KKP Sarankan Pembudidaya Skala Kecil Gunakan Pakan Mandiri

Jumat, 27 Maret 2020 : 00.19
Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyarankan para pembudidaya skala kecil menggunakan pakan mandiri ditengah kondisi lesunya perekonomian yang tengah dilanda wabah Covid-19.

Untuk itu, KKP berupaya untuk memastikan kondisi ekonomi UMKM perikanan budidaya tetap stabil di tengah wabah Covid-19.

"Tahun ini kita akan terus dorong agar pakan mandiri ini bisa menjangkau sentra sentra produksi budidaya skala kecil," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyampaikan itu di Jakarta, Kamis (26/3/2020).

Disisi lain, ketersediaan bahan baku juga kita akan jamin dengan membangun sistem logistiknya di masing-masing kawasan. "Kita akan percepat realisasinya, khususnya dalam mengantisipasi dampak ekonomin wabah Covid-19 ini", jelas Slamet.

Ditengah wabah Covid-19 ini, harus dipastikan stok pangan terjamin dan tentu siklus produksi di hulu tidak terganggu. Stimulus untuk pakan ini akan terus didorong dan program gerpari terus kita galakan agar menjangkau pembudidaya skala kecil.

"Saya memprediksi, memang wabah Covid-19 ini akan mempengaruhi nilai NTUPi, oleh karenanya kami akan berupaya untuk mengendalikan agar dampaknya tidak terlalu dalam. Salah satunya menstimulus agar input produksi seperti pakan lebih efisien", tegas Slamet.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah berupaya memastikan kondisi ekonomi UMKM perikanan budidaya tetap stabil di tengah wabah Covid-19, salah satu yang diandalkan yakni dengan terus memastikan program Gerakan Pakan Mandiri (GERPARI) benar-benar memberikan dampak positif bagi perbaikan Nilai Tukar Usaha Pembudidaya Ikan, khususnya skala kecil.

KKP akan memastikan pembudidaya skala kecil yang jumlahnya mencapai 80% dapat tetap berusaha ditengah ketidakpastian wabah Covid-19. Pakan Mandiri Jadi Andalan Pembudidaya Skala Kecil.

Salah satu produk pakan mandiri yang saat ini berhasil tembus pangsa pasar pembudidaya ikan skala kecil yakni pakan yang diproduksi kelompok pakan mandiri TRIMINO di Desa Tlogoweru Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak.

Kelompok pakan mandiri itu, merupakan salah satu binaan dari Balai Besar Budidaya Air Payau (BBPAP) Jepara, salah satu UPT DJPB. Pakan mandiri yang diberi merk "Jali Lele" ini diperkenalkan sejak dua tahun lalu semakin diminati di kalangan pembudidaya ikan air tawar.

Hal ini terbukti dengan semakin tingginya permintaan baik dari Kabupaten Demak maupun di luar daerah seperti Semarang, Kudus, Jepara dan lainnya.

Saat dihubungi lewat sambungan telpon, Ketua Kelompok Pakan Mandiri, Kasnadi atau lebih dikenal dengan nama bang Jali, mengatakan bahwa kelompoknya yang menerima bantuan mesin pakan mandiri tahun 2015 saat ini telah mampu menggenjot kapasitas produksi pakan mandiri merk Jali Lele hingga 400 kg per jam.

Menurutnya, tingginya permintaan terhadap pakan akhir akhir ini telah mendorong kelompok yang ia gawangi meningkatkan kapasitas produksi rata rata per hari 1.500kg.

"Saat ini kami telah menggunakan ektruder sehingga dapat memproduksi pakan apung. membuat mesin extruder modifikasi dengan kapasitas lebih besar. Jika semula bisa hanya 50 kg per jam, saat ini kami telah mampu memproduksi hingga 400 kg per jam.

Kalau tidak begini, kami kewalahan untuk memenuhi kebutuhan pembudidaya. Minat pada pakan merk Jali Lele ini luar biasa tinggi", terang Jali.

Guna penyediaan bahan baku, Jali menambahkan setidaknya dalam seminggu, harus mensuplai bahan baku minimal 4 ton, terutama untuk tepung ikan dan kedelai. Untuk menjamin kontinyuitasnya, ia mengatakan telah menjalin kerjasama dengan BBPAP Jepara terutama untuk tempat konsultasi.

Ditanya mengenai nilai ekonomi, kata Jali membeberkan, biaya produksi pembuatan pakan sekitar Rp 5.600,- per kg. Ia menjualnya dengan harga Rp. 8.000,- per kg untuk jenis apung dan Rp 6.700,- per kg untuk jenis tenggelam.

Dari hasil penjualan tersebut, kelompok mampu meraup keuntungan bersih rata-rata Rp. 1.500,- per kg. (riz)

Rekomendasi