Budidaya Kakap Putih Air Payau Sukses Dikembangkan di Demak

Minggu, 22 Maret 2020 : 23.00
Demak - Petambak di Kabupaten Demak berhasil membudidayakan ikan kakap putih di tambak air payau ditandai sukses panen kakap putih dengan produksi mencapai 3 ton per hektara.

Diketahui, kakap putih merupakan komoditas ikan laut ekonomis tinggi, dimana dalam perkembanganya komoditas ini juga berhasil dikembangkan secara masal di tambak air payau.

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, memilih Kabupaten Demak sebagai kawasan uji coba budidaya kakap putih di tambak.

Bentuk dukungan yang telah diberikan yakni benih kakap putih sebanyak 200.000 ekor, disamping melakukan transfer teknologi budidaya secara intensif kepada para pembudidaya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyambut baik kesuksesan uji coba budidaya kakap putih yang dikembangkan di Kabupaten Demak tersebut.

"Slamet mengatakan, bahwa KKP saat ini tengah mendorong komoditas kakap putih sebagai salah satu andalan komoditas ekspor Indonesia," ujarnya dalam siaran pers, Minggu (22/3/2020).

KKP tengah gencar menggenjot nilai ekspor perikanan budidaya, dimana kakap putih akan jadi andalan ke depan.

"Selain di laut, kami saat ini juga menginisiasi sentra pengembangan kakap putih di tambak seperti di Pinrang, Sulawesi Selatan dan yang terbaru, kita akan dorong juga di Kabupaten Demak, Jawa Tengah", ungkap Slamet.

Dia tidak menampik adanya kekhawatiran dampak wabah Covid-19 sebagai pandemik global yang akan mempengaruhi kinerja ekspor dalam negeri. Namun, dia optimis, hal tersebut tidak akan berlangsung lama.

Menurutnya, produksi di hulu tetap jalan paling tidak untuk memenuhi konsumsi dalam negeri. Disamping menurutnya, Pemerintah akan memperkuat market intelejen untuk mencari kemungkinan ekspansi tujuan ekspor di luar negara tujuan ekspor utama.

Ketua Kelompok Windu Jaya Satu Ahmad Hidayat di Desa Sidorejo, Kecamatan Sayung, mengatakan, semua pembudidaya merasa senang dan puas dengan hasil panen kakap putih ini. Menurutnya, ini akan jadi alternatif usaha yang menjanjikan.

Awalnya,bantuan benih ikan kakap sebanyak 20.000 ekor yang diterima dari BBPBAP Jepara dipelihara di kolam pendederan hingga usia dua bulan dengan berat hingga 200-an gram per ekor, baru dipindahkan ke kolam seluas lima hektare untuk pembesaran.

Selain mengeluarkan biaya untuk pembelian pakan buatan pabrik saat masih dipelihara di kolam pendederan, ia juga mengeluarkan biaya untuk pembelian ikan rucah atau ikan kecil-kecil dari tempat pelelangan ikan (TPI) sebagai upaya menekan biaya pakan.

Upaya lain untuk menekan biaya pakan, yakni dengan menyiapkan pakan alami di kolam, berupa ikan berukuran kecil mulai dari jenis ikan nila maupun mujair.

Hasilnya, lanjut dia, dalam jangka waktu lima bulan sudah bisa dipanen secara parsial dengan berat ikan setiap ekornya mencapai satu kilogram.

"Saya perkirakan total ikan yang bisa dipanen berkisar 3 ton lebih sehingga masih menguntungkan, karena biaya operasional dari pembelian pakan pabrik, ikan rucah hingga biaya pemeliharaan selama lima bulan berkisar Rp 50 jutaan, sedangkan hasilnya dengan harga jual Rp 55.000 per kg bisa mencapai ratusan juta," ujarnya. (rhm)

Rekomendasi