11 pasien memburuk dan 67 pasien kondisinya membaik, dengan 27% dari kelompok yang memburuk memiliki riwayat merokok, sementara dari kelompok yang kondisinya membaik hanya 3% yang punya riwayat merokok.
Epidemiological and clinical characteristics of 99 cases of 2019 novel coronavirus pneumonia in Wuhan, China: a descriptive study (Prof. Nanshan Chen, dkk, The Lancet, 2020). Studi ini menyebutkan, 99 orang pasien dari Wuhan Jinyintan Hospital dirawat selama  20 hari, 11 orang meninggal pada akhir penelitian, 3 adalah perokok dengan 2 kematian pertama adalah perokok laki-laki.

Kepala Lembaga Biologi dan Pendidikan Tinggi Eijkman Prof.Dr. Amin Soebandrio, menegaskan dengan melihat temuan-temuan tersebut, masyarakat perlu mengetahui bagaimana perilaku merokok memiliki risiko lebih tinggi terhadap infeksi dan perparah komplikasi COVID-19.

"Ssehingga masyarakat lebih waspada mengingat Indonesia adalah negara dengan jumlah perokok pria yang sangat tinggi,” himbau Amin dalam keterangan reseminya kepada media, Jumat 13 Maret 2020

Hal tersebut senada disampaikan Dr. Feni Fitriani Sp.P(K), Ketua Pokja Masalah Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Dr. Feni Fitriani bahwa merokok meningkatkan reseptor ACE 2, yang kita tahu juga menjadi reseptor virus corona penyebab COVID-19.

Sehingga makin banyak virus corona penyebab COVID-19 yang hinggap/menempati reseptor tersebut, jadi perokok makin besar risiko kena COVID-19.

Ini juga meluruskan disinformasi yang beredar yang menyebutkan merokok atau asap rokok bisa membantu meredakan COVID-19.

"Ini sama sekali salah. Maka, untuk mengurangi atau mencegah risiko corona dan komplikasinya,  kurangi merokok. Berhenti lebih  baik," tegasnya

Pemerintah diharapkan lebih jelas menyampaikan kepada masyarakat bahwa salah satu pencegahan yang harus dilakukan adalah dengan berhenti atau setidaknya mengurangi merokok.

Selain itu, menyediakan panduan serta program pendampingan bagi masyarakat yang mau berhenti merokok demi melindungi mereka dari pandemi global COVID-19. (rhm)

Rekomendasi