Hadapi Tantangan Akuakultur Tahun 2020, Ini Setrategi KKP

Sabtu, 29 Februari 2020 : 11.18
Jakarta - Dalam .menghadapi tantangan akuakultur di tahun 2020 yang diprediksi akan semakin besar Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menyiapkan berbagai strategi.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat membuka ajang "Outlook Perikanan tahun 2020" yang dihelat Gabungan Pengusaha Pakan Ternak (GPMT) dan Majalah Trobos di Jakarta, Rabu (25/2/2020).

Tatangan itu berkaitan dengan dinamika perdagangan produk akuakultur global saat ini dan tuntutan nasional dalam menjadikan subsektor akuakultur sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi nasional yang membutuhkan percepatan untuk mengantisipasinya.

Slamet mengatakan, Presiden Jokowi secara khusus meminta KKP untuk fokus mengoptimalkan industri akuakultur nasional. Secara spesifik bahkan Presiden memberikan target kenaikan ekspor udang sebesar 250% hingga tahun 2024.

Kata dia, salah satu tantangan yang perlu dihadapi saat ini yakni dinamika persaingan pasar perdagangan global yang menuntut kita harus lebih cepat mengambil peluang melalui strategi yang efektif.

"Kita juga dituntut untuk memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan devisa ekspor", tegas Slamet.

KKP telah menyiapkan berbagai program yang arahnya untuk pengembangan industri budidaya yang berorientasi ekspor dan untuk menopang ketahanan pangan nasional.

Berbagai program tersebut yakni pengembangam kawasan budidaya udang berkelanjutan, kawasan budidaya rumput laut, kawasan budidaya patin, kawasan budidaya ikan hias, membangun dan mengembangkan industri perbenihan melalui pusat induk dan benih (Broodstock Center), penataan sistem logistik benih dan pengembangan pakan mandiri berbasis maggot.

Disamping itu, KKP akan terus mendorong program lainnya yakni bioflok, minapadi, pengembangan RAS, Gerpari dan rehabilitasi kawasan.

Slamet menambahkan, khusus untuk pencapaian target ekspor udang sebesar 250%, KKP telah mendorong pengembangan kawasan budidaya udang berbasis kawasan di berbagai daerah melalui model kerjasama dengan Pemda setempat.

"Kita telah melakukan model pengembangan budidaya udang berkelanjutan berbasis kawasan di berbagai daerah dan hasilnya sangat memuaskan dengan produktivitas mencapai 40 ton per ha.

Daerah tersebut antara lain di Pasangkayu-Sulawesi Barat, Kabupaten Buol-Sulawesi Tengah, Aceh Tengah. Model ini akan terus kita adopsi di daerah daerah potensial terutama di Indonesia bagian Tengah hingga Timur", imbuhnya.

Untuk menghadapi dinamika persaingan pasar global yang semakin ketat, KKP terus mendorong penguatan daya saing produk akuakultur yakni melalui konsistensi penerapan prinsip Good Aquaculture Practices (GAP).

Indonesia saat ini masih tercatat sebagai negara dengan kepatuhan yang cukup baik sehingga hingga saat ini belum ada penolakan terhadap produk akuakultur di negara buyer.

Disamping itu, KKP akan terus bekerjasama dengan AP5i untuk meningkatkan kualitas produk, memperkuat pasar dan membuka peluang ekspansi pasar baru guna memastikan produk asal Indonesia bisa masuk.

"Saat ini tim audit dari Uni Eropa akan melakukan penilaian kesesuaian di lapangan untuk memastikan konsistensi dalam menerapkan GAP. Tentu kita berharap tidak ada temuan mayor, sehingga produk kita tetap diterima", ungkap Slamet.

Komoditas lainnya yang akan didorong dalam waktu dekat menurut Slamet yakni patin. Permintaan patin dari Arab Saudi belum bisa terpenuhi 100%, oleh karenanya KKP akan bangun industri patin incorporated di daerah Merah Mata, Sumatera Selatan.

Upaya lain yang akan dilakukan di hulu, yakni terus meningkatkan efesiensi produksi dan meningkatkan daya saing produk dengan memanfaatkan semua hasil komoditas untuk bisa diolah menjadi nilai tambah.

"KKP juga tengah mendorong pengembangan budidaya kobia yang bisa digenjot untuk orientasi ekspor. Kobia ini unik karena produknya bisa didiversifikasi seperti untuk industri tas, sabuk, dompet dan olahan makanan. Perlu diketahui, fokus pengembangan kobia ini bukan berarti komoditas lain terabaikan,” tutupnya. (rhm)

Rekomendasi