Ritual Perang Sarang di Karangasem, Simbol Perlawanan Terhadap Kekuatan Jahat

Minggu, 23 Februari 2020 : 23.04
Perang sarang dilakukan tepat saat Penyajaan Ngusaba. Saat itu, warga membuat jajan piranti upacara yang dilakukan tiga hari/ist lagi.
Amlapura - Warga Desa Adat Selat Kabupaten Karangasem menggelar ritual langka yang disebut siat sarang atau perang sarang yang merupakan simbol perlawanan terhadap kekuatan jahat.

Siat Sarang di Desa Adat Selat digelar terkait Ngusab di Mel atau Ngusaba Dodol. Tradisi Ngusaba Dodol dilakukan setahun sekali. Ini merupakan salah satu aci besar di Desa Adat Selat.

Perang sarang dilakukan tepat saat Penyajaan Ngusaba. Saat itu warga membuat jajan untuk piranti upacara yang akan dilakukan tiga hari lagi. Ritual perang sarang dilakukan Minggu (22/2/20) pukul 17.00 wita.

Bendesa adat Selat Jro Mangku Wayan Gede Mustika menjelaskan, hal ini bagian dari simbolis manusia melawan kekuatan jahat yang ada dalam diri manusia. "Termasuk perang melawan hawa nafsu,” ujar Jro Mustika.

Ritual ini digelar di pertigaan Desa adat Selat. Sebelumnya Jro Bendesa memberikan pengarahan kalau apa yang dilakukan merupakan bagian dari ngayah.

Selanjutnya, memberikan sarang yang terbuat dari daun jaka yang dibuat sedemikian rupa. Sarang ini sendiri awalnya adalah alat membuat jajanan. Begitu sarang di bagikan dua kelompok yang sudah mempersiapkan diri langsung saling serang. Mereke saling pukul dengan sarang yang cukup berat.

“Kalau perang sarang tiap tahun kita gelar,” ujarnya sembari menyebutkan, hal itu juga terkait dengan kesuburan. Sebab ada keyakinan kalau ini tidak digelar maka hasil penen akan hancur.

Di Desa Selat terdiri dari 18 banjar adat. Sebelumnya masing masing banjar juga menggelar perang sarang namun yang terbesar dipusatkan di Pertigaan Desa Adat Selat. (nik)
Bagikan Artikel

Rekomendasi