Tidak Menular ke Manusia, Masyarakat Jangan Khawatir Berlebihan Sikapi Virus ASF

Jumat, 07 Februari 2020 : 14.41
Kampanye “daging babi aman dikonsumsi asalkan diolah melalui proses memasak yang benar di Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Jumat (7/2/2020).
Denpasar- Masyarakat diminta tidak perlu takut atau khawatir secara berlebihan dalam menyikapi isu wabah African Swine Fever (ASF) karena virus ini tidak menular ke manusia.

Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Drh. Fadjar Sumping Tjatur Rassa, Ph.D menyampaikan daging babi merupakan sumber protein, untuk itu kasus kematian babi di Bali yang terjadi sejak Desember 2019 perlu disikapi.

Belakangan ini terjadi gejala penyebaran wabah penyakit hewan secara global. Bali yang memiliki populasi ternak babi cukup tinggi harus waspada karena virus ini belum ada obat dan vaksinnya.

Tingkatkan kewaspadaan dengan menerapkan standar operasional.

" Saya mengapresiasi langkah pengendalian yang berhasil dilaksanakan Daerah Bali," kata Fadjar saat kegiatan kampanye “daging babi aman dikonsumsi asalkan diolah melalui proses memasak yang benar di Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Jumat (7/2/2020).

Langkah selanjutnya, diterapkan bioskuriti pada peternakan rakyat, batasi keluar masuk kandang. Peternak jangan gunakan pakan dari sisa makanan.

"Virus ini tidak menular ke manusia, jadi jangan takut dan khawatir berlebihan. Produk olahan babi aman untuk dikonsumsi," tandasnya.

Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Ir. Ida Bagus Wisnuardhana, M.Si melaporkan bahwa dalam sepuluh hari terakhir kematian babi sudah nol.

Kondisi itu menunjukkan bahwa upaya pengendalian yang dilakukan cukup berhasil, namun ia berharap hal itu jangan membuat lengah. Upaya penyemprotan kandang dengan disinfektan terus diinteksifkan.

Isu wabah African Swine Fever (ASF) yang menyebabkan kematian ternak babi di Bali disikapi serius oleh Pemerintah Provinsi Bali.

Setelah melakukan sejumlah langkah antisipasi hingga kematian babi dapat dikendalikan, Pemprov Bali berupaya memulihkan kepercayaan masyarakat agar tak khawatir mengkonsumsi daging babi.

Untuk itu, Pemprov Bali menggelar kegiatan kampanye “daging babi aman dikonsumsi asalkan diolah melalui proses memasak yang benar”.

Kegiatan digelar di Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, dihadiri Gubernur Bali yang diwakili Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra.

Dalam kesempatan itu, Sekda Indra menyampaikan kampanye bertujuan meyakinkan masyarakat bahwa mengkonsumsi daging babi di tengah isu adanya virus ASF ini masih tetap aman.

"Asal dagingnya dimasak secara benar, sampai benar-benar matang. Karena virus ini mati jika dimasak dengan temperatur tertentu," tuturnya.

Hingga saat ini, status virus ASF di Daerah Bali masih suspect, belum positif.

Balai veteriner yang ada di Bali sudah mengambil sampel dan melakukan uji laboratorium, namun belum bisa memastikan sehingga dikirim lagi ke balai veteriner yang ada di Medan.

Hal ini mengingat, wabah ASF sudah duluan ada di sana, sudah ada penanganan sehingga telah berpengalaman untuk mengindentifikasi virus ini.

Kendati statusnya suspect, namun karena sudah menyebabkan kematian babi dalam jumlah yang cukup signifikan yaitu 888 ekor, kasus ini tentu kita harus waspadai.

Media hati-hati dalam memberi informasi, karena dalam kasus penyebaran virus ada beberapa tahapan yaitu dalam pengasawan, suspect (diduga) dan terakhir baru positif.

"Jangan langsung menyebut positif meskipun gejalanya mirip. Untuk penentuan status suspect hingga positif, harus melalui proses uji laboratorium dulu," katanya mengingatkan.

Selain upaya penanganan, yang lebih penting adalah upaya pengendalian yang dilakukan saat ini.

"Kawan-kawan di dinas mulai provinsi hingga kabupaten/kota dan veteriner terus melakukan upaya untuk meredam penyebaran virus ini di bantu kementerian pertanian khususnya dirjen peternakan dan kesehatan hewan," sambungnya.

Sejalan upaya pengendalain, dilakukan pula edukasi masyarakat supaya memilih pakan babi yang sehat.

Kalau memberi pakan dari sisa makanan dari warung, rumah tangga atau hotel, pastikan dimasak hingga mendidih. Selain itu, kebersihan kandang babi juga harus diperhatikan.

Sesering mungkin semprot kandang dengan disinfektan yang sudah dibagikan secara gratis oleh dinas pertanian.

Upaya pengendalian yang dilakukan telah membuahkan hasil karena beberapa hari terakhir tak ada lagi laporan kematian babi.

Terkait dengan perayaan galungan, dalam situasi seperti saat ini, konsumsi lawar dengan darah mentah tak direkomendasi.

Kemudian kampanye daging babi aman dikonsumsi diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat sehingga harga daging babi di pasaran dapat kembali dikatrol karena bagi masyarakat Bali, babi mempunyai nilai ekonomi.

Kampanye daging babi aman dikonsumsi melibatkan pegawai Pemprov Bali dan sejumlah undangan seperti PHDI, akademisi dan Gabungan Usaha Peternak Babi (GUBI). Kampanye ditandai dengan pemotongan babi guling oleh Sekda Dewa Indra yang dilanjutkan dengan makan bersama olahan daging babi. (rhm)

Rekomendasi