KKP: Teknologi Bioflok Komoditas Nila Tingkatkan Produksi Ikan Air Tawar Nasional

Kamis, 12 Maret 2020 : 17.51
Pengembangan budidaya ikan nila sistem bioflok dilakukan di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur menuai hasil yang menggembirakan/humas kkp.
Jakarta - Dengan teknologi bioflok pada komoditas ikan nila diyakini sebagai langkah konkrit guna meningkatkan produksi ikan air tawar nasional. Pengembangan budidaya ikan nila sistem bioflok dilakukan di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur menuai hasil yang menggembirakan.

Hal ini terbukti panen parsial perdana sebanyak 100 kg ikan Nila yang dilakukan di seminari Pius XII Kisol, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2 Maret 2020 yang lalu dan direncanakan hingga akhir Maret total panen mencapai sekitar 300 kg.

Kelompok seminari Pius XII Kisol merupakan penerima 2 paket bantuan budidaya ikan nila sistem bioflok dari Kementerian Kelautan dan Perikaknan (KKP) yang diberikan pada tahun 2019.

Bantuan diberikan dengan pendampingan langsung oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyatakan bahwa penerapan teknologi bioflok pada komoditas ikan nila merupakan sebuah langkah konkrit guna meningkatkan produksi ikan air tawar nasional.

Ia juga menegaskan pentingnya membangun kawasan Indonesia Timur, secara khusus daerah – daerah yang masih minim terjamah oleh informasi teknologi.

Dijelaskan, potensi sumberdaya alam yang tinggi di kawasan Indonesia bagian timur harus dapat kita manfaatkan dengan menciptakan alternatif usaha berbasis inovasi teknologi budidaya.

"Teknologi budidaya ikan sistem bioflok yang diperkenalkan diharapkan akan mampu meningkatkan nilai sumberdaya alam yang ada dan memicu ruang pemberdayaan masyarakat yang lebih luas, serta akan menumbuhkan ekonomi masyarakat lokal," kata Slamet dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/3/2020).

Sebelumnya tahun 2019 KKP telah menggelontorkan 260 paket bantuan budidaya ikan lele/nila sistem bioflok yang tersebar di 32 provinsi dan 121 Kabupaten/Kota. Total nilai bantuan yang telah diserahkan mencapai lebih dari 44 miliyar rupiah.

“Saat ini produk nila telah menjadi sumber gizi yang cukup digemari di masyarakat, untuk itu teknologi bioflok khususnya untuk komoditas nila akan terus didorong di berbagai daerah sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat," imbuhnya

Tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi dan peningkatan konsumsi ikan nasional, kegiatan ini juga ampuh untuk menurunkan prevalensi stunting atau hambatan pertumbuhan tubuh.

"Dengan semakin banyak anak Indonesia mengkonsumsi ikan, diharapkan akan lahir generasi baru yang tumbuh sehat, bergizi baik dan bebas dari stunting," pungkas Slamet.

Menurut data sementara dari Badan Pusat Statistik (BPS) angka stunting pada tahun 2019 cenderung mengalami penurunan sebesar 27,7 persen, namun angka stunting tertinggi ada di NTT yang mencapai 43,8 persen.

Oleh karena itu, dengan dikembangkan budidaya nila sistem bioflok di NTT sangat tepat, dikarenakan dapat menjadi solusi untuk memenuhi gizi masyarakat sekitar. (ahs)
Bagikan Artikel

Rekomendasi