Gubernur Koster Sebut Infrastruktur Tertinggal, Tak Sebanding Nama Besar Bali

Jumat, 14 Februari 2020 : 21.00
FGD Rencana Pengembangan Benoa Maritime Tourism Hub di Inaya Putri Nusa Dua Bali, Kamis (13/2/2020)
Denpasar- Dibandingkan nama besar sebagai destinasi pariwisata dunia sektor infratruktur di Bali masih tertinggal jauh.

Gubernur Bali I Wayan Koster menyatakan, kini Bali giat membangun infrastruktur, karena sektor tersebut sangat tertinggal tak sebanding dengan nama besar Bali sebagai destinasi wisata dunia.

Infrastruktur darat, laut, udara sedang dikebut terutama untuk menipiskan ketimpangan utara-selatan. Koneksi akan dibangun lewat jalan lingkar Bali, shortcut, kereta api, LRT.

Bali sebagai salah satu destinasi pariwisata terbaik di dunia dengan berbagai keindahan alam, budaya serta masyarakatnya ramah.

Untuk itu kegiatan pariwisata tidak hanya daratan aja yang dikembangkan namun Bali juga dirancang jadi gerbang wisata maritim indonesia. Bisa jadi Trigger percepatan bali baru sesuai  visi pembangunan Bali berdasar Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Wayan Koster pada acara FGD Rencana Pengembangan Benoa Maritime Tourism Hub di Inaya Putri Nusa Dua Bali, Kamis (13/2/2020) malam.

"Bali selama ini menyumbangkan devisa yang besar untuk Indonesia dari sisi pariwisata, namun sampai sekarang belum ada timbal baliknya untuk Bali," ujar Koter.

Bali juga termasuk 6 besar tujuan kapal pesiar di Asia. Bali jadi primadona. Kementrian komitmen penuh untuk meningkatkan kunjungan wisata sebagai bagian nawacita presiden dan sesuai juga berdasar

Sebagai penyumbang devisa terbesar pariwisata di tingkat nasional dengan  39 persen total wisman indonesia masuk melalui Bali kata Koster.

Jika kondisi ini dibiarkan, akan terjadi masalah besar kedepan, beban pariwisata tak diimbangi perbaikan infrastruktur hingga pelestarian lingkungannya.

“Titik lokasi wisata di Bali sudah dipetakan pemerintah pusat sejak dulu, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” kata alumni ITB ini.

Pengembangan benoa dengan terintegrasi dan kontekstual namun tak lepas dari kearifan lokal.

"Kebetulan pak menteri BUMN punya selera dan pemikiran yang sama demgan saya mengenai benoa. Rancangan ini sudah dibahas dan digodok dengan matang,” imbuhnya.

Menteri BUMN Erik Thohir mengatakan tidak mungkin BUMN bekerja sendiri untuk mengembangkan pelabuhan Benoa. Ia memastikan proyek strategis didasari strategi bisnis jelas dan feasibility jelas.

“Kita tidak ingin proyek pengembangan kita jadi proyek mangkrak. Bali adalah jantung pariwisata indinesia Namun lama-lma akan ada titik jenuh. Ada gempuran daerah dan negara lain di sekitar. Kita harus pastikan Jantung ini harus terus berdetak,” terangnya.

Turis sekarang terus berkembang. Tidak hanya lewat udara, tapi juga laut. Indonesia ingin membuat wisata maritim, namun infrastrukturnya belum ada.

“Kita langsung sidak bersama Pak Gubernur. Realita di Benoa lokasinya tidak diproritaskan pada turis. Berdampingan peti kemas, ikan, dll. Secara lingkungan sangat tidak sehat. Menyedihkan jika di Bali, 80 persen penumpng kapal pesiar tidak turun, hanya Lewat buang sampah. Tidak ada value ekonominya," tukasnya.

Kata dia, harus dipikirkan ruang Pelabuhan Benoa. Menata dengan konsep-konsep pembngunan dan ekosistem yang jelas. Kearifan lokalnya tercermin, sesuai keinginan pak gub. Nilainya hampir 5 Triliun Rupiah.

Direktur Pelindo III Doso Agung menjelaskan rancangan pengembangan Benoa ini merupakan ide Menteri dan Gubernur Bali. Menurutnya, Pelindo hanya menjadi koki yang meramu keinginan pemerintah.

Menurutnya, perlu ada pelabuhan interchage/ transit yang lebih baik, untuk cruise/kapal pesiar. Memisahkan area tourism dengan area pelabuhan barang. Merubah konsep masterplan Benoa, memperhatikan eco tourism hingga stand UKM. (rhm)

Rekomendasi