Karya Pangurip Bumi di Tabanan Demi Sucikan Bumi Wujudkan Keharmonisan

Sabtu, 01 Februari 2020 : 00.00
Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wirastuti dan Wabup Komang Gde Sanjaya bersama Ketua DPRD Tabanan I Made Dirga saat mengikuti Karya Agung Pangurip Bumi
Tabanan - Rangkaian Karya Agung Pangurip Bumi dimaksudkan untuk mensucikan kembali seisi jagat raya untuk mewujudkan terciptanya keharmonisan alam seisinya.

Seluruh prosesi telah mulai digelar dengan prosesi Melasti. Ribuan warga dengan khidmat ikut serta serta dalam prosesi sakral dilakukan dari Pura Luhur Batukau, Wangaya Gede, Penebel, Tabanan sejak Rabu (29/1) pagi.

Tak terkecuali, Ketua DPRD Tabanan, I Made Dirga nampak turut hadir ‘nyaksi’ dalam prosesi Melasti bersama sejumlah pejabat lainnya. Selain Dirga, nampak hadir Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wirastuti dan Wabup Komang Gde Sanjaya berikut jajaran OPD di lingkungan Pemkab Tabanan.

“Acara yang luar biasa, semoga keseimbangan buana agung dan buana alit tercapai,” ujar Dirga disela-sela prosesi Melasti, Jumat 31 Januari 2020.

Selepas melakukan doa bersama, politikus PDI Perjuangan Tabanan ini. menyatakan harapannya agar masyarakat Bali dan Tabanan khususnya diberikan kehidupan yang lebih baik dan selalu dalam lindungan Sang Hyang Widi Wasa.

Menurut Ketua DPRD Tabanan ini, Karya Pangurip Bumi merupakan prosesi dengan tujuan menyucikan kembali isi jagat raya guna tercipta keharmonisan dengan menghilangkan leteh jagat (segala bentuk kotoran).

Maka dari itu harapnya, masyarakat Bali harus paham dan tahu tentang makna dari upacara tersebut, kemudian dilaksanakan dengan sepenuh hati. “Astungkara kita masyarakat Bali akan mendapatkan kehidupan yg lebih baik,” tambah pria asal Banjar Sakah, Sudimara, Tabanan ini.

Meski demikian, tegasnya, kita (warga Bali, red) harus tetap menjaga alam itu sendiri agar tercapai keseimbangan sehingga alam Bali beserta isinya terlindungi dari marabahaya.

Prosesi Melasti diawali persembahyangan Pekeling Metetangi Ngelantur Nedunan Ida Betara yang berstana di Pura Luhur Batukau jagi pacing Melasti ke Segara.

Setelah itu dilanjutkan Pemelastian yang menempuh jarak kurang lebih 90 KM, melintasi 18 Desa Adat yang akan dilalui dengan berjalan kaki menuju segara Tanah Lot, Tabanan.

Prosesi Melasti direncanakan akan menempuh waktu hingga empat hari tiga malam dimulai dengan berjalan kaki dari Pura Luhur Batukau sampai dengan tanggal 1 Februari 2020.

Iring-iringan melasti dari Pura Luhur Batukau kemudian singgal di sejumlah di beberapa tempat yang telah ditentukan dan seterusnya menuju Tanah Lot Beraban, Kediri, Tabanan.

Dari Tanah Lot Jumat (31/01), perjalanan kembali dilanjutkan menuju ke Pura Batukau. Dari pura Puseh Tabanan, iring-iringan Melasti kembali berjalan menuju Jalan Gunung Agung ke Utara melalui Pasekan, Tuakilang, Buruan, Penatahan dan singgah di Pura Bale Agung.

Perjalanan akan kembali dilanjutkan ke Desa Tengkudak dan kemudian bermalam (Mererepan) di Pura Bale Agung. Keesokan harinya yakni Sabtu (01/02) sekitar pukul 06.00 WITA, Ida Bethara kembali ‘munggah’ ke Pura Luhur Batukau melewati Wongaya Gede. (rhm)

Rekomendasi