KKP Dorong Budidaya Magot sebagai Pakan Alternatif

Rabu, 19 Februari 2020 : 21.10
Pelatihan Budidaya magot di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok/humas kkp,
Depok- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) mendorong budidaya magot sebagai Pakan Alternatif.

Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo untuk mendorong budidaya perikanan.

Bertempat di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok, pelatihan dibuka pada Selasa (18/2) berlangsung hingga Rabu (19/2/2020).

Hadir 32 peserta yang terdiri dari para pelatih dari 5 balai pelatihan dan penyuluhan, penyuluh, perwakilan Dinas Kelautan Perikanan, dan akademisi pendidikan kelautan dan perikanan dari berbagai wilayah di Indonesia dalam pelatihan kali ini.

Pakan merupakan komponen penting yang menjadi kunci untuk pertumbuhan ikan. Namun saat ini, tingginya harga pakan menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pengembangan budidaya perikanan.

Kepala BRSDM Sjarief Widjaja menjelaskan, sebanyak 60-70 persen dari komponen biaya produksi diperuntukan untuk pakan.

 "Untuk itu, BRSDM mengembangkan magot untuk menjadi salah satu bahan pakan alternatif yang cukup terjangkau dan dapat dimanfaatkan,” ujar Sjarief dalam sambutannya.

Magot merupakan larva berprotein tinggi yang dikembangkan dari serangga black soldier fly (BSF). Magot mengandung hingga 41-42 persen protein kasar, 31-35 persen ekstrak eter, 14-15 abu, 4.18-5.1 persen kalsium, dan 0.60-0.63 fosfor dalam bentuk kering.

“Kandungan protein tinggi yang terkandung dalam magot ini dapat mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan sistem imun ikan,” jelas Sjarief.

Tak hanya itu, produksi magot memiliki keunggulan tersendiri dengan prinsip produksi tanpa limbah (zero waste) yang diusungnya. Mampu mengolah sampah organik secara alami, magot dapat mendorong penyelamatan bumi dari masalah sampah yang mengancam lingkungan saat ini.

Dengan berbagai keunggulannya, saat ini produksi magot telah dikembangkan oleh 21 perusahaan di tanah air. Beberapa di antaranya Leles (Garut), Great Giant Pineaple (Lampung), Pt. Maggot Indonesia Lestari (Bogor), ACEL (Tangerang), Morodasdi Farn Srengat (Blitar), dan Kampung Lala (Banyumas).

Meskipun begitu, usaha budidaya magot masih memiliki potensi yang besar, terutama dengan arah prioritas pemerintah untuk mengembangkan budidaya perikanan ke depan.

Untuk itu, Sjarief mendorong agar jajaran KKP dan masyarakat luas terus mengembangkan budidaya magot di berbagai daerah. Ia mengarahkan agar tiap kawasan membangun pusat budidaya magot yang dilakukan secara berkelompok serta bekerjasama dengan Pemda setempat.

“Kenapa harus berkelompok? Karena harus ada kelompok masyarakat pengumpul sampah organik dari rumah tangga, pasar, dan sumber lainnya. Atau Dinas KP bisa bekerjasama dengan dengan pasar seperti yang sudah dilakukan oleh BRBIH Depok dengan Pemda setempat saat ini. Ini adalah kerja kelompok,” tuturnya.

Pihaknya mendorong agar budidaya magot menjadi gerakan nasional ke depannya. Sebagai langkah nyata, ia pun menugaskan para peserta pelatihan yang hadir dalam pelatihan kali ini untuk membuat perencanaan usaha budidaya magot di daerahnya masing-masing.

Ia meminta mereka untuk membuat empat model yakni konten magot, kawasan, pembentukan entitas/actor, dan analisa biaya untuk memastikan perputaran usaha ini. “Putaran bisnisnya harus bisa berputar terus secara rasional. Semua pelaku bisnisnya harus bisa hidup,” ucapnya.

Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluh Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) Lilly Aprilya Pregiwati selaku penyelenggara pelatihan berharap para peserta yang hadir dapat menjadi trainer untuk mengembangkan budidaya magot di daerahnya masing-masing.

Menurutnya, hal ini sejalan dengan rencana KKP yang akan mengembangkan 7 lokasi pusat budidaya magot yang tersebar di seluruh Nusantara yakni Sukabumi, Karawang, Situbondo, Jepara, Banjar, Tatelu (Manado), dan Jambi.

“Saya ingin kita yang hadir di sini nantinya akan menjadi motor terdepan untuk melatih budidaya magot. Setiap Unit Pelaksana Teknis (UPT) harus punya percontohan budidaya magot,” ujar Lilly.

“Riset ini akan kita transformasi menjadi kurikulum dan modul yang ada di balai-balai yang nantinya bisa jadi pilihan pelatihan untuk teman-teman di KKP ataupun masyarakat yang membutuhkannya,” tambahnya.

BRBIH Depok selaku pengembang riset budidaya magot pun menyambut baik rencana pengembangan budidaya magot ini guna mendukung budidaya perikanan nasional.

“Magot ini merupakan pakan ikan alternatif yang telah berhasil kami kembangkan. Pemanfaatan sampah sisa yang terbuang menjadi sumber protein menjadi semangat kami untuk meneliti pengembangan budidaya magot,” jelas Kepala BRBIH Depok Idil Ardi. (rhm)

Rekomendasi