Bordir Duplikasi Marak, Putri Koster Minta Motif Songket Dipatenkan

Minggu, 09 Februari 2020 : 08.24
Ketua Dekranasda Bali Putri Suastini Koster  saat mendampingi Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian dalam kunjungan ke bengkel kerja Tenun Ikat Endek dan Songket di Denpasar/ist
Denpasar - Maraknya bordir dan printing yang menduplikasi motif endek maupun songket jelas merugikan perajin karenanya karya mereka agar harus dipatenkan agar tidak gampang dijiplak.

Ketua Umum Dekranasda Bali Putri Suastini Koster  menegaskan hal itu saat mendampingi Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian dalam kunjungan ke bengkel kerja Tenun Ikat Endek dan Songket, Sabtu (8/2/2020).

Lokasi dikunjungi Pertenunan Endek Patra milik I Gusti Made Arsawan di Bale Timbang, Penatih dan Baliwa Songket Collections milik I Ketut Ardenan di Banjar Abian Nangka Kelod, Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur.

Putri menyampaikan, Pemprov Bali melalui beberapa regulasi tengah mengintensifkan upaya pelestarian kain tenun ikat tradisional yang merupakan warisan adiluhung seperti songket dan endek.

Upaya pelestarian ini guna mengantisipasi sejumlah tantangan antara lain maraknya produksi kain printing dan bordir yang menduplikasi motif songket atau endek.

“Jika dibiarkan, ini sangat merugikan perajin yang menciptakan motif songket atau endek karena hasil karya mereka dijiplak. Dengan alasan tekstur kain lebih ringan, masyarakat cenderung membeli kain bordir atau printing,” tegas Putri.

Sebagai bentuk inovasi dan kreativitas, kehadiran kain bordir dan printing tak bisa dibendung. Solusinya, mereka harus menciptakan motif sendiri yang berbeda dari motif endek atau songket.

"Untuk itu, motif songket perlu dipatenkan agar tak sembarangan dijilplak," katanya menegaskan..

Selain maraknya motif songket dan endek tiruan, usaha tenun ikat tradisional Bali juga dihadapkan pada kendala bahan baku benang serta makin surutnya minat tenaga kerja yang mau menekuni keterampilan menenun.

Guna ketersediaan benang, Putri mencanangkan kampanye pemanfaatan pekarangan atau lahan kosong untuk penanaman pohon kapas atau budidaya ulat sutra. Dekranasda akan berkolabirasi dengan TP PKK Bali untuk pemanfaatan lahan pekarangan.

Dalam kesempatan itu, Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian mengapresiasi langkah yang ditempuh Dekranasda Bali dalam pelestarian tenun ikat tradisional.

"Setiap daerah punya kain tenun khas tradisional yang menjadi kekayaan nusantara," tandasnya.

Pihaknya mendukung upaya pelestarian yang dilaksanakan di tiap daerah, khususnya Bali.

Pemilik Pertenunan Endek Patra I Gusti Made Arsawan mengatakan bahan baku benang untuk pembuatan kain tenun sebagian besar masih didatangkan dari luar Bali, bahkan untuk jenis sutra diimpor dari Tiongkok.

Ia berharap ada gerakan hijau dengan memanfaatkan lahan non produktif untuk menanam kapas atau budidaya ulat sutra.

Gerakan ini bisa dimulai dari tingkat desa didukung oleh penerapan teknologi sederhana untuk memenuhi kebutuhan lokal. Selain itu gengsi masyarakat Bali untuk mengenakan tenun khas tradisional perlu ditingkatkan untuk membendung produksi kain bordir atau printing yang meniru motif songket atau endek.

“Kain tenun ikat tradisional jangan diproduksi massal, namun harus dibuat eksklusif,” imbuhnya. (rhm)

Rekomendasi