KKP Lepasliarkan Duyung di Perairan Kampung Yellu

Minggu, 29 Maret 2020 : 07.02
Dugong yang dilepasliarkan di Perairan Kampung Yellu, Papua Barat/kkp
Jakarta - Bersama masyarakat dan pihak terkait tim Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) melepasliarkan satwa langka dugong di Perairan Yellu, Raja Ampat, Papua Barat.

Tindakan cepat Tim KKP itu, merespon adanya laporan masyarakat yang sempat viral di media sosial terkait Dugong atau di Indonesia dikenal juga dengan nama Duyung yang diduga ditangkap oleh nelayan di Kampung Yellu, Distrik Missol Selatan, Raja Ampat.

Mereka melakukan koordinasi dengan Loka PSPL Sorong dan BKKPN Kupang Satker Raja Ampat untuk bersama-sama melakukan pemeriksaan lapangan pada tanggal 23 Maret 2020" terang Tb. Haeru Rahayu, Direktur Jenderal PSDKP-KKP.

Dugong dipelihara di sebuah keramba jaring dengan ukuran 4x3 meter dan tinggi 4 meter yang dimiliki nelayan setempat bernama Hakim Tamher.

Pengakuan Hakim, dugong tertangkap pada saat dia mengoperasikan alat penangkapan ikan jaring insang (gill net). Dugong itu sendiri telah dipelihara selama satu bulan di jaring keramba tersebut.

Kata TB, melalui pendekatan persuasif, petugas kami bekerja sama dengan aparat desa setempat memberikan edukasi kepada nelayan bersangkutan tentang status perlindungan yang telah ditetapkan oleh pemerintah terhadap satwa Dugong.

"Sebagai langkah tindaklanjut petugas bersama aparat desa dan masyarakat kemudian melepasliarkan Dugong tersebut di perairan Kampung Yellu”, ungkapnya.

Direktur Pengawasan Sumber Daya Kelautan, Matheus Eko Rudianto menyampaikan apa yang dilakukan aparat di lapangan, sudah tepat sesuai prosedur mengingat dugong ini memang merupakan mamalia langka yang harus dilingdungi dan dijaga agar tidak punah.

”Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan Permen LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi, Dugong merupakan salah satu jenis satwa yang dilindungi”, jelas Eko.

Eko menjelaskan bahwa sejak tahun 1982, Dugong telah masuk dalam daftar “vulnerable species” atau spesies yang memiliki tingkat kerentanan tinggi dalam The International Union for Conservation of Nature's (IUCN) Redlist.

Dugong juga termasuk dalam CITES Apendiks I sehingga tidak boleh diperdagangkan secara bebas.

KKP telah melakukan langkah-langkah dan upaya perlindungan terhadap dugong ini. Salah satu diantaranya melalui Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 79 tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Konservasi mamalia laut, dimana di dalamya termasuk Dugong.

”KKP memiliki rencana aksi dalam rangka konservasi dan perlindungan terhadap mamalia laut termasuk jenis Dugong ini. Ini yang menjadi pedoman bagi kami untuk terus mendorong upaya perlindungan terhadap spesies langka ini”, tutup Eko.

Sejak beberapa tahun terakhir Ditjen PSDKP-KKP telah beberapa kali melakukan penanganan terkait perlindungan Dugong. Pada tahun 2019, penanganan dugong yang terdampar dilakukan di Sangihe (Sulawesi Utara), dan di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau).

Pada tahun 2018, Ditjen PSDKP juga melakukan penanganan terhadap 4 ekor dugong yang terdampar dalam keadaan mati. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi